Ngaji Kebhinekaan Bersama TGH Hasanain

0
258

Kontribusi Oleh: Paox Iben

REVIENSMEDIA.COM, LOMBOK – Tidak ada satu obat yang bisa menyembuhkan semua penyakit. Apalagi jika yang diderita itu adalah penyakit mental kebudayaan. Seperti yang terjadi diseluruh penjuru dunia pada era kekinian ini. Di mana gelombang primordialisme, sektarianisme, chauvisme, bertumpang-tindih dengan arus liberalism atau kebebasan tanpa batas.
Justru ketika kemajuan tekhnologi dan komunikasi tengah membuka sekat-sekat yang menjadi jarak interaksi antar manusia.

Gejala apakah ini?

Malam ini saya pun sowan ke TGH. Hasanain Juaini, pengasuh PP Nurul Haramain-Lombok, mengaji kembali tentang aspek-aspek kebhinnekaan dalam perspektif ke Islaman dan kekinian.

Menurut Tuan Guru peraih Ramon Magsasay Award atau Nobelnya Asia ini, Agama memang telah memberi rumusan yang lengkap. Banyak sekali ayat atau riwayat Nabi yang berbicara tentang toleransi maupun aspek2 multikultural tsb, karena Islam memang lahir sebagai Rahmatan Lil Alamin. Namun demikian, usaha kitalah untuk meraih tataran ideal itu sesuai dengan konteks dinamika sosial dan kebudayaan yang berkembang.

Baca Juga  Ternyata, Si Kucing Bilang Boong

image

“Seringkali kita terlena, stagnan, karena merasa telah memegang nilai-nilai ideal tersebut,” ungkap Tuan Guru yang meraih Kalpataru dan penghargaan bergengsi lainnya ini.

“Padahal zaman terus bergerak. Moda produksi sosial kebudayaan juga terus berubah. Dan memasuki abad ke 21 ini, segala tatanan lama akan runtuh. Kearifan-kearifan masa lalu memang akan memberi batu pijak yang bagus, namun itu saja tidak cukup. Kita harus sama-sama belajar merumuskan masa depan yang dikehendaki bersama,” sambungnya, sambil menyitir beberapa pemikiran dari Futurolog Alvin Toffler, James Canton dan para pemikir kontemporer lainnya.

Baca Juga  Anak Muda Indonesia, Harus Meresapi Pesan Wakil Ketua MPR RI ini

“Kedepan Indonesia memang akan dan harus menjadi kiblat multikulturalisme, orang bisa belajar banyak tentang kebhinnekaan dari kita. Namun nilai-nilai baru juga akan terus tumbuh melengkapi apa yang sudah ada. Agama, adat atau tradisi akan mengarahkan jalannya sesuai dengan kondisi masing-masing. Yang perlu kita persiapkan adalah keterbukaan hati dan pikiran yang bersih untuk saling belajar, saling memahami,” pungkasnya.

Keren kan ngajinya? Mari terus belajar merakit masa depan dan memecahkan bom waktu kejumudan.

Comments

SHARE
Previous articleKECIL YANG EKSOTIS
Next articleAids Bagian Hidupku
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here