Merawat Nusantara, Merawat Pariwisata Lokal Indonesia

0
257

Kontribusi: Dewi Istika

Atlantis yang hilang itu adalah Indonesia. Bentangan alam yang indah, dengan posisi tepat di bawah garis katulistiwa atau ekuator. Sehingga Indonesia memiliki dua musim yang sangat baik untuk sumber daya alam yaitu, hujan dan kemarau. Bagusnya lagi lama siang negeri kita ini 12 jam, berbeda dengan negara lain yang bisa lebih lama 16 jam atau bahkan 22 jam, bisa juga lebih pendek. Kedua hal tersebut mengakibatkan beragamnya flora dan fauna. Tak lepas juga dengan hutan kita yang beragam, ada hutan hujan tropis yang merupakan paru-paru dunia sebagai pemasok oksigen, sumber kayu serta plasma nutfah. Ada pula hutan musim, hutan mangrove atau bakau, dan hutan sabana.

Alam yang indah bukan hanya hutan, tetapi juga gunung dan lautan. Sangat membanggakan sebab Indonesia memiliki garis pantai terpanjang di dunia nomor dua setelah Uni Eropa dan Kanada. Memiliki 17.804 pulau yang 6.000 di antaranya tidak dihuni. Luas perairan tiga kali lipat dari datarannya yaitu 1.904.569 km2 : 3.257.483 km2. wow! Amazing bukan? Apalagi kini pariwisata yang sedang booming yaitu Raja Ampat Papua yang seperti surga, benar-benar Atlantis telah ditemukan di Indonesia.

Wisata laut Indonesia menyuguhkan ribuan spesies yang menarik untuk dilihat dengan menyelam. Beragam terumbu karang dan jenis ikan yang menakjubkan. Selain itu dapat juga digunakan untuk olahraga surving dan sejenisnya. Panorama yang indah dan udara yang sejuk jelas menambah pesonanya. Wisata gunung juga menyajikan adventure atau jelajah yang begitu menarik. Dapat digunakan untuk olahraga paralayang maupun luncur. Udara yang sejuk dan beragam flora dan burung yang dapat ditemui menambah keindahan.

Selain memiliki sumber daya alam yang luar biasa seperti Atlantis, sumber daya manusia Indonesia juga tak kalah saing. Populasi penduduknya menempati rangking 4 terbanyak di dunia, yaitu sekitar 240.000.000 jiwa. Meski dikatakan lemah sebab terlalu padat penduduk namun sebenarnya populasi yang tinggi ini menunjukan kekuatan pasar. Sebab merekalah yang menjadi pemain pasar, sebagai produsen maupun konsumen. Buktinya begitu banyak produk luar negeri yang menggempur Indonesia, dan mayoritas laris manis. Mereka pun akhirnya tak segan untuk mendirikan pabrik di Indonesia.

Baca Juga  Kerak Telor, Kukuh Si Pedagang Kaos dan Sail Selat Karimata 2016

Di tahun 2016 ini Indonesia telah memasuki era MEA yaitu masyarakat economic asean. Banyak gempuran dana dan sumber daya manusia asing yang berbondong-bondong masuk ke Indonesia, baik mereka yang memiliki skill maupun unskill. Lalu apa akibatnya? Begitu banyak pihak di sana sini, sehingga meningkatkan jumlah pengangguran. Bukan rahasia lagi di beberapa daerah warga asing gencar membeli tanah untuk dijadikan pabrik ataupun hotel dan properti lainnya.

Bukan pula hal yang mustahil jika nantinya tanah Indonesia sebagian besar dimiliki warga asing, atau bahkan warga negara indonesia sendiri hanya mampu mengontrak. Sungguh ironi. Lalu apa yang harus kita lakukan? Mengutukinya? Menyalahkan MEA? Sepertinya tidak! Mari kita berinterospeksi, mrlihat apa kekurangan dan kelebihan kita. Dan ya, benar! Kita memiliki banyak kelebihan sumber daya alam. Sumber daya alam yang bisa kita jadikan destinasi wisata lokal maupun asing. Kenyataannya semua wilayah yang terpencil ataupun bukan, disetiap daerah memiliki potensi pariwisata, tinggal bagaimana kita memanagenya.

Fenomena MEA seperti dua mata sisi pisau, bisa bernilai positif juga negatif. Dan sekarang mari kita anggap bernilai positif. Kita jadikan mereka wisatawan yang candu untuk berwisata di seluruh pelosok negeri. Dan kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Memperindah alam kita, menyuguhkan beraneka budaya kita, dan sejarah yang sangat menarik di mata dunia. Mengolah pariwisata dengan konsep ekologi dan pariwisata. Yaitu mengedukasi pengunjung tentang ekologi sambil berwisata, melibatkan perjalanan ketempat tujuan alam. Meminimalkan dampak yang diakibatkan, membangun kesadaran lingkungan. Memberi manfaat keuangan langsung untuk konservasi, memberi keuntungan finansial dan pemberdayaan masyarakat setempat.

Baca Juga  TERAS CIHAMPELAS, TEMPAT NONGKRONG ASIK DI KOTA BANDUNG

Lalu pertanyaannya, apakah benar wisata kita akan menarik di mata wisatawan asing?
“Percayalah, sangat menarik!”
Percayalah Atlantis yang hilang itu Indonesia, selain sumber daya alam asli yang sudah menarik. Indonesia memiliki beribu ribu suku bangsa. Yaitu 1.128 suku bangsa (manurut Badan Pusat Statistik) yang memiliki adat istiadat dan keragaman budaya. Hal tersebut membuat kita memiliki wisata kuliner yang beraneka, pakaian khas setiap daerah yang berbeda, lagu-lagu daerah, tarian, alat musik, wayang kulit, batik, dan angklung.

Terlebih angklung yang sejak 9 Juli 2011 telah mendunia. Daeng Udjo dari saung angklung Udjo mengenalkan angklung di kanca Internasional dan mencatat rekor dunia “Guiness World Record” di Washington DC, AS dengan memainkan angklung dengan peserta 5.182 orang yang multi bangsa. Sungguh mencengangkan! Sebab di negeri sendiri angklung kurang mendapat perhatian dari generasi muda. Itu baru angklung belum alat musik lain atau bahkan tarian lainnya.

Pengolahan wisata daerah dengan prinsip ekologi pariwisata mengedepankan kearifan terhadap alam. Mengikutsertakan seluruh masyarakat untuk terlibat sebagai pemandu, pengatur, pembuat kerajian, pelestarian budaya dan adat istiadat. Dan kita harus memperhitungkan SWOT dari destinasi wisata masing-masing daerah. Yaitu strong (kekuatan wisata alam, budaya, sejarah, edukasi, dan kerajinan) weakness (kelemahan) opportunity (keuntungan) dan Theartds (ancaman).

Menggali potensi dengan mengembangkan potensi lokal Indonesia merupakan alternatif untuk masalah saat ini. Berhenti mengutuki k eadaan, nyalakan lilin dan mulailah berkarya kembali.

Foto: Indonesia.travel

Comments

SHARE
Previous articleSensasi Makan Malam Di Tengah Sungai Kapuas
Next articleEksotis dan Estetika, Kemana Hidup Akan Bermuara?
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Sebut saja Dewi Istika, seorang wanita yang lebih senang disebut mompreuner and writer . Ia lahir di Miru, Sekaran, Lamongan, Jawa Timur pada 1 September 1990. Bersekolah di MI Ma'arif Miru, SMP N 1 MADURAN, SMA N 1 LAMONGAN dan menamatkan S1 di Universitas Sebelas Maret Surakarta jurusan Biologi FMIPA tahun 2012. Buku antologi yang pernah ditulis ada sembilan, diantaranya adalah The Power Of Believe, Life Is Never Flat, Kalau Cinta Jangan Nanggung, Tuhan Maaf Aku Belum Siap Berhijab. Sedangkan buku solo yang pernah ditulisnya adalah, Be Your Self And Succes, dan Saatnya Bangkit!; Seni Mengatasi Kegagalan Cinta dan Kehidupan. Tulisan Dewi Istika lebih mengarah pada genre motivasi pengembangan diri secara islami. Ia menulis dengan bahasa remaja yang sering to the point atau ceplas ceplos. Namun demikian ia juga menghadirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tak terduga yang sering diajukan rejama umumnya. Kecintaannya pada dunia tulis-menulis sudah ada sejak kecil, yaitu dengan aktif dan rajin menulis di buku diary, meski akhirnya semua bukunya hilang entah kemana. Saat di SMA ia aktif mengikuti kegiatan OSIS, PRAMUKA,KSI (Kelompok Study Islam), KIR (Karya Ilmiah Remaja, dan MADING sebagai sarana untuk mengeluarkan bakat dan kemampuan. Sedangkan di masa kuliah ia aktif menjadi aktifis di BEM, SKI (Syiar Kegitan Islam), dan HIMABIO (Himpunan Mahasiswa Biologi). Sebelum fokus pada dunia tulis-menulis perbukuan ia lebih dulu aktif dalam tulis menulis penelitian. Dewi merupakan mahasiswa yang cukup aktif dalam melakukan penelitian biologi secara umum maupun spesifik mikrobiologi. Beberapa hasil penelitian yang pernah diselesaikan adalah tentang enzim, pribiotik, teh, dan teknologi tepat guna. Beberapa tulisan yang berkaitan dengan biologi semasa kuliah dapat diakses di blognya dewiistika.blogspot.co.id silahkan di share, atau digunakan sebagai rujukan. Sebab sebagian besar tulisannya ilmiah dan merujuk jurnal ilmiah yang valid. Ia bekerja di lembaga bimbingan belajar primagama semasa mahasiswa. Dan sempat bekerja si salah satu bank BUMN selama dua tahun pasca lulus kuliah. Kini ia yakin memilih profesi ibu rumah tangga, dan menekuni dunia tulis-menulis sebagai syiar dakwah dan mebebar manfaat atau kebaikan sebanyak-banyaknya. Disamping itu ia memiliki beberapa usaha yang baru dirintisnya. Ia tergolong penulis pemula dalam dunia peebukuan, namun semangatnya luar biasa. Jargon yang sering diserukannya adalah "Saatnya Bangkit!" Ia dapat dihubungi melalui E-mail: dewiistika@gmail.com Hp/WA: 081226854584 Facebook: Dewi Istika Fanspage fb: Dewi Istika Instagram: DEWI_ISTIKA Untuk keperluan bedah buku, sharing ilmu dan lainnya yang lebih intens dapat dihubungi melalui WA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here