K E R O K A N

0
364

Oleh: Demang Bogowonto

Meski dunia medis sudah canggih, namun kebiasaan kerokan ternyata masih bisa dinikmati dari berbagai golongan dan strata sosial. Pengobatan ini masih sering diterapkan oleh orang Indonesia hingga sekarang, baik anak kecil maupun orang dewasa.

Budaya kerokan ternyata sudah ada sejak zaman kerajaan dahulu. Bahkan Raja-raja dan petinggi kerajaan Nusantara banyak yang melakukan terapi ini untuk kesehatan.
Terapi ini digemari, karena rasanya yang manjur dan murah tentunya untuk sebuah penyembuhan penyakit.

Ada kepercayaan bahwa koin juga berfungsi untuk menarik roh jahat yang membuat penderita sakit keluar dari badannya, karena roh jahat seringkali dianggap tertarik dengan uang. Semakin merah dan gelap tanda guratannya, semakin parah masuk anginnya.

Cara untuk mengatasi gejala masuk angin yang serupa dengan kerokan tidak hanya populer di Indonesia, tetapi juga banyak disukai oleh orang-orang di negara-negara Asia lainnya. Vietnam menyebut teknik serupa sebagai cao_giodi, sedangkan di Kamboja menyebutnya goh_kyol, di Tiongkok yang terkenal dengan akupunturnya menyebut teknik serupa untuk melancarkan peredaran darah dengan gua_sua, orang Tionghoa memakai batu giok ada pula yang memakai kepingan uang logam atau benda kecil berbentuk bulat lain.

TEORI ALBERT EINSTEIN
Anda pasti tak sadar kan? Kalau waktu kerokan itu sebenarnya Anda sedang mempraktikan rumus fisika Albert Einstein yang paling terkenal, E=MC2?
Sederhananya, rumus ini menjelaskan bagaimana energi itu bisa terbentuk dari pergesekkan antara dua permukaan benda.

Nah walaupun leluhur kita mungkin tidak berpikir seilmiah itu ketika menemukan metode penyembuhan ini, kerokan itu benar-benar menjiwai prinsip ilmiah ini lho.

Menggosokkan uang logam ke kulit secara berulang-berulang itu sebenarnya gerakan gesek yang mampu menciptakan energi. Energi disini berupa panas.

Jadi, ya wajar aja kalau setelah kerokan kamu merasa hangat. Konsep ini sama halnya ketika kamu saling menggosokkan kedua telapak tanganmu. Kalau guru jaman SMA menjelaskan teori ini pakai contoh kerokan, mungkin pelajaran fisikanya bisa nyantol sampai sekarang kali ya?

Bagaimana sahabat, apakah Anda juga menyukai Budaya Kerokan ?
Silahkan menyikapinya.

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaUntukmu Pendusta
Berita berikutnyaIslamic Psikologi (Psikologi Analitik Dr. Jung) : Gay dan Lesbian
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here