PESEPEDA & MITOS KAUM BORJUIS BARU

0
334

Oleh: Paox Iben

[dropcap]S[/dropcap]ebenarnya saya ini penggemar sepeda. Sejak kecil saya suka ikut balap sepeda, mini cross, balap jengki di kampung dll. Jarang juara sih, mungkin karena tidak terlalu serius.

Tapi sepupu-sepupu saya banyak yang jadi pembalap sepeda. Bahkan sekaliber nasional. Sewaktu masih jadi mahasiswa saya juga memakai sepeda. Kebetulan saat itu ngetrend sepeda onthel. Tapi alasannya bukan karena mode atau apa. Lebih karena kere. Hehe.

Kini bersepeda lagi ngetrend-ngetrendnya. Awal bulan kemarin Mas Ganjar Pranowo~Gubernur Jawa Tengah sampai ngluruk ke Lombok untuk pit-pitan. Tentu saja itu sangat bagus, karena selain sehat juga mengurangi dampak polusi.

Tapi rasanya aneh saja. Ketika ke kampung-kampung lalu melihat rombongan para pesepeda menggunakan pakaian warna-warni dengan baju dan celana street seperti mau renang, plus helm, kacamata bunglon dan asesoris lainnya.

Ya. Bersepeda sekarang ini memang bukan sekedar olah raga tetapi sudah menjelma sebagai gaya hidup. Fashion dan gengsi. Pokoknya nggak “borju” kalau nggak jadi goweser. Kata teman saya yang sedang gemar bersepeda dengan para petinggi.

Mungkin dia tak paham apa maksudnya kata/ dan istilah borju itu. Dikira maksudnya tak keren gitu. Masak saya harus khotbah berbuih-buih soal teori kelasnya Karl Marx dll? Ntar dituduh kominis secara membabi-buta pulak.

Sebelum tahun 1990-an, rasanya aneh jika sebuah rumah tidak ada sepedanya. Sekarang ini sepeda sudah hampir punah di kampung-kampung. Penggemar sepeda saat ini justru kebanyakan orang gedongan, kelas menengah dan kaum elit. Kok Bisa? Orang kampung mah ogah. Alasannya sungguh mengejutkan: “Masak kita sudah biasa susah, macul, ngarit, angon, nukang, disuruh kemana-mana ngayuh sepeda. Keringatan. Mambu trasi campur wedhus, Mas”. Beda dengan orang gedongan, biasa naik mobil, duduk dikursi empuk, ruangan ber AC.

Makanya mereka butuh olah raga, refreshing dan sejenisnya supaya hidupnya nggak pucet.
Lagi pula harga sepeda sekarang ini sungguh mahal. Yang biasa saja sudah hampir sama dengan motor. Apalagi yang dipakai para penggede-penggede itu. Minimal harganya 30 juta, bisa sampai 200 juta. Mending dibelikan sapi lah.

Ah, saya sih membayangkan seandainya sepeda itu benar-benar jadi sebuah GERAKAN HIDUP. Bukan sekedar gaya hidup, apalagi gaya-gayaan. Tentu bukan hanya emisi gas yang bisa ditekan dan kemacetan bisa diurai.

Tetapi juga banyak hal baik bisa dipulihkan. Dan semua itu memang harus dimulai dari keteladanan. Misalnya, guru-guru di sekolah naik sepeda, lalu menceritakan tentang sejarah sepeda dan hubungannya dengan letusan Gunung Tambora hingga murid-murid pada kepincut dan para orang tua nggak kelimpungan cari kreditan karena anaknya merengek-rengek minta motor.

Para pejabat ke kantor dengan bersepeda, maka korupsi juga pasti bisa ditekan karena nggak ada lagi saling pamer mobil mewah diparkiran. Dan kalau Ibu-ibu ke pasar atau ke Mall naik sepeda. Sudah pasti akan langsing dan cerah ceria sepanjang hari.

Foto: koleksi google

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaAlong : Kesepian Dalam Kemeriahan Sail Selat Karimata
Berita berikutnyaPenemu Metode Hitung Metris & Suku Bunga Perbankan dari Purworejo
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here