DKP Lestarikan Budaya dalam Peresmian Jembatan Gantung Desa Sawangan

0
329

Laporan: Muh Khoirudin

REVIENSMEDIA.COM, PURWOREJO – Cuaca tidak bersahabat malam itu. Perjalananku menuju Desa Sawangan Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo sedikit terkendala hujan. Akses jalan menuju ke sana pun cukup ekstrim karena di samping jalan terdapat sungai yang pada waktu musim penghujan arusnya cukup deras. Kondisi jalan yang licin, sedikit terpeleset saja pasti bikin jantung berdebar kencang. Apalagi di malam hari, perjalanan menuju desa Sawangan sungguh memacu adrenalin.

Selasa, 1 November 2016 dalam rangka tasyakuran peresmian jembatan gantung warga desa Sawangan bekerjasama dengan Dewan Kesenian Purworejo (DKP) mengadakan pagelaran wayang kulit. Kurang lebih pukul 20.30 wib setelah melakukan perjalanan panjang dan menegangkan aku sampai di desa Sawangan. Belum terlambat rupanya, karena acara tasyakuran baru akan dimulai. Aku pikir beberapa season sudah terlewatkan karena waktu sudah cukup malam. Ternyata tidak, terlihat pembawa acara sedang akan bersiap untuk tampil memimpin jalannya acara tasyakuran malam itu.

Tidak lama kemudian beberapa pejabat pemerintah pun memberikan sambutan. Kepala Desa Sawangan menyampaikan terima kasih kepada beberapa pihak yang telah membantu proses pembangunan jembatan gantung. Perlu diketahui, material jembatan gantung di Sawangan didatangkan dari luar negeri. Toni Ruttiman warga negara Swiss andil besar dalam pembangunan jembatan gantung ini.
Tiga tahun terakhir
Toni Ruttiman diketahui turun tangan sendiri membangun jembatan di berbagai wilayah terpencil di Indonesia. Dia juga merekrut beberapa tenaga kerja di Indonesia untuk dijadikan stafnya guna membantu upayanya. Salah satu pemuda yang dia rekrut adalah Suntana.

Camat Pituruh Drs. R. Sigit Setyabudi, MM ketika memberikan sambutan berpesan agar warga merawat jembatan gantung yang telah dibangun. Selain itu, beliau juga menghimbau warga masyarakat Purworejo khususnya Pituruh agar waspada bencana. “Purworejo itu menempati urutan kedua untuk daerah rawan bencana se Jawa Tengah. Dan se Indonesia, Purworejo itu no 10. Jadi kita harus meningkatkan kewaspadaan agar dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan,” tutur Pak Camat.

Malam semakin larut, acara pagelaran wayang kulit pun dimulai. Warga cukup antusias tampaknya. Terbukti banyak yang datang menonton malam itu. Dalang Ki Dr. HC Sutarko Hadiwacono dan Ki Parikesit Dipoyono yang membawakan lakon “Rama Tambak Sedalu Natas” memberikan banyak pesan kepada warga. Sesuai dengan telah dibangunnya jembatan gantung di Sawangan Pituruh, lakon tersebut pada intinya menuaikan pesan kepada warga untuk merawatnya. Jika sudah bersusah payah membangun maka kita harus merawatnya dengan baik.

Tidak terasa hari sudah pagi, dalang Ki Parikesit Dipoyono mengakhiri pagelaran wayang kulitnya. Mataku sudah cukup lengket rasanya. Banyak pembelajaran dan hikmah yang dapat diambil dari cerita pewayangan. Selain itu juga tentang bagaimana kita harus melestarikan kesenian leluhur yang sudah tergeser oleh pergerakan zaman. Sudah selayaknya kaum muda mengerti tentang keadaan ini, sehingga banyak upaya yang harus dilakukan demi menjaga dan melestarikan warisan leluhur.

Foto: Nanang

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaUntukmu, yang Selalu Ada dalam Status BBMku
Berita berikutnyaDANAU BIRU KOTA SINGKAWANG
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Pria yang akrab disapa Pinott ini lahir di Purworejo, ia memiliki hobby menulis dan berpetualang. Pendidikan terakhirnya S1 Bahasa dan Sastra Indonesia, serta memilik motto dalam hidupnya " Nikmati hidupmu, karena itu sebuah anugerah".

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here