Deni Junaedi : Berkarya Tak Usah Menunggu Kaya

0
320

Laporan: Budi Cesar

Beberapa hari yang lalu saya sempat diajak teman saya, beliau adalah seorang penulis, Bang Pay biasa saya panggil. Ajakannya berlangsung dalam acara sarasehan bersama seniman, sekaligus Dosen Estetika Institut Seni Indonesia. Dedi Junaedi begitulah nama beliau yang juga sebagai seorang penulis buku. Acara tersebut berlangsung di Canopy Caffe Kota Pontianak, namun sangat disayangkan acara tersebut sangat jarang diminati sehingga beberapa peserta yang hadir adalah sebagian dari pengunjung caffe tersebut.

Menarik sekali, Mas Deni begitulah sapaan akrab pria yang lahir pada tahun 1973 dalam memaparkan presentasinya. Metode chaos and order yang berulang kali Mas Deni bahas pada malam hari itu adalah cara seseorang menawarkan karyanya, chaos dikatakan metode yang sangat apik untuk suatu karya dapat dilihat orang, namun metode ini bersifat negative karena mencoba menghakimi sebuah aspek sehingga memunculkan sebuah percikan api, sebagai pemantik yang kemudian menimbulkan sebuah chaos.

Metode chaos ini saya artikan sebuah metode instan, secara garis besar siapa sih yang nggak akan terhina jika kita menggambar karikatur Nabi, menghujat suatu kaum dengan sebuah karya seni, misalkan saja soal lukisan telanjang wanita, ini sangat controversial, banyak yang bilang bahwa lukisan tersebut merupakan bagian dari seni dan ada yang mengatakan bahwa pornografi yang terselubung. Lain dengan metode order, kebalikan dari sifat metode chaos, metode order merupakan metode yang banyak dilakukan oleh seniman.

Kita berkesenian atau berkarya tidak terbatas pada sebuah batasan, kecuali pada sebuah pandangan hidup, pragmatisme. Karena kebebasan adalah nilai tolok ukur yang tidak bisa lepas dari hal tersebut. Tak heran seorang liberalis beranggapan bahwa berkarya itu tidak usah memikirkan hal lain, berkarya ya berkarya saja. Lain halnya dengan pandangan seniman sosialisme yang mengatakan berkesenian hanya untuk masyarakat. Nah apalagi pandangan seorang seniman muslim yang selalu mengatakan bahwa berkesenian itu hanya untuk beribadah kepadaNya. Mereka selalu berpikir dalam sebuah pertanyaan, “apakah karya yang saya buat ini ada pengaruhnya setelah meninggal?”.

Pada sesi tanya-jawab, ada seorang penanya yang sangat menggelitik hati, dia bertanya kepada Mas Deni, yang kurang lebih dia mengatakan “Saya pikir berkesenian itu butuh intuisi yang sangat dalam guna membuat suatu karya yang maksimal, nah bagaimana sebuah intuisi ini bisa lepas jika kita saat mencoba untuk berkarya kita masih memikirkan dapur kita yang belum ngebul (memikirkan besok makan apa?), pertanyaan saya apakah berkarya itu harus menunggu dapur kita ngebul atau bagaimana mas Deni” Tanya nya.

Mas Deni menjawab, berkarya itu tidak perlu menunggu kaya, atau berpikir besok makan apa. Buatlah karya sebanyak banyaknya agar orang bisa mengenalmu, status seorang seniman, penulis itu bukan dilihat dari pendidikan. Seorang mahasiswa seni tidak pernah berkaya belum bisa disebut dengan seniman, begitu juga dosen budaya, dosen senirupa, jika mereka tidak pernah berkarya dan mengkaji sebuah karya tidak bisa disebut seorang seniman, seorang pelukis atau budayawan. Status seniman, pelukis apapun itu karena pandangan masyarakat terhadap dirinya masing-masing. Nah setelah karya kita dilihat oleh masyarakat dari situlah pundi-pundi keuangan kita akan tertata. Maka jangan menunggu kaya jika ingin berkarya.

Acara berlangsung sekitar 2 jam lamanya, dan ternyata acara tersebut belumlah selesai dalam sebuah konklusi melainkan ada sebuh pertanyaan yang mendebarkan jika dalam berkarya bagaimana hasil karya kita bisa dipertanggung jawabkan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaGeliat Industri kopi Indonesia
Berita berikutnyaRenik Getar
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Pria yang memiliki motto dalam hidup lets life flow like a water Ini lahir di semarang, 20 juni 1987. Berpendidikan SH di universitas negeri semarang. Ia pernah magang advokad pada yayasan bantuan hukum adil indonesia, dan sekarang kerja di KPP Pratama Pontianak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here