Sajak-sajak Wayan Jengki Sunarta

0
552

Derita Kian Melata

di jalanan, derita kian melata
hari-hari penuh duri,
hari-hari penuh racun
menyembur dari mulut bacin
kaum politikus

derita menjalari jelita matamu
lelampu kafe meremang
kau menjelma bebayang
memudar dan samar

di licin pinggulmu
jiwaku tergelincir
malam membeku
dalam botol-botol bir

kaum jahanam membual
mengumbar janji di televisi
derita kian melata di jalanan

gelasku kembali kosong
kau tuang tawamu,
senyummu, rayumu
aku makin mabuk
seperti serangga buta
merayapi bunga perdu

kau yang selalu kehilangan siang
merindui hari kemilau
bau dan debu koran melekat
di dinding kusam
berbaur peluh dan wangi pupurmu

deritamu perlahan mengaliri nafasku
menjalari denyut waktu di urat nadi
tapi, tak usah peduli
kita bercinta saja hingga subuh
hingga embun membasuh
derita yang semayam
di redup matamu

(2015)

Teluk Benoa
-kepada investor serakah-

jika suatu saat aku mati
aku tak perlu kuburan
bakar mayatku dan tebar abuku
di laut tempat aku bisa bercanda
dengan ikan-ikan cahaya,
kepiting, ganggang, ubur-ubur, hiu
dan segala penghuni niskala

namun, jika kau paksa mengubur laut
daerah istirahku nanti
jika kau paksa bikin pulau buatan
bersiaplah aku akan terus gentayangan
di saku kemejamu, di meja kasinomu,
di apartemen, di hotel, di restaurant,
di kolam renang, di villa,
di segala tetek bengek yang kau puja

puahhh…aku akan terus meniupkan mantra
dari jiwa-jiwa nelayan dan pelaut teraniaya
dari jiwa-jiwa kaum jelata yang kau tipu
dari jiwa-jiwa pasrah ibu bumi
aku akan menghisap ubun-ubunmu
dari semestaku

maka, dengan mudah pula bagiku
menenggelamkan daratan buatanmu
sekali hisap hancur pesta poramu
musnah serakahmu

hutan-hutan bakau
berkerumun dalam jiwaku
dan kau hanya sepercik debu
yang sekejab sirna
disapu waktu

(2015)

Negeri Jerebu

jerebu mengepung negeri kami
lebih mengerikan dari tentara atau polisi
sama memuakkan dengan politisi
dan para pelaku korupsi

di halaman rumah kami
bunga mawar dan melati
tampak muram dan kelabu
burung-burung kutilang
tak mampu berkicau
kucing kami meringkuk
di depan cawan air
bulu-bulu indahnya
meranggas perlahan

penghuni hutan telah lama mengungsi
sebagian mungkin telah mati
terbakar atau dibakar
namun kami tak bisa pergi
dari negeri celaka ini

kami tak perlu menyulut rokok
sekadar untuk menghibur diri
sebab sebagian paru-paru kami
telah hangus diberangus jerebu

anak-anak kami sesak nafas
bukan karena asma
kakek nenek kami perlahan mati
bukan karena tuberkulosis

di negeri yang konon kaya raya ini
perlahan kami menjelma jerebu
berhembus bersama angin
memburumu
mengutukmu
memberangusmu
wahai, tuan penguasa
dan kaum durjana!

(2015)

 

BIODATA PENYAIR

Wayan Jengki Sunarta lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Pernah kuliah Seni Lukis di ISI Denpasar. Mencipta puisi sejak awal 1990-an, kemudian merambah ke penulisan prosa liris, cerpen, feature, esai/artikel seni budaya, kritik/ulasan seni rupa, dan novel. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media massa dan terangkum dalam sejumlah buku bersama.

Buku kumpulan puisi tunggalnya: Pada Lingkar Putingmu (bukupop, 2005), Impian Usai (Kubu Sastra, 2007), Malam Cinta (bukupop, 2007), Pekarangan Tubuhku (Bejana, Bandung, 2010). Buku kumpulan cerpennya: Cakra Punarbhawa (Gramedia, 2005), Purnama di Atas Pura (Grasindo, 2005), Perempuan yang Mengawini Keris (Jalasutra, 2011). Buku novelnya: Magening (Kakilangit Kencana, Jakarta, 2015).

Beberapa karya sastranya meraih penghargaan, antara lain Krakatau Award 2002 dari Dewan Kesenian Lampung, Cerpen Pilihan Kompas 2004, Cerpen Terbaik Kompas 2004 versi Sastrawan Yogyakarta, Nominator Lomba Naskah Monolog Anti Budaya Korupsi se-Indonesia 2004, Nominator Anugerah Sastra Majalah Horison 2004, Penghargaan Widya Pataka dari Gubernur Bali (2007).

Dia sering menghadiri undangan sejumlah pertemuan atau kegiatan sastra tingkat nasional, antara lain Pesta Emas RI di Taman Budaya Surakarta (1995), Kongres Cerpen Indonesia di Yogyakarta (2000), Panggung Puisi Indonesia Mutakhir 2003 di Teater Utan Kayu-Jakarta, Cakrawala Sastra Indonesia 2004 di TIM-Jakarta, Ubud Writer & Reader International Festival 2004 di Ubud, Festival Kesenian Yogyakarta 2007, Lampung Art Festival 2007, Temu Sastra MPU IV 2009 di Solo, Pertemuan Pengarang Indonesia di Makassar (2012), Temu Sastra Indonesia (TSI) di Jakarta (2012), Borobudur Writers and Cultural Festival di Borobudur (2012 dan 2014), Apresiasi Seni 2015 di NTB dan NTT, Kongres Kesenian Indonesia (KKI) di Bandung (2015).

Hingga kini dia terus menulis untuk berbagai media, menjadi aktivis kesenian, dan bergiat di Jatijagat Kampung Puisi (JKP), sebuah komunitas berkesenian di Denpasar. Dia bisa dihubungi di email: myjengki@yahoo.com.

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaPandhita dari Bogowonto
Berita berikutnyaDrakor (Drama Korea) dan Ekspansi Budaya
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here