Urip Iku Urup (Hidup itu Nyala)

0
312

Oleh: Gayatri Muthari

“La Vita è Bella, Bella Ciao.”

Minggu pertama ketika saya berada di Italia, saya diajak jalan-jalan ke Cremona, Milan, dan kota-kota kecil di sebelah utara sampai ke perbatasan dengan Swiss. Saya ingat pernah dibawa ke depan sebuah rumah tempat para pejuang Revolusi Italia bersembunyi dari kaum fasis para pengikut Mussolini. Di Roma, tempat favorit saya adalah jembatan dan sungai di depan Kastil penuh dengan patung malaikat, serta gang-gang kecil di antara bangunan-bangunan tua menuju ke sana, yang akan mengingatkan saya pada kisah Guido (Diperankan Roberto Benigni) dalam film “Hidup itu Indah.” Kalau mengingat semuanya kembali, saya juga mendengar sayup-sayup lagu perjuangan “Bella Ciao.”

Bayangkanlah diri saya sebagai seorang Yahudi seperti Guido. Saya dikirim ke kamp konsentransi yang bentuknya adalah tubuh saya sebagai perempuan. Hatinya selalu ingin mencintai, jiwanya selalu rindu kepada kebebasan, dan pikiran-pikirannya sering kali tidak seirama dengan pandangan-pandangan arus utama.

“Sebagai perempuan, saya pernah merasakan sakitnya karena haid, karena malam pertama, karena hamil, karena melahirkan, karena keguguran, karena menyusui, dan karena Lupus SLE. Sebagai perempuan, saya pernah merasakan sakitnya karena “perkosaan”, karena pelecehan seksual, karena kehamilan yang tak diinginkan.

Sebagai perempuan, saya pernah jatuh cinta, saya pernah mencintai, saya pernah dicintai, patah hati dan terluka karena cinta. Sebagai perempuan, saya pernah disingkirkan, diabaikan, dan diremehkan. Sebagai manusia, saya berpikir. Saya berpikir tentang kehidupan, kata-kata, penderitaan, kebahagiaan, makna-makna, mengapa dan bagaimana, manusia, alam semesta dan sang aku di dalam diri. Tubuh yang lemah, hati yang penuh cinta, jiwa yang perindu, dan pikiran-pikiran yang tak sesuai arus utama, adalah Auschwitz saya.”

Sebagai perempuan, saya pernah merasakan sakitnya karena haid, karena malam pertama, karena hamil, karena melahirkan, karena keguguran, karena menyusui, dan karena Lupus SLE*.
Saya tentu sering bergumul, mengapa saya diciptakan sebagai perempuan, adakalanya saya juga bergumul bahwa saya ingin menjadi laki-laki, dan ingin terbebas dari semua penderitaan akibat dilahirkan dengan tubuh sebagai “perempuan.” Akan tetapi, di lain waktu saya juga merasa bahagia menjadi perempuan dan pernah merasakan semua penderitaan itu.

Sebagai perempuan, saya pernah merasakan sakitnya karena ‘perkosaan’, karena pelecehan seksual, karena kehamilan yang tak diinginkan. Untuk Tuan Dul yang sering menyurati saya di dunia maya ini mengurusi soal hijab saya, dan Tuan-tuan Puan-puan Dul lainnya yang merasa cukup religius, memenuhi kewajiban amar makruf nahi mungkar dan mengamalkan ayat “Al-Ashr”, saya malah sering mengalami pelecehan seksual ketika saya berhijab.

Baca Juga  TNI dan Gerakan Kiri Hari Ini

Ketika saya tidak berhijab sebelumnya, saya hanya sekali mengalami pelecehan seksual, dan ketika saya tidak lagi berhijab sesuai dengan definisi dan pemahaman hijab kalian, saya justru tidak pernah lagi mengalami pelecehan seksual. Saya pernah mengalami pergumulan batin yang berat karena “perkosaan” dan “kehamilan” yang tidak diinginkan” karena doktrin-doktrin agama yang saya anut, karena saya berusaha tetap menjadi seorang yang religius, yang beriman sebagaimana orang-orang seperti kalian. Akan tetapi, satu-satunya hal yang saya sangat takutkan adalah bahwa bukan saya menolak dan menafikan Tuhan, melainkan bahwa saya meyakini bahwa “Tuhan itu kejam dan jahat.”

Sebagai perempuan, saya pernah jatuh cinta, saya pernah mencintai, saya pernah dicintai, patah hati dan terluka karena cinta. – Dalam konteks ini, saya jatuh cinta, mencintai, dicintai dan dilukai karena cinta saya kepada laki-laki. Satu, dua atau tiga orang, berapa pun banyaknya, dan sedikit apa pun tetapi saya tetap bisa mencintai laki-laki meskipun saya pernah disakiti, disingkirkan, diabaikan dan dihancurkan. Apakah bagi saya ini mudah ketika saya memandang laki-laki yang saya cintai sebagai bayang-bayang, “tajalli” atau manifestasi-Nya di hadapan saya? Sebab, ini melibatkan seluruh keyakinan saya, “Sang aku dalam diri” dan kesadaran saya tentang Dia.

Sebagai perempuan, saya pernah disingkirkan, diabaikan, dan diremehkan. –Bukan hanya laki-laki yang pernah menyingkirkan, mengabaikan dan atau meremehkan saya karena saya tidak sama dengan mereka. Saya bisa memasak dan menjahit, berdandan dan mendalami segala sesuatu tentang fesyen, mengasuh anak-anak dan membereskan rumah sangat rapi dan teratur, tetapi saya juga bisa memimpin organisasi, menjadi filsuf, mengembara dari kota ke kota, dan mempelajari semua hal yang menarik bagi saya selain duduk menggosip tentang tetangga sebelah, membicarakan resep masakan atau tas bermerek terbaru, dan mengeluh tentang kehidupan. Dengan semua keterbatasan saya, saya sering duduk memandang ke luar jendela, melihat awan, melihat jalanan, kerumunan manusia dan mereka yang sedang berjalan kaki, kendaraan lalu-lalang, bunga-bunga di pinggir jalan, daun-daun hijau di pohon; kemudian saya merasa begitu asing, begitu terasing dan merasa diasingkan padahal saya begitu akrab, kadang-kala bahkan begitu intim, dengan semuanya.

Baca Juga  Srawung Budaya Nusantara Sebagai Kanal & Delegator !

Sebagai manusia, saya berpikir. Saya berpikir tentang kehidupan, kata-kata, penderitaan, kebahagiaan, makna-makna, mengapa dan bagaimana, manusia, alam semesta dan sang aku di dalam diri. 90 persen orang yang hidup dengan Lupus SLE itu adalah perempuan, tetapi mengapa saya harus mengalaminya, bagaimana saya bisa mendapatkannya, untuk apa saya harus menjalaninya, semuanya terus bergulir dalam pergumulan saya.

Saya “Berada dalam Auschwitz”, dengan guncangan-guncangan yang memukul saya setiap saya mengalami tugas-tugas baru saya dengan tubuh saya sebagai perempuan dan sebagai odapus; dengan para “kapo”** (dan “kepo”) yang menginginkan saya tetap menjalankan atau mengimani hal yang sama seperti mereka seperti mengenakan pakaian sesuai yang mereka anggap benar; dengan sang aku dalam diri yang harus terus-menerus menilai, memilih dan memutuskan, apakah layak dan berguna, apakah saya mampu menyintas dan apakah menjadi penyintas itu memang perlu.

Mungkin saya bisa merekayasa (seperti Guido untuk anaknya di kamp konsentrasi) bagi “sang aku dalam diri”, tetapi mungkin saya juga tidak perlu melakukannya karena pada kedua-duanya yang terpenting adalah memilih akan hidup dan akan mati seperti apa.

Saya sering membatin, “Saya menginginkan kesembuhan menginginkan saya, saya menginginkan kehidupan menginginkan saya, saya menginginkan pria itu menginginkan saya, saya menginginkan Tuhan menginginkan saya.” Saya tidak menginginkan apa yang tidak diinginkan “mereka” karena saya sadar bahwa saya “berada dalam Auschwitz” – yang saya tidak tahu apakah saya bisa keluar, dan apakah perlu atau harus keluar itu juga tidak penting, tetapi saat ini, pada momen ini, saya masih “berada dalam Auschwitz” saya.

Kalau saya harus mati sebagai perempuan, sebagai odapus, atau sebagai manusia yang berpikir tidak sesuai arus utama, maka saya mau memilih mati seperti Guido dengan iringan lagu “Bella Ciao.” Begitu pun kalau saya harus tetap hidup, maka saya juga mau hidup seperti Guido, “dalam Auschwitz”, sambil menyanyikan lagu “Bella Ciao” dan menari.

“Hidup itu indah, wahai Nona Cantik!
Yang memberikan terang harus menanggung terbakar. Sinar matahari bahkan membaur dengan hujan.”

*Kapo: Orang-orang di kamp konsenstrasi yang ditunjuk para tentara SS untuk mengawasi sesama tahanan atau para pekerja di kamp atau melakukan tugas-tugas lain seperti tugas administrasi untuk sesama penghuni penjara ini.

Sumber: FB/Gayatri Muthari
Picture: Viva.co.id

Comments

SHARE
Previous articleSuratku Untuk Presiden
Next articleDUNIA YANG TULI
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here