Pandhita dari Bogowonto

0
633

Oleh: Ilhan Erda

 
“Begitu susah menjaga dan mengigit erat pusaka ini. Di zaman sekarang ini.”
Simbah Lan. Begitu aku biasa menyapanya. Kakek yang mempunyai 9 putra-putri dan cucu hampir 40 orang itu seorang yang sangat ideal untuk dijadikan pedoman bagaimana kekuatan prinsip dan jati diri anak muda sekarang dalam menghayati sebuah petuah: “ Jangan goyah dan ikut arus zaman yang kelihatan benar, tetapi belum baik bagimu.”

Lelaki yatim yang dilahirkan di zaman HKS setahun lagi ditutup di kota ini. Peloper pertama diarea kota. Saat pewarta di zaman itu baru beberapa lembar saja. De Locomotive, Tjahaja, Angkatan Bersendjata dll nya.

Bagaimana menularkan literasi dan semangat berperadaban yang lebih baik dengan diskusi dan rajin membaca di zaman yang boro-boro untuk baca. Makan dan bersandang layak pun tiada susah.

“Musholla Simbah mu yang ada dari moyang mu itu tampak tak terawat dan hampir rubuh. Bagaimana Simbah Buyut kakung yang meninggal saat anak-anaknya kecil dan tiada mampu untuk merenovasi Musholla tua ini.”

Banyak kisah dan runtutan hikayat baik lisan dan ditularkan secara berantai ke sepenjuru kampung yang tepat ada di pinggir Bogowonto ini. Bagaimana leluhurku ada perjanjian tukar guling tanah dengan kepemilikan yang sebelumnya ada di dekat Bumi Perkemahan Argo Putera. Dan betapa wingitnya tanah yang tepatnya kini di huni oleh Simbahku ini dan dihuni dengan anak cucunya.

Satarriyah nama pegangan imani dari Simbahku ini. Bagaimana sebuah aliran tariqah yang identik dengan tariqat perang. Karena kebetulan juga Pangeran Jawa, Sultannya rakyat kecil. Pangeran Diponegoro juga menganut aliran ini. Ulama-ulama yang kesohor dengan tariqah ini semisal Ibrahim al Qurani, Syaikh Abdurrauf al-Sinkili, Syaikh Abd al-Muhyi dari Pamijahan dll nya.

Sudah puluhan ribu bacaan dan itikad baik Simbah jalankan takdim dan taat dengan guru tariqahnya ini. Di tengah terpaan zaman yang mendera dan beragam himpitan masalah hidup yang pelik lagi runyam.

Kaku. Konvensional. Kuno atau banyak kata-kata yang identik dengan kekolotan atau khas gaya asuh orang tua terdahulu. Aku masih sangat memaklumi. Bagaimana dengan kondisi 9 anak dan adik-adik yang perlu topangan hidup. Sangat tangguh. Tentu saja ada minus plusnya.

Musholla tua itu tidak hanya menjadi saksi bagaimana setelah adanya perjanjian tukar guling dan secara sah terjadi. Babat alas. Semua wewingit, lelembut mau dan secara damai bisa untuk dihuni bersebelahan dengan leluhur kami dan anak cucunya huni sampai sekarang.

Bagaimana di saat gencar-gencarnya era 1960an ke belakang dan banyak mars-mars, slogan heroik dari partij massa ini menggema dan kadangkala menggedor atau mengganggu peribadatan dari keluarga dan Simbah sendiri. Sama. Paska Kolonel Sarwo Edhi Wibowo muda masuk dan memberangus para pentolan dan jawara partai massa ini lantas memindahkannya ke Buru. Pun toh zaman masih sama tak berbeda jauh.

“Begitu susah menjaga dan mengigit erat pusaka ini. Di zaman sekarang ini.”

Profesi keseharian selain sebagai peloper koran dan penggarap sawah yang tak begitu luas. Tentu saja dengan hasil yang tak bisa dibayangkan besar dan mencukupi sebagai penggarap sawah.

Dari dulu hingga sekarang. Profesi bernama petani yang tak kunjung mendapat perbaikan martabat dan derajat. Ini hanya tinjaun dari dimensi kasar dan fisik saja. Batin atau secara nilai dan kerohanian tentu Simbah punya alasan sendiri atau saking lugunya Simbahku ini. Entahlah.

Beliau mewejang. Agar menjaga erat 5 pusaka waktu tidak lepas dan molor sedikitpun serta berani jujur. Itu saja. Semua ditekankan kepada 9 anak dan puluhan cucu-cucnya.

Ada satu lagi, entah kenapa dari anak keturunan moyang kami tidak ada yang menajdi PNS dan militer. Itu pun terhenti hanya sampai di salah satu anak Siwo kami yang sampai Kolonel dan sampai sekarang tiada ada lagi estafet penerus dari keturunannya. Di Bani besar kami.

“Kita susah untuk dapat materi besar kalau tidak menipu dan korupsi.” Bahkan sampai ada sebuah sindiran seorang sahabat untuk menggambarkan kondisi ini.
Luasnya tanah dengan santai Simbah tukar entah dengan perjanjian atau dibeli sesama saudara jauhnya. Diwakafkan untuk pemakaman umum dan hal lainnya. Memang seyogianya ajaran harta dunia diletakkan di tangan bukan di pikiran begitu nyata diterapkan oleh Simbah dan leluhurnya itu.

Cerita kejayaan dunia. Kesuksesan atau gelimang materi yang banyak muncul bahwa Moyangku dulu adalah sembari mengajar di surau kecilnya yang memang ada di 2 kampung yang dibatasi oleh sungainya para Bagawan dan Pandita sedang bertapa dan samadi ini pun sama.

Mobil, pengusaha genting dan juga sesekali berjualan batik tidak seramai dan sebesar keluarga lainnya ceritakan. Umunya di deretan Baledono belakang Pecinan. Atau kampung-kampung sentra Batik di zaman itu.

Kesahajaan. Topo ngrame. Mungkin bisa diistilahkan begitu oleh para kaum sufistik dan zuhudisme di zaman sekarang. 86 tahun.

Aku masih ingat saat tahun 1940 an kau diberi Gulden, roti tawar oleh keluarga Katholik di pusat kota. Kerja sebagai juru masak di sekolah yang banyak melahirkan tokoh bangsa seperti Otto Iskandar Dinata, Rajo Pamucak dan banyak lainnya.

Kini kau semakin rapuh. Menua. Tubuh pendek dan penyakit yang seakan berebutan untuk bertamu. Menemuimu dan memberi kabar bahwa dunia hanya ibarat “numpang ngombe”. Bahkan ada info yang yang mengatakan dunia adalah 1,4 jam saja dibanding akhirat.

Semoga aku bisa mengikuti jejakmu Mbah. Kesehatan dan doa mustajab demi kebaikan dan keselamatan kami segenap cucu dan keturunanmu senantiasa mengalir.

Tentu saja juga limpahan karunia, keselamatan dan doa baik juga ada untukmu. Karma baik akan datang tentu dengan upaya yang baik dan diawali hal-hal yang baik juga.

 

Sumber Photo: www.flickr.com

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaRahasia Rezeki dalam Kebaikan
Berita berikutnyaSajak-sajak Wayan Jengki Sunarta
Tiada hari tanpa inspirasi”.Jadi pemuda haruslah menginspirasi,unik dan bisa berkarya.Jangan standart dan kebanyakan saja.Ini yang jadi pijakan pemuda kelahiran Purworejo 30 Jully lalu.Menulis,jalan-jalan,diskusi adalah minatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here