Pandangan Pertama Pada Pontianak

0
438
Kota Pontianak terlihat dari atas (Budi Cesar)

Oleh: Chodri Al-Rosyd

REVIENSMEDIA.COM, PONTIANAK – Wah Pontianak…kota yang belum pernah aku singgahi sebelumnya. Namun siang itu tiba-tiba ada tugas peliputan di luar kota, dan ternyata ke Pontianak. Aku sabagai seoarang yang masih berdarah campuran Purworejo dan Madura sedikit takut akan kejadian masa lampau antara suku dayak dan madura saat mau berkunjung ke Kalimantan. Jantung ini rasanya berdetak dengan kencang, saat tau ingin singgah ke kota katulistiwa tersebut.

Di kota itu sebenrnya aku memiliki kawan yang bekerja di kantor perpajakan, dan menurutnya sudah tidak apa-apa dan aman. Namun tetap karena aku belum sama sekali menginjakkan kaki di kota itu, rasa takut pun tetap menyelimuti.

Akhirnya peswat yang aku naikipun mendarat dengan selamat di bandara Supadio Pontianak. Langkah demi langkah kaki ini berjalan menuju lokasi kegiatan bersama rombongan wartawan MPR RI. Memang saat itu aku mengikuti rombongan MPR RI untuk sosialisasi 4 pilar kebangsaan RI. Sesampai di lokasi yang tempatnya di Kodam Tanjungpura, aku merasa aman karena berada di dalam wilayah militer. Liputan pun berjalan, acarapun sudah dimulai dan tiba-tiba ada sesorang yang tidak ku kenal dan tidak satu romongan, mendekati dan berkenalan denganku. Ternyata dia kontributor dimana tempatku bekerja. Saat berlangsungnya kegiatan, aku sempat dikenalkan dengan waratawan-wartawan lokal asli Pontianak dan rasa takut dan anggapan itu mulai luntur. Ternyata orangnya ramah-ramah dan diluar dugaanku. Akupun juga dikenalkan temenaku sama temenya yang asli Pontianak, orangnya juga ramah.

Hari kedua, saat pagi kita ikut dengan wakil ketua MPR RI pembukaan jalan sehat bersama warga Pontianak, heheh agak lebay sih aku, karena sedikit takut dengan keramaian. Pikiranya dah macam-macam, namun dugaan itupun terbantahkan dan tidak ada apa-apa. Amanlah.

Semua memang diluar dugaanku, dan beda sekali ama yang aku bayangkan. Mereka baik-baik dan ramah. Aku membuktikan saat diajak teman ku untuk jalan-jalan di kota Pontianak dan akhirnya kita berlabuh di tugu katulistiwa, yapss tugu yang katanya ditengah-tengah belahan dunia itu. Aku tidak akan menceritakan tugunya namun pengalaman bertemu warga setempat. Akupun tidak ada niatan liputan, walapun bawa camera, dan cuma rekam-rekam ala kadarnya.

Saat merekam sekitar tugu, ada bapak-bapak yang sedang menjelaskan tentang tugu itu dan aku ikut rekam aja sekalian. Lumayan buat pengetahuan batinku. Bapak itu menjelaskan dengan detail dan menyuruh kami ke titik tertengah yang katanya sudah pindah keselatan dari tugu awlanya. Teman bapak itu yang mengantarkan dan menjelaskan banyak hal. Terlihat bapak-bapak itu ramah dan baik, dan kelihtanya warga asli Pontianak. Namun aku tidak tau suku apa, karena aku pun tidak akan menbahas suku apa itu. Buatku perbedaan suku adalah kekayaan Indonesia dan harus tetep terjaga, seperti semoyan Bhineka tunggal ika.

Hari semakin sore dan aku belum ambil gambar semua, karena menurutku ini menarik sehingga aku niatin bisa jadi berita dan seklian ambil ganbar yang banyak. Namun dalam tugunya sudah terkinci,,yahh batinku.

Tidak berselang lama bapak yang pertama menjelaskan banyak hal, balik lagi padahal dia sudah pulang. Dia balik ke lokasi lagi karena teringat denganku yang belum selesai ambil gambar dan liputan. Padahal dari awal aku tidak berniatan liputan dan tidak mengenalkan diri dari media apa. Namun bapak itu menurutku woow bangeet, baik banget, dan ramah. Saat itu juga batinku mulai tenang dan semua diluardugaanku. Semua baik-baik saja. Kenangan masa lalu antara dua suku itu biarlah jadi sejarah dan tetap jaga persaudaraan, karena kita adalah satu, walapun berbeda budaya, suku dan agama.

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaBuku: Saatnya Bangkit! Seni Mengatasi Kegagalan Cinta dan Kehidupan
Berita berikutnyaEkspedisi Arnawa 1.0
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Pria kelahiran Purworejo, tepatnya di Desa Hargorojo, Purworejo ini merupakan keturunan Bagelen dari Ibu, dan ayahnya sendiri berasal dari Madura, Jawa Timur. Saat ini aktif di Paguyuban Wayah Bagelen (PWB) sebagai Ketua Bidang Humas dan publikasi, dan bekerja di televisi berita pertama di Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here