SEKEPING HATI AYAH

0
179

Karya: Dewi Istika

Belakangan ini bunda mengeluh, ayah seringkali mengigau menyebut nama “Dina”. Ya, tetangga baru itu memang cantik sekali dan masih single. Tapi aku masih tak percaya, jika ayah punya hubungan dengannya, pasalnya ayah tak pernah merespon sedikitpun godaan Dina. Sebagai anak yang baik, aku hanya bisa menyarankan ibu dan menggodanya agar lebih giat berolahraga lagi, biar awet muda kayak Dina, hahaha.
Aku beranjak berangkat ke Kampus, takkan terlewatkan mata kuliah dosen favorit “bu Muti”. Dosen paling cantik, sabar dan “sesuatu”. Usianya empat puluh tujuhan ke atas, tapi belum juga menikah. Apapun alasannya aku tak berani menanyakannya, tak tega melukai hatinya. Seusai jam kuliah aku merayu bu Muti agar diperbolehkan main ke rumahnya, alasan klise untuk meminjam beberapa buku sebagai referensi tugas. Entah mengapa hati ini merasa terpanggil untuk menghiburnya, sorot matanya yang kesepian membuat jantung remuk redam.

 
Wow! Rumah yang terlalu besar untuk hanya dihuni seorang diri dengan satu pembantu. Perabot yang mahal dan ruang perpustakaan yang unik, banyak sekali origami bintang bergelantungan . Tak heran sih, profesi dosennya hanya sebagai hobi beliau seorang pengusaha real estate.

“Ibu mendesain rumah ini sendiri? Bagus sekali bu, jendela besar ini kalau malam pasti romantis, bisa lihat bintang-bintang di atas sana, ibu penyuka bintang?” Ibu Muti hanya tersenyum, dan menyodorkan dua buku yang kupinjam. Hemm cepat sekali mencarinya, padahal aku ingin lebih lama di sini.

“Makasih ya bu bukunya, lain kali Dinda ingin mengundang ibu makan malam di rumah Dinda, ibu mau?”
“Boleh” jawabnya singkat.
Setibanya di rumah, ayah, bunda dan kakak laki-lakiku sudah duduk manis di meja makan. Yey waktunya makan malam, inilah keluarga kecil bahagia kami. Ayah tak pernah pulang larut malam, oleh karena itu seratus persen aku tak percaya jika ayah ada main di belakang sana. Ayah sangat lucu, suka sekali menggoda bunda yang hobi ngomel ini, dan selalu berakhir dengan tawa renyah seluruh keluarga. Itu adalah kebahagiaan yang takkan pernah sebanding jika ditukar dengan apapun, i love my family.

Pukul dua pagi aku terbangun, keluar kamar dan menuju toilet. Terlihat ayah baru saja keluar dari ruang kerjanya, sepertinya lupa mematikan lampu.

 
Kurapikan beberapa dokumen yang berantakan di atas meja, dan kutemukan kunci dengan gantungan bintang terjatuh di lantai. Tak pernah kulihat kunci ini sebelumnya, mungkinkah ini kunci laci yang yang selalu terkunci selama ini?. Aku segera membukanya dan “klek” laci itupun terbuka. Kutemukan foto usang ukuran 3×4 dengan bingkai figura 4R, serta satu handuk kecil berwarna kuning. Apa maksud semua ini? Siapa gadis kecil di foto ini? Sepertinya dia masih SMP, mungkinkah ini handuknya?. Benarkah ayah punya selingkuhan di luar sana? Dan ini anak ayah, bisa jadi namanya Dina, ayah sangat merindukannya hingga mengigau. Seketika hilang rasa bangga pada ayah.

Kukembalikan semua barang pada tempat semula. Tak bisa tertidur lagi, otak ini penuh dengan prasangka-prasangka buruk. Ya, esok akan kutanyakan langsung pada ayah siapa gadis ini, pasti tidak seburuk justifikasi otak panas.

 
Pagi sekali ibu sudah ribut, ayah demam tinggi, bukan demam seperti biasanya, ayah harus dibawa kerumah sakit. Ayah diinfus dan masih belum tersadarkan diri. Satu, dua dan tiga hari sudah menunggu di rumah sakit. Ya, kupergoki ayah memanggil nama Dina dalam ketidak sadarannya. Aku cemburu, sangat cemburu, air suci itupun terjun bebas dari mata. Benarkah Dina itu saudaraku?. Ya tuhan, kuharap ini hanya dugaan tolol.

Mentari pagi bersinar kembali, giliran kakak menunggu ayah dan aku beranjak ke Kampus. Kutemui bu Muti dan ceritakan semua, tapi bu Muti hanya diam. Ya, aku terlalu jahat, egois, karena menginginkan ayah hanya untukku, dan menceritakan ini pada bu Muti yang selama ini kesepian, tanpa kehadiran orangtua maupun saudara. Kuhentikan tangis, memeluk bu Muti dan pulang dengan sesak yang tak kunjung hilang.

Sesampainya di rumah ternyata ayah sudah pulang dan sadar, kupeluk ayah rindu inipun tak tertahankan. Kusimpan segala kegalauan hati, aku tak perduli, aku tak mau kasih sayang ayah terbagi. Malam itu ayah mengajak bersantai di depan teras rumah, ditunjukannya bintang yang paling bersinar di langit. Diajarinya menyimpan bintang itu di hati, ayah begitu romantis. Tanpa sadar kuceritakan tentang bu Muti yang juga menyukai bintang. Perbincangan kita sangat seru, seperti dunia ini hanya milik kita berdua.

“Oh iya yah, di ulang tahun ke dua puluhku besok, boleh nggak yah kalau aku minta dirayakan kecil-kecilan di rumah. Cuma ngundang satu tamu spesial, ibu Muti, kasian yah bu Muti kesepian, boleh kan yah?” rayuku memanja.

 
“Boleh” jawab ayah, malam berlarut bersama kebahagiaan.
Tiba hari ulang tahunku, ayah, bunda dan kakak sudah bersiap di ruang makan. Tinggal menunggu ibu Muti yang belum datang. “Ting, tong” suara bel berbunyi, yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Kuberanjak ke depan menyambut ibu Muti.

“Silahkan masuk bu, sulit nggak bu nyari alamat rumah Dinda?”
“Lumayan, tadi sempet sedikit nyasar”
Bu Muti mengenakan balutan baju merah campuran orange yang terlihat begitu cerah dan anggun, semakin menambah kecantikannya. Kuperkenalkan pada bunda dan kakak, mereka bersalaman, ayah tak terlihat di ruang itu.

Baca Juga  CINTA SEPOTONG BAKPAU

“Bun ayah kemana?” tanyaku tak sabar.

“Tunggu saja, tadi ke Toilet”
“Itu dia ayah” Ayah keluar dari toilet. Saat ibu Muti dan ayah berpandangan keduanya terdiam dan kaku. Ibu Muti menjatuhkan kadonya, meneteskan air mata dan bibirnya kelu. Tiba-tiba terucap dari bibir ayah “Dina”. Ayah memeluk erat ibu Muti, aku, bunda dan kakakpun terkejut, ayah bertindak seolah tak ada kami. Keduanya saling menangis dan tersenyum, berpeluk erat melepas rindu yang berkarat. Suasana haru itupun pecah saat bunda menarik tangan ibu Muti dan menamparnya “Plak!”. Ibu Muti terjatuh dan tak membalas apapun. Ayah membantu bu Muti berdiri dan membawanya keluar rumah. Bunda dan kakak mencoba menahan, tapi ayah tetap bersikeras meninggalkan kami. Mungkinkah foto usang gadis itu adalah bu Muti? Cinta lama terpendam ayahku? Atau saudara ayah? Jika saudara ayah kenapa harus pergi meninggalkan rumah?. Kuberanjak menyusul mereka dengan langkah gontai penuh tanya dan amarah.

“Dinda, dinda, dinda bangun…” usapan lembut tangan bunda membangunkanku. Syukurlah semua itu hanya mimpi di sore hari.

“Koq malah tidur sore-sore, capek ya? Bantuin bunda siapin makan malam ulang tahun kamu ya”
“Iya bunda, maafin Dinda, kepala Dinda pusing”
Pukul menunjukan 19:00 malam, bel berbunyi tanda tamu datang. Kubuka pintu dan terlihat bu Muti menggunakan gaun yang sama persis dimimpi, jantung berdetak kencang, otak jahat berkeliaran. Mungkinkah mimpi sore tadi menjadi kenyataan? Aku terdiam kaku tanpa senyuman.

“Dinda, hei kamu kenapa?” suara bu Muti dan senyum manisnya memecahkan lamunan.

“Oh iya bu selamat datang silahkan, maaf Dinda terpesona aja bu Muti cantik banget” kucoba membentuk senyum termanis, meski otakku sedang bekerja keras meyakinkan bahwa mimpi itu tak boleh terjadi. Langkah gamang mengiringi bu Muti ke ruang makan, ku kenalkan pada bunda, kakak dan terakhir ayah. Syukurlah tak seperti mimpiku, meski ayah sempat tertegun saat melihat kehadiran bu Muti. Suasana masih kaku karena aku sendiri yang tak bisa tersenyum sepenuh hati, seribu kekhawatiran tak berhenti.
“Selamat ulang tahun Dinda” ucap bu Muti sambil memeluk, dan memberikan kotak besar berbungkus kado orange bergambar bintang.

“Makasih bu Muti, ibu sudah berkenan datang di acara Dinda yang sederhana ini”
Huff, netral-netral Dinda kucoba mencairkan otak dan imajinasi yang menghubungkan kejadian nyata ini dengan rekayasa alam bawah sadarku tadi sore, stop! Dan semua berakhir. Bu Muti, ayah, bunda dan kakak semua baik-baik saja, pesta ini harus meriah. Kutiup lilin ulang tahun dan berdoa “ya Tuhan, jangan pernah ambil kebahagiaan keluarga kecil ini, aamiin”. Kuberikan kue pertama pada bunda yang telah mengandung dan berjasa di hidupku, dilanjutkan ayah, kakak dan bu Muti. Menikamati makan malam yang sederhana dengan hati yang mewah.

Kamis yang manis, aku berkencan dengan kakak tercinta untuk makan di cafe biasa kita nongkrong. Tak hanya dekat dengan ayah dan bunda, kakak laki-laki keren, sekaligus bobygard ini sering memberiku wejangan agar menjadi wanita yang berkelas dan terhormat. Maksudnya biar nggak murahan dan gampang berhubungan dengan sosok lelaki di luaran sana. Dua gelas mocca float dan blackpaper menemani perbincangan kami.

 
Tiba-tiba mata ini melihat dua sosok di depan sana duduk berdua, iya itu adalah ayah dan bu Muti. Minggu-minggu ini aku memang pernah melihat mobil ayah terparkir di kampus, apa memang ayah menemui bu Muti? Kakak juga sempat bertemu ayah dan bu Muti saat jogging di taman dekat komplek sore hari. Sontak aku dan kakak saling pandang, good idea kami menghampiri mereka dan seolah tak ada kecurigaan apapun.

“Ayaaah” seruku.
“Kog ayah berduaan aja di sini sama bu Muti? Dinda sama kak Rey nggak diajak? Bunda mana? Ayah kesini nggak sama bunda?” tanyaku menyelidik.
“Eh kalian” ayah tersedak mereka berdua sedikit kebingungan.

“Tadinya ayah mau ngajak bunda makan di sini, tapi bunda nggak mau, dan kebetulan ketemu bu Muti, jadi sekalian aja”

“Oo’o begitu to yah. Kirain ayah ada main sama bu Muti” celetukku memancing. Raut wajah ayah dan bu Mutipun berubah seperti terbakar pedas.

“Kemarin Rey juga seperti melihat ayah tu di taman dengan seorang wanita, itu bu Muti juga ya yah? Rey lagi sama teman-teman jadi Rey nggak bisa samperin ayah” sambung kak Rey menyelidik.

 
“Ehmm, sebenarnya bu Muti sama ayah kalian ini dulu satu kampung di Surabaya, dan ibu nggak nyangka bisa bertemu ayah kalian di Jakarta setelah berpuluh tahun lamanya. Dulu kita ini bersahat Dinda” jelas bu Muti.

“Lho kog Dinda nggak pernah tau kalau ayah berasal dari Surabaya? Emang Dinda nggak punya nenek dan kakek di sana yah? Kenapa selama ini kita cuma ke Lampung?”

“Itu karena ayah sudah tak punya kerabat di sana, ayah sudah seorang diri sejak bertemu bunda, sejak menikah dengan bunda hingga sekarang ayah tak pernah kembali ke Surabaya”
“Emmm, ok!”

Seminggu berlalu, gelagat ayah berbeda, ibupun terlihat sedikit murung dan kurang bahagia. Aku menggelendot seperti anak kecil dan berakhir tidur di pangkuan ibu, menikmati siaran tv berdua saja. Ayah dan kakak belum pulang, ayah belum ada kabar, sedang kakak memang sedang ada tugas yang harus dikerjakan di rumah temannya.

Baca Juga  Si Cantik

“Bunda, bunda kenapa sih belakangan ini jarang ngomel?” pertanyaan nyeleneh itupun mampu membuat bunda tersenyum. Tanpa memberi sebuah jawaban bunda hanya mengelus rambut hitam panjangku dengan lembut.

 
“Bunda, bunda ngomong dong, bunda lagi mikirin apa sih? Ayah masing sering ngigau Dina ya? Apa perlu Dinda omelin tetangga centil itu bun?”

“Hus jangan! Bunda nggak mikirin apa-apa. Oh iya gimana dosen favorit kamu? Kamu sayang banget ya sama bu Muti?”

“Baik-baik aja bun, belakangan ini malah lebih terlihat sumringah, Dinda jadi udah lega deh. Kemarin Dinda dan kakak katemu ayah dan bu Muti di caffe lho bun. Kata ayah bunda nggak mau diajak ya? Bunda tuh butuh refreshing biar nggak suntuk di rumah, lain kali bunda mau ya. Dinda jadi cemburu aja kalau ayah keluar sama wanita lain, meskipun itu bu Muti” sembari cemberut.

 
“Jadi Dinda lebih sayang Bunda dari pada bu Muti kan?”
“Ih, bunda kog tanya gitu sih? Ya jelas Dinda lebih-lebih dan lebiiih sayang sama bunda” aku terbangun dan menciumi bunda. “Bunda kenapa ngomong begitu?”

“Nggak kenapa-napa, bunda cuma takut kehilangan cinta anak-anak tersayang bunda. maafin bunda kalau selama ini bunda sering ngomel, bunda sayang kalian”

Pukul 12:00 siang aku menuju caffe dekat kampus bersama kak Rey. Dan kami terbelalak melihat tiga orang sedang ribut di dalam kafe, ayah bunda dan bu Muti sedang terlibat percekcokan besar. Bunda menampar berulang kali bu Muti, tanpa sedikitpun pembelaan. Ayah mencoba menenangkan bunda, dan tiba-tiba bu Muti terjatuh pingsan. Kami membawa bu Muti ke rumah sakit, kupeluk bunda menahan tangis yang ingin pecah melihat bunda yang begitu beremosi tapi lemah. Sebenarnya ada apa ini? Kubawa bunda pulang ke rumah, sebab bu Muti tak kunjung sadar, dokter bilang bu Muti kena serangan jantung.

 
Sengaja aku tidur di kamar bunda, sebab ayah dan kak Rey masih menunggu di rumah sakit. Ingin bertanya sesuatu pada bunda, tapi takut menambah kekalutan bunda, ini pasti urusan orang dewasa. Tiba-tiba bunda mengeluarkan sebuah foto 3×4 usang berbingkai 4R dengan handuk kuning kecil itu.

“Ini siapa bunda?”
“Itu ibu Muti”
“Maksud bunda?”
“Mutiara Hadinata, nama Dina yang sering dipanggil ayahmu dalam mimpinya. Dia adalah cinta ayahmu yang sejati, cinta masa lalunya yang tak bisa dilupakan, yang membuat ayah sering jatuh sakit karena menahan rindu. Dia adalah ibu Muti dosen favoritmu, mungkin mereka memang tak bisa dipisahkan, cinta mereka terlalu kuat. Tapi bunda tak bisa dengan mudah menyetujui permintaan ayahmu untuk menikahi bu Muti”

“Maksud bunda, ayah mau menikah lagi?”
“Iya, ayahmu memohon untuk menikahi bu Muti, jika tidak ayah rela meninggalkan kita. Bunda merasa tak ada artinya, bunda bukan apa-apa di mata ayah, kehadiran bunda selama ini tak mampu membuat ayah mencintai bunda dengan tulus” tangis bunda pecah.

“Bunda, bunda sabar, Dinda sayang bunda lebih dari segalanya. Dinda juga nggak setuju kalau ayah menikahi bu Muti, Dinda akan selalu bela bunda”

“Awalnya bunda juga berfikir untuk tidak menerima dia, dan memilih untuk bercerai baik-baik. Apa yang dibutuhkan seorang istri jika bukan cinta tulus dari suami? Harta dan yang lainnya tidak ada yang menandingi. Tapi bunda sadar bahwa cinta ayah bukan untuk bunda, selama ini bunda memiliki ayah, tapi tidak hatinya. Mereka saling mencinta, terluka dan memendam rasa selama ini. Bunda beruntung dapat ayah, seorang yang bertanggung jawab dan sayang pada keluarga. Hanya saja bu Muti mungkin memang harus masuk di keluarga kita”

“Maksud bunda apa?”
“Bunda harus rela dan ikhlas menerima bu Muti menjadi bagian dari keluarga kita, ini semua bunda lakuin demi kalian, anak-anak bunda”
“Bunda, aku sayang bunda”
Tiba-tiba ayah datang, bersujud dan mencium kaki bunda. Memeluk dan mencium kami berdua, tanpa kata ayah meneteskan air mata tanpa isak, diusapnya pipi yang basah dan kembali menjadi lelaki yang gagah.

“Maafkan ayah, ayah tak bisa membiarkan bu Muti hidup sendiri di hari tuanya. Karena ayah tau dia tak akan menikah dengan siapapun kecuali ayah. Bunda, terimakasih, bunda benar-benar berhati bidadari. Ayah janji akan berlaku adil, dan ayah hanya ingin kita bahagia”

Kuusap air mataku dan pergi meninggalkan mereka menuju kamar. Masih dengan isak tangis atas pengorbanan bunda. Kebangganku pada ayah menghilang, karena ayah mampu menyakiti hati wanita yang setia mencintai di setiap kekurangannya.

Membangunkannya saat terjatuh, merawatnya saat terluka, dan menguatkannya saat lemah, dan kini ayah membagi cintanya dengan wanita lain. Ayah maaf aku tak lagi membanggakanmu, aku hanya menghormatimu. Dan bunda adalah malaikat penjagaku di dunia ini, tak ada kata yang mampu untuk mengungkapkan rasa bangga dan cintaku untuk bunda, bunda segalanya untukku.

Comments

SHARE
Previous articleTiga Cara ini Lebih Baik daripada Budaya Korupsi
Next articleEgrang: Nilai Pembanding Permainan Modern dan Tradisional
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here