Tedak Siten: Prosesi Selamatan si Kecil

0
2063

Karya: Feri Kumala Sianida

Tedak siten merupakan salah satu acara selamatan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Tedak siten dikenal sebagai upacara turun tanah, tedak artinya turun sedangkan siten berasal dari kata siti yang berarti tanah. Tradisi ini dilakukan saat si kecil berusia 7 bulan dari kelahiran dalam perhitungan pasaran Jawa. Satu bulan dalam hitungan Jawa yaitu bejumlah 36 hari. Jadi 7 bulan dalam kalender Jawa bagi si bayi setara dengan 8 bulan kalender masehi.

Prosesi tedak siti dimulai di pagi hari dengan serangkaian makanan tradisional berupa jadah tujuh warna. Makanan ini terbuat dari beras ketan yang dicampur parutan kelapa muda ditumbuk menjadi satu dan bisa diiris.
Beras ketan diberi warna merah, putih, hitam, kuning, biru, jingga, dan ungu. Jadah ini sebagai simbol kehidupan bagi si kecil. Sedangkan warna warni menggambarkan hidup yang harus dilalui si kecil kelak.

Baca Juga  Cukup Bandara Sepinggan Saja

image

Penyusunan jadah dimulai warna hitam ke putih sebagai simbol bahwa masalah berat pasti ada jalan keluar.
Makanan tradisional lainnya yaitu tumpeng dan perlengkapannya serta ayam utuh.┬áRangkaian acara tedak siten dilanjutkan menapakkan kaki si kecil di atas jadah 7 warna kemudian dilanjutkan prosesi naik tangga. Tangga tradisional yang terbuat dari tebu jenis “arjuna” dengan dihiasi kertas warna warni ini melambangkan agar si bayi memiliki sifat kesatri si Arjuna.

Baca Juga  Tradisi Suran Yang Masih Bertahan

Prosesi selanjutnya si kecil dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang dihiasi kertas warna warni . Proses ini menyimbolkan bahwa kelak si kecil akan dihadapkan dengan pekerjaan yang bermacam-macam. Si kecil akan dihadapkan dengan beberapa barang untuk dipilih seperti uang, alat tulis, kipas, cemin, buku, pensil, dan lainnya kemudian dibiarkan menggambil salah satu dari barang tersebut. Barang yang dipilih merupakan gambaran hobi masa depan kelak.

Baca Juga  Tradisi Timba Laor Jadi Ikon Wisata Ambon

image

Selanjutnya ibunda si kecil menebarkan beras kuing (beras yang dicampur parutan kunyit) dan uang logam dengan maksud agar si kecil memiliki sifat dermawan.

Tedak siten diakhiri dengan memandikan si kecil dengan air bunga setaman lalu dipakaikan baju baru. Prosesi pemakaian baju baru inipun menyesuiakan 7 baju, dan pada akhirnya baju ke 7 yang akan dipakai menyimbolkan pengharapan agar si kecil selalu sehat berguna bagi lingkungan.

 

Foto: koleksi google

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaPLESIRAN DI PULAU MATAN
Berita berikutnyaTernyata Purworejo Bukan Lagi Kota Pensiunan?
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Aku seorang wanita yang dilahirkan di Purworejo 23 tahun lalu, namaku Feri Kumala Sianida. Hobiku jalan-jalan sama nulis, dan aku memiliki motto dalam hidupku tak mudah menyerah sebelum mendapatkan apa yang kita harapkan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here