Ditipu (Pakai) Toleransi

0
205

Kontribusi: Paox Iben

REVIENSMEDIA.COM, LOMBOK – Malam tadi saya sungguh senang diundang oleh kawan-kawan Gusdurian Lombok & Lakpesdam NU untuk mengisi diskusi di Kedai Araq-Araq Doank Mataram. Mendedah lagi soal Toleransi dan Kebhinekaan yang sepertinya mulai terasa janggal dan getir untuk dikunyah.

Apakah ini ada hubungannya dengan kasus Ahok yang sangat riuh itu? Tentu saja. Diluar urusan lebaran kuda, tunggang-menunggangi dan isu politik kasus A Hok adalah sebuah gambaran nyata bagaimana tarik ulur pemahaman tentang toleransi itu berlaku dalam kehidupan komunal kita saat ini.

Menurut saya, sejak Orde Baru berkuasa dahulu, kata Toleransi ini sebenarnya memang sudah menjadi “bangkai”. Ada, bahkan terlalu sering digunakan, tapi seperti sudah mati dan baunya busuk luar biasa. Toleransi adalah simbol hegemoni negara, dimana harmoni kehidupan komunal menjadi komoditas utamanya. Bahasa propagandanya mewujudkan masyarakat Aman-Tentram-Sentosa.

Rakyat disuruh toleran, dijejali dengan pendidikan moral Pancasila, ditatar P4, tapi negara sendiri sering melakukan pemaksaan dan kekerasan terhadap rakyatnya. Jangankan tak setuju dengan kebijakan pemerintah, bergumam saja tentang kejelekan pemerintah bisa dipanggil Pak RT hingga Pak Camat. Jika ngeyel ya dihilangkan paksa. Toleransi lebih sering digunakan oleh kekuasaan untuk menipu dan menakut-nakuti rakyat, agar nurut sama pemerintah yang korup.

Baca Juga  Sihir Air (Gadis) Sungai Kapuas

Akibatnya, banyak orang menjadi apatis dan tidak peduli lingkungan sekitar. Yang penting hidup aman dan nyaman, peduli amat dengan orang lain. Semua orang ingin cari selamat sendiri-sendiri, syukur-syukur bisa membantu keluarganya. Karena lemahnya ikatan sosial ini. Kolusi, Korupsi, Nepotisme terjadi dimana-mana. Kata Toleransi bergeser, dari saling menghargai menjadi tahu sama tahu.

Ketika Orde Baru akhirnya roboh, bangunan kebangsaan kita memang sudah sangat compang-camping. Konflik sosial dan komunal semakin merajalela. Beberapa kerusuhan berbasis SARA pecah. Negara semakin tidak berdaya. Masyarakat bergerak sendiri-sendiri berdasarkan ikatan komunalitas yang patronistik. Nir aliran, dan tanpa ideologi yang jelas. Masing-masing saling berkompetisi secara tidak sehat.

Karena itu saya termasuk yang kurang percaya bahwa persoalan kegaduhan kasus Ahok itu adalah problem pertentangan Mayoritas-Minoritas, apalagi dikait-kaitkan dengan SARA.

Baca Juga  Kisah Sang Pengantin: Mitos di Ibukota

Apakah sebagian besar orang Islam menentang Ahok? Kenal saja tidak. Ada sekitar 1280 suku di Indonesia. Apa sebagian besarnya peduli soal Ahok? Maka dalam perspektif “budaya” bagi saya persoalan Ahok adalah semacam lomba teriak, nyaring-nyaringan bunyi, adu kuat kegaduhan dan sejenisnya. Ini juga tidak melulu soal ekonomi, atau cita-cita politik. Sebab yang ikut demo tidak semua peduli soal politik dan mereka nggak dibayar atau dapat manfaat apapun dari disi ekonomi. Malah keluar duit sendiri untuk ke Jakarta.

Ini adalah persoalan krisis identitas dan eksistensi. Semacam kegagalan dalam mengidentifikasi diri dalam perspektif keragaman itu. Bahwa ada penunggang gelap semacam kekuatan politik dan para pencari untung lainnya. Tentu akarnya bukan disitu.

Apakah setelah Ahok jadi tersangka, katakanlah sampai di penjara. Pun bila Jokowi tumbang lalu kegaduhannya akan selesai?

Jawabannya tentu ada pada rumput yang bergoyang

Comments

SHARE
Previous articleJalanJalan Asik: Episode Mempawah Mangrove Park
Next articleYaqowiyu, Tradisi Sedekah yang Masih Bertahan
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here