Kunjungan & Diskusi Budaya Jawa Sinorowedhi ke Lowano

0
236

Laporan: Ilhan Erda

REVIENSMEDIA.COM, PURWOREJO – Negeri ini sedang sakit secara keseluruhan. Obat dan salah satu harapan ada di beberapa titik-titik pembangkit jiwa dan raga para penduduknya. Ketiadaan kebebasan yang bertanggungjawab, pembodohan di semua lini dan ketiadamampuan untuk bersikap jujur dan apa adanya.

Ethos yang semakin tergerus, otomatis berdikari ekonomi, daulat wilayah dan identitas diri atau kebudayaan bangsa juga tercerabut yang berujung ke degradasi moralitas atau unggah-ungguh.

Kekuatan dan manunggal nya dari Nusantara ini kembali lagi ke komunal atau perseorangan yang memang mungkin seleksi dari Tuhan sendiri untuk memilih, menentukan siapa dari sosok atau sebuah komunal, komunitas yang masih bisa dengan hati bening, lentera jiwa mempertahankan, mengupayakan apa yang memang dibutuhkan oleh bangsa besar ini.

Berawal dari medio tahun 2008, Sedulur Sinorowedhi. Begitu puluhan orang dari lintas profesi, keagamaan dan bahkan strata ini sepakat menamainya. Secara filosofik yang berarti persaudaraan yang sangat erat. Batin yang sudah menyatu jadi satu. Sejatinya persaudaraan.

Di Kampung Baledono di rumah Dananjaya seorang pelukis arang yang juga pelestari ajaran dan tradisi dari Mbah Man, seorang Blandong legendaris Purworejo dan pakar Jawa dari turunan trah Jogjakarta.
Dananjaya bersama sahabat-sahabatnya di generasi pertama Sedulur Sinorowedhi saat itu yakni Aditya, Habib Hasan bin Muhammad bin Yahya, dr. Sofyan Widhi, Eko Kusworo, Teguh Imam, Wahyu Sudrajat, Sudjito, Supriyatno, Ce Asmaragama, Andre Tan, Erick dkk. Dari satu kesamaan hobby yakni pencarian jatidiri serta spiritualisme Jawa.

Baca Juga  FILM DOKUMENTER: SENYAP

image

Lalu disesuaikan dengan minat dan talenta masing-masing sedulur yang ternyata bermacam-macam hobby. Ada yang suka di keris, melukis tokoh spiritual Jawa, tarian dan koreo Jawa dan banyak lainnya. Ratusan kegiatan juga sudah diikuti oleh Sedulur Sinarawedhi seperti berikan bantuan korban longsor Caok, melukis di CFD Alun-alun Purworejo, Pameran UKM Purworejo, Hari Pers Nasional dan lainnya.

Sedulur tersebar di beberapa kota seperti di Kebumen, Purwokerto, Cilacap, Ciamis, bahkan ada sedulur Sinorowedhi di Kota Paris. Dan kegiatan dari paguyuban yang tanpa ketua, tanpa kepengurusan baku ini ternyata bisa langgeng dan awet. Kegiatan selanjutnya juga sudah dibicarakan di internal Sinorowedhi, seperti dimulai dengan kunjungan ke Lowano. Di Kediaman Erwan Wilodilogo, tokoh pemuda Lowano yang sukses menghidupkan Gerebeg Lowano setelah terakhir 1942, penulis buku Lowano dan juga berdiskusi, urun rembug untuk majukan kebudayaan dan hidupkan seni tradisi di Purworejo.

Baca Juga  Cara Jitu Ungkap Kebohongan

Sinorowedhi dengan gelora yang tiada surut. Ikatan dari hati dan kejujuran adalah prasyarat utama. Seperti semua event, tanpa ada yang biayai, dengan kesadaran hati mampu dilakukan secara konsisten oleh Sedulur Sinorowedhi.

Seperi direportase oleh reviensmedia. Com diantaranya kunjungan silaturahmi ke Lowano berlangsung sampai pagi dini hari. Pukul 02.00 WIB. Dan ada beberapa titik temu, satu visi guna memajukan kebudayaan dan tradisi Purworejo.

Maju terus Sedulur Sinarawedhi. Dengan satu tekad paseduluran,mencari jatidiri bangsa dan kembalikan Nusantara menjadi negara yang menajdi mercusuar dunia, negara kuat dan disegani seperti para kerajaan sebelumnya yakni Majapahit, Mataram, Sriwijaya dll nya.

Comments

SHARE
Previous articleSitus Spiritual Kali Pancur Peniron di Pejagoan
Next articleKECIL YANG EKSOTIS
Tiada hari tanpa inspirasi”.Jadi pemuda haruslah menginspirasi,unik dan bisa berkarya.Jangan standart dan kebanyakan saja.Ini yang jadi pijakan pemuda kelahiran Purworejo 30 Jully lalu.Menulis,jalan-jalan,diskusi adalah minatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here