SANGKAR-SANGKAR RUPIAH PERAJIN WIRUN

0
399

Oleh: Sri Widowati Retno Pratiwi

REVIENSMEDIA.COM, PURWOREJO – Meski perekonomian mayoritas warganya bertumpu pada sektor pertanian, bukan berarti Purworejo miskin usaha di sektor kerajinan. Bahkan ada satu jenis kerajian yang menjadi potensi unggulan Purworejo , yakni kerajinan sangkar burung. Sentra kerajinan ini berlokasi di Desa Wirun Rt.01/08 Kutoarjo. Salman, salah seorang perajin mengatakan, ”Usaha kerajinan sangkar burung Wirun adalah usaha turun-temurun dari tahun 1960-an. Kalau saya sendiri mulai tahun 1997. Alasannya ya untuk meneruskan warisan para sesepuh. Saya pun sudah meneliti, studi banding ke berbagai tempat dan ternyata usaha kerajinan sangkar burung memang prospektif. Bisa mengangkat perekonomian warga di sini.”

Sejak tahun 1997 itulah Salman terus mengasah kemampuannya dalam memproduksi sangkar burung. Ia berkreasi menciptakan beragam model sangkar burung berdasarkan insting semata. Ia juga mengusahakan bagaimana supaya kerajinan sangkar burung semakin berkembang pesat. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, ia mendapat amanah sebagai ketua koordinator perajin sangkar burung Wirun. “Ada 45 KK yang menjadi perajin, sedang 10 KK lainnya menjadi pengepul. Kalau pemula, butuh modal 500 ribu untuk bisa menjalankan usaha ini. Sementara biaya operasional berbeda-beda tergantung kondisi keuangan masing-masing perajin. Ada yang sanggup hanya dengan 1 juta, ada juga yang harus keluar 10 juta atau lebih. Meski biaya operasionalnya berbeda-beda, rata-rata mereka mampu produksi 10 sampai 15 sangkar burung dalam 3-5 hari per orang”, ungkap Salman.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa proses pembuatan sangkar burung tidaklah rumit. Bahan baku utama, yakni bambu jawa begitu mudah diperoleh dari lingkungan sekitar dengan harga 10 ribu per batang. Kemudian untuk rotan berfungsi sebagai pembentuk bulatan bagian atas sangkar diperoleh secara berlangganan pada pedagang rotan di Solo seharga 22 ribu per kilo . Bahan-bahan lain, seperti papan kayu dan cat juga cukup mudah mendapatkannya di pasaran. Secara garis besar proses pembuatan sangkar melalui beberapa tahapan, yaitu pembentukan, pendempulan, dan pengecatan. Soal model sangkar burung itu bisa bermacam-macam. Umumnya perajin Wirun membuat jenis sangkar burung standar yang tanpa tambahan hiasan apa-apa atau sangkar burung polosan. Meski demikian ada segelintir perajin termasuk Salman yang berkreasi membuat sangkar burung dengan berbagai varasi hiasan gambar atau ukiran. Salman sendiri telah mengembangkan model-model sangkar bergambar naga , pemandangan alam, bunga dan lain sebagainya.

Baca Juga  Bedug Made In Choudori Yang Lestari

image

Salman tidak memungkiri jika faktor warisan begitu memudahkan para perajin sangkar burung Wirun generasi sekarang dalam menjalankan usahanya. “Kerajinan sangkar burung Wirun sudah terkenal sejak lama. Orang dari mana- mana tahu Wirun pusatnya kerajinan sangkar burung melalui getok tular, media massa, internet maupun info di dalam komunitas-komunitas pecinta burung yang mereka ikuti. Jadi kalau memang butuh sangkar burung, mereka langsung datang ke sini dan membeli tanpa kami promosi terlebih dulu. Kami tinggal fokus pada produksi karena konsumennya jelas ada,”ujar Salman. Bahkan ia menegaskan semua sangkar yang telah dibuat para perajin pasti terjual. Tidak ada yang tidak laku. Masalahnya soal waktu saja. Pada saat musim kemarau biasanya sangkar cepat terjual, sedangkan penjualan sangkar saat musim penghujan agak lambat.

Usaha kerajinan sangkar burung Wirun menjadi lebih menarik karena melayani pemesanan produk via telpon dan pembuatan sangkar bentuk customized yang sesuai kehendak pembeli. Soal harga untuk sangkar standar polosan rata-rata 50 ribu. Untuk sangkar dengan hiasan ukiran dipatok 75 ribu ke atas. Harga itu bisa dinegosiasi tergantung hasil kerja atau kerapian dan nilai seni yang ditampilkan oleh perajin.

Sampai saat ini penyebaran produk sangkar burung Wirun telah menjangkau setidaknya 10 kota di seluruh Indonesia. Menurut Salman pesanan sangkar justru lebih banyak berasal dari luar kota ketimbang dalam kota Purworejo. Adapun keuntungan yang diterima para perajin minimal 10 ribu rupiah per sangkar terjual.

Baca Juga  Keset Sabut Kelapa, Karya Kreatif dari Kebumen

Walau secara umum perkembangan kerajinan sangkar burung Wirun cukup baik, namun namanya bisnis tetap ada kendala dan tantangan yang harus dihadapi. Kendala utama adalah ketika musim penghujan tiba. Saat hujan turun, proses produksi sangkar terpaksa berhenti karena bambu sebagai bahan bakunya basah. Di samping itu, sangkar yang baru didempul atau dicat akan lama keringnya. Penggunaan bambu basah dalam proses produksi dan proses pengeringan yang tidak sempurna akan menyebabkan mutu sangkar burung menjadi rendah. Salman bertutur, ”Saya pernah coba mengoven sangkar-sangkar yang belum kering. Tetapi justru rugi karena banyak sangkar yang rusak ketika dikirim ke pembeli. Jelas mereka tidak mau bayar dan mengembalikan sangkar-sangkar yang rusak tersebut. Ya hasil pengeringan bambu maupun sangkar dengan cara dioven itu jelek, tidak sebagus pengeringan alami di bawah terik matahari. Sangkar burung jadi mudah patah dan berjamur.”

Di sisi lain, Salman selaku koordinator perajin selalu mengupayakan berbagai cara agar kerajinan sangkar burung Wirun dari tahun ke tahun makin maju. Salah satunya dengan melakukan langkah ekspor beberapa waktu lalu. Tetapi sayang, langkah ekspor itu terganjal masalah standarisasi kualitas dan kuantitas produk sangkar burung. Pangkal masalah ini adalah karena kerajinan sangkar burung Wirun masih berskala usaha home industry atau industry rumah tangga. Setiap perajin membuat sangkar sesuai kemampuan dan seleranya masing-masing, sehingga hasilnya beragam alias tidak sama. Ditambah lagi banyak perajin yang cepat merasa puas akan hasil kerja mereka sendiri. Mereka berfikir jika membuat sangkar dengan model biasa-biasa saja sudah untung, maka tidak perlu repot-repot bikin sangkar yang lebih variatif modelnya. Oleh sebab itu, Salman berharap di masa mendatang ia dapat mendirikan pabrikan khusus sangkar burung yang sanggup menghasilkan produk dalam kuantitas besar dan kualitas baik yang seragam.

Comments

SHARE
Previous articleVideo: Potret Pendidikan Di Ujung Indonesia
Next articleDalang Legendaris dari Bagelen
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here