Fort Rotterdam, Saksi Masa Lalu

0
313

Kontribusi: Ai Nadari

REVIENSMEDIA.COM, MAKASSAR – Awalnya benteng ini bernama Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) yang berbahan dasar tanah liat pada tahun 1415 oleh Raja Gowa ke-9, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’kallonna.

Hingga pada Raja ke-14, Sultan Allaudin, konstruksi benteng ini dipugar lalu diganti dengan batu padas yang didatangkan dari pegunungan karst, Maros. Berlokasi di tepian pantai Makassar sebelah selatan, sekitar 1 km dari Pantai Losari.

image
Benteng ini berbentuk seperti penyu yang akan merangkak ke lautan. Layaknya filosofi Kerajaan Gowa, hidup seperti penyu, hidup di daratan maupun lautan.

Perjanjian Bungayya
Setelah disepakati hasil Perjanjian Bungayya antara Kerajaan Gowa dengan Belanda, yang salah satu isinya menyebutkan bahwa Kerajaan Gowa harus menyerahkan benteng ini pada Belanda. Hingga benteng yang awalnya berkenal juga dengan nama Benteng Panyyua, diganti dengan nama Fort Rotterdam oleh Cornelis Spelman. Nama ini terinspirasi dari daerah kelahirannya di Belanda. Setelah ditempati Belanda, benteng ini beralih fungsi sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.

Baca Juga  MASJID TIBAN JENAR KIDUL

Pengasingan Pangeran Diponegoro

image
Di benteng ini pula Pangeran Diponegoro diasingkan karena dinilai telah membahayakan pihak Belanda. Di gedung paling ujung, Pangeran Diponegoro menghabiskan sisa usianya demi membela tanah air dari penjajah.

Museum I La Galigo

imageimage
Benteng Fort Rotterdam dewasa ini dialihfungsikan sebagai museum untuk menyimpan benda purbakala, sejak zaman prasejarah. Sebut saja kyokken modinger (sisa bahan makanan manusia purba), alat berburu dan meramu, benda-benda masa kerajaan, hingga miniatur kapal pinisi, serta replika Kitab I Lagaligo.

Baca Juga  Road to Siklotok

Epic I Lagaligo yang menceritakan perjalanan Sariwegading menuju Negeri Cina untuk melamar, merupakan kitab terpanjang dengan jumlah 300.000 bait. Kitab ini bahkan 2x lipat lebih panjang dari Ramayana-Mahabarata. Dengan bertuliskan aksara bugis di atas daun lontara, syair I Lagaligo terkadang masih dinyanyikan saat upacara adat Bugis.

image

Matahari Makassar tepian pantai sangat bersemangat siang ini. Sejarah manusia dan peradaban Indonesia tak lepas dari keberadaan Museum ini. Kepada anak muda yang mengaku gaul, jangan lewatkan perjalanan sejarah yang tersusun apik melalui tangga-tangga kayu.

Banggalah dengan warisannya dengan memahami dan menjaga. Bukan hanya melihat lalu meninggalkan jejak.

Comments

SHARE
Previous articleFestival Bogowonto, Wujud Dari Kreatifitas Pemuda Purworejo
Next articleSajak-sajak G. Soedarsono Esthu
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Penulis yang bernama asli Miladani Iing Nadari ini tengah menikmati tugas barunya sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Bumi Khatulistiwa. Sudah ada 14 karya yang lahir dari tarian jemarinya, antara lain Bintaro Spring Tide (Metamind, 2014), Padamu, dengan Sepenuh Hati (Mazaya Publishing, 2015), Sweet Pain of Horoscope (Pustaka Jingga, 2014), dll. Sangat senang bila disapa di FB, Instagram, atau Path dengan akun Miladani I. Nadari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here