Kopi Pagi di Selatan Ibukota

0
225

Tepat jam 6 aku harus melangkah pergi dari tempat ini. Sama seperti sebelum-sebelumnya. Di tanah yang populer dikenal dengan tanah perjuangan KH Noer Ali dari Kalimalang dan juga Laskar Bhagasasinya ini ada sejuta kenangan. Eraman hidup atau chandradimuka dan getir hidup sudah banyak aku rasakan di tanah ini.

Ibukota sebenarnya tidak yang seseram dibayangan orang awam. “ Hah, paling juga seringnya menahan semua bentuk keserakahan hidup. Dipaksa untuk sedikit mau lapar atau karena ingin berjuang ya prihatin dulu.” Berpindah-pindah tempat, ke kota kenangan ini yang awal ku jejak, di tahun 2007. Di Jembatan Kalibaru ini, semangat 45 dari anak muda yang berbekal ijazah hanya sekolah menengah. Tanpa skill yang berarti dan mengharap untuk bisa hidup gagah dengan bekal gaji bulanan atau status kontrak dari sebuah pabrik di kawasan industri di Cikarang, Pulogadung bahkan perbatasan Karawang sana. Zona-zona yang membuat macam-macam warna diri ini kiranya masih belum cukup untuk meramu atau berikan sebuah kemantapan sikap juga membuat satu tekad yang membara. Biasanya takaran dari orang tua, kerabat dan sebaya ya materi dan kemapanan yang bisa dilihat dari alat-alat indrawi kita.

Hidup adalah pilihan. Kenapa Chairil Anwar yang dengan mantra ajaibnya Karawang-Bekasi mampu menjadi sebuah keabadian. Mengalahkan perikehidupan dan tema sosial semuanya. Tanpa intrik dan taktik politik yang berarti. Pengorbanan jiwa dan korban dari rakyat yang begitu banyak. Pun semuanya sama, jika merujuk pada kata “Hidup adalah Pilihan.” Ini adalah sebuah konsekuensi yang logis adanya.

2 Gelas kopi utama dan beberapa selingan makanan pagi ini, kembali meninabobokkan ku. Dengan sebuah dialektika yang panjang. Diskusi sahabat yang baik. Bagaimana perjuangan dari seorang anak manusia. Dicoba dan dipaksa atau memang sudah menjadi sebuah suratan. Di kota yang diharap-harap akan membuat perubahan hidup. Gerbang baru kebaikan ini ternyata sampai sekarang, 8 tahun genap belum bisa memberikan dampak berarti atau apa yang diharap.

Baca Juga  Banyak wilayah Indonesia terdeteksi WannaCry

Jangankan papan, Pelabuhan jiwa pun juga belum didapat. Sedikit remah syukur Nya pun masih ada. Pasti. Jika dilihat dari macam-macam akibat dan efek yang mengumpul dari fase sebelum 8 tahun sampai sekarang.

Ikut berbagai macam komunitas keilmuan dan kelompok yang tentu saja membuat otak ini dapat vitamin, pergumulan hidup dengan berbagai macam orang. Dari kuli pabrik, anak kuliah, bakul kacang, Forum Kampung lokal dan banyak lainnya.

Karya pertama yang hadir 2 tahun kemudian, tepatnya 2009 pun ada karena di kota ini. Kekuatan semesta yang mendukung adanya sebuah keinginan dan hasrat kuat dari otak ternyata mewujud di Kota Sejuta Buruh ini.

Pelampiasan diri, pemerkosaan jiwa, hibernasi dan lainnya melarut menjadi satu. Jadi satu wadah dan tatag seperti sekarang ini. Profesi sembarang, pengebirian hasrat atau kesedihan yang mendalam dan cemburu karena sakit yang mendera hebat. Semua negatif positif dan aksesnya begitu nyata. Kadangkala pekat.

Doa dari Ibu. Yang kiranya bisa menjadi sayap bidadari. Pemberi sebuah keajaiban yang mutlak. Sahabat yang bertambah dan melebihi kebaikan dari saudara sedarah. Semua mengejawantahkan: “Bahwa nikmat Tuhan masih ada.”

Puluhan. Nasehat dari Guru-guru kehidupan begitu nyata dan dekat di sini kudapatkan. Macam-macam elegi, sentuhan batin dan bahkan sedikit romantika ada. Kurasakan.
Mereka semua begitu cinta, sayang dan ada doa yang baik kepada hamba.

Baca Juga  Donor Darahlah, Sebelum Tuhan Memaksamu

“Kelemahan kamu kalau tak kuliah adalah tidak menguasai teori ilmu sosial humaniora tentang strukturalisme, dan kekerasan struktural. Yang kuliah S-1 saja bodoh-bodoh, apalagi kalau tidak. Kecuali kau baca buku buku bahasa Inggris kayak Goenawan Mohamad !!!
“Apakah dia perduli kamu? Aku kuatir dia tak perduli. Itu harus jadi mawas diri buatmu dan semangat kita untuk BELAJAR TERUS harus nyala !!!”

“Jangan menyerah. Namun jangan juga tak belajar bahasa Inggris. Ini sudah setahun kau kenal aku. Harus belajar kayak Emha Ainun Nadjib itu.” Tutup dikau.

“ Dik, ikut saja sama Beliau. Dia kan baik sekali. Dan sakit-sakitan juga sekarang. Kau bisa ikut menulis skenario dan banyak lainnya.” Sahabat ku yang lain bilang.

“Singgahlah ke kostku dan kita bisa main ke Taman Ismail Marzuki dan banyak lainnya. Banyak sekali hiburan-hiburan buat jiwa.”

Sambutan hangat dari para sahabat yang baik. Yang tak pernah henti sapa dan doa terbaik. Tapi kadang masih sedikit ada gundah mendera. Kapan semuanya ini akan menemukan muara yang sebenarnya?

Apakah ini yang benar-benar sejatinya sebuah gerbang dari Nya? Perjalanan baru akan dimulai dari sini. Dan penantian panjang itu juga akan segera berakhir?

Lagi-lagi kota ini memberikan semuanya. Tampak jelas dan terurai nyata. Sebuah kaca jiwa yang jelas. Sembarut luka, mozaik cita dan angan yang panjang seperti halusinasi berpadu menjadi satu di sini.
Kota ini masih baik dengan ku.
Sama seperti kalian.
Sahabat-sahabat terbaik dan doa yang baik pula.

Photo: flickr.com

Comments

SHARE
Previous articleEgrang: Nilai Pembanding Permainan Modern dan Tradisional
Next articlePurworejo Kota Sumber SDM Berkualitas
Tiada hari tanpa inspirasi”.Jadi pemuda haruslah menginspirasi,unik dan bisa berkarya.Jangan standart dan kebanyakan saja.Ini yang jadi pijakan pemuda kelahiran Purworejo 30 Jully lalu.Menulis,jalan-jalan,diskusi adalah minatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here