Wong Agung

0
476

Karya: Ilhan Erda

“Sinting!”
“Dasar wong sinting!”
Simbah ku, Mbah Prawiro mencercau tak karuan jika ada saja entah petugas dari fihak kecamatan atau Departemen Agama mau mendata, dan ujung-ujungnya menanyakan isian kolom agama.

“Kenapa to, kok urusan sama orang lain. Bukannya orang mau berkaca dengan dirinya sendiri.Intropeksi diri. La pikir dirinya sudah benar?”
“Sinting. Dasar wong sinting!”

Mbahku satu ini memang sangat riskan emosinya. Apalagi jika diusik masalah tatarasa dan hal mengenai satu ini. Bukannya tanpa alasan, tapi  dilatarbelakangikarena peristiwa 13 tahun silam.

Saat Camat dijabat oleh Bapak Rahwanto. Beliauadalah pegawai kecamatan mutasi dari daerah lain, tapi masih satu Kabupaten. Dalam sekejap semua warga Kecamatan Balidrana ini simpatik lantas kagumlahkagum kepadanya. Tingkah laku dan kebijakan dalam memimpin manajerial di Kecamatan ini sangatlah beda dengan pemimpin sebelumnya. Di mana sangat-sangat jauh dari kehidupan wajar dan tugas roda pemerintahan dari rambu norma agama.
Pak Rahwanto mewajibkan semua pegawai di Kantor Kecamatan datang tepat waktu. Jam 7 pas, dan 3 jam kemudian harus Salat Dhuha. Bukan tanpa alasan Beliau menerapkan ini.

“Agar sedikit demi sedikit mengikis rasa loba, rakus Mbah. Kalau sudah tertanam “rasa ingat “  keyang Di Atas,  kan dia lama-lama mikir  Mbah?pungkas  Pak Rahwanto ke Simbah.

Simbahku hanya geleng-geleng saja, sambil menghisap tembakau Bendungan1..

Oh ya Simbah selain sebagai orang yang  dituakan di desa ini, mungkin juga se Kecamatan. Karena selain mengembangkan kesenian tradisonal daerah ini, Tari Ndholalak, Simbah juga memimpin  Aliran Penghayat Puspapusara. Yang memang daerah Bagelen ini jadi basisnya. Dan aliran ini adalah tertua se Pulau Jawa.

Simbahku dalam bertutur kata ke sesama sangatlah pelan. Tak pernah menggurui, dan Simbah sangat menjaga satu kata kotor pun agar tak keluar dari mulutnya.

Kulihat saban jam 3 pagi, sebelum Subuh Simbah keluar dan menuju dipekarangan lapang rumah. Beliau tidak melakukan ritual seperti kebanyakan penghayat Kepercayaan lainnya seperti menghadap ke arah matahari terbit, sambil merunduk, dan mulutnya komat-kamit, atau dari kejauhan terlihat sepeti merapal seperti susunan kata-kata Jawa Kuno. Simbah malah kelihatanmelakukan aktifitas seperti orang umum lainnya.Menyapu kandang kambing, dan mengampak, membuat kayu bakar, mengisi air di bak dll.

Tapi mengapa harus di pagi-pagi buta seperti itu,?”rasa penasaranku timbul.
Bapak, sebagai anak tertua dari Simbah pernah berujar, bahwasannya, Amalan yang di lakukan Simbah adalah budaya adiluhung dan sebagai cucu dan moyang kita adalah Nyi Ageng Bagelen2, kita wajib melestarikannya.” ujar Bapak. Tanpa panjang lebar menerangkan apa itu kebiasaan Simbah.

Di seluruh rumah Simbah, tak ada entah  keris, batu bermantra atau apa yang dianggap jimat. Hanya ada batu datar di teras rumah, seperti menhir atau batu persembahan sama seperti yang aku baca di buku sejarah. ”Itu buat tatakan menyembelih daging kambing saja Ngger.”timpal Simbah suatu kali.
Boro-boro ilmu kanuragan. Tubuh Simbah sangatlah kurus, dan mudah sakit.

Tapi ada satu keanehan yang aku lihat dari beliau, yaitu Simbah bisa menebak hari kelahiran seseorang. Saat pertama kali bertemu hanya dengan satu tatapan mata saja. Simbah  juga bisa membaca keinginan atau maksud ikhwal kedatangan orang itu, kalau niatnya buruk. Oh ya, ada kebiasaan yang aku ingat darinya, yaitu  tetap juga melakukan kebiasaan kungkum, atau berendam diri di sungai atu sumber air yang dianggap berdaya.

“Sinting, dasar wong sinting.”
Lah, kudengar kata itu lagi. Sudah ke 3 kalinya ini Simbah ngomong itu.
“Apa orang itu Pak Camat Mbah?”tanyaku
“Dia kan bagus juga sopan apalagi ibadahnya bagus to Mbah?” tambahku
“Memang kamu tahu Ngger jika orang dari luar ibadahnya bagus, sopan, otomatis hatinya juga bagus?”
“Jawab Ngger….”

“Simbah ngalamin 3 jaman penjajahan Ngger.Dulu ada tentara NICA Belanda, dia nanti yang kelak jadi pendiri TNI kita sekarang. Nah sosok itu bisa dijadikan panutan. Dia sudah pinter, mau berkorban,pemikirannya jauh tapi tetap melarat. Padahal sudah belajar sampai Batavia, Amsterdam lo Ngger. Nah,kalau lihat rumahnya di Kaligasan sana mbikin Simbah nangis, karena sudah hampir ambruk.”

“Oh ya ngger, besok Grup Ndholalak kita pentas ke Anjungan Jawa Tengah too? Siapkan semua kebutuhanjuga akomodasinya ya Ngger. Jangan sampai kelewat.”pesan Simbah.

Aku meskipun tak bisa Tari Ndholalak, tetap berupaya melestarikan kesenian khas kotaku ini. Dimana aku kebagian sebagai bendahara dan sekretaris alias seksi wara-wiri. Untuk sekedar tahu tari Ndholalak, adalah tari yang berunsur kata oktaf DO LA LA, dan tariannya mirip dansa Opsir Belanda hanya saja ada sisi trance atau kerasukannya, dan lagunya jugakebanyakan sudah Simbah gubah jadi campursari modern.

“Mbah, Pak Camat sudah menyumbang lho, ini 8 juta rupiah. Duitnya mau dipakai buat apa?”” Sedangkan duit kas sanggar tari sudah cukup Mbah.”
“Pisahkan. Jangan dipakai!”
“Ingat, secuilpun Ngger…”kata Simbah.

Aku kadangkala pusing saat mengimbangi pola fikir Simbah yang tak tertebak. Tapi pasti akhirnya semua orang di rumah. Paklik, Bapak, Ibu juga nurut. Soalnya ujung-ujungnya adalah benar. Sesuai prediksi awal yang Simbah duga.

4 hari setelah pementasan tari di Jakarta, semua rombongan yang pulang. Di jamu meriah oleh PegawaiDinas Wisata Kabupaten. Karena telah dianggap berjasa ikut mempromosikan nama Kabupaten dan membanggakan Kecamatan. Pembukaan sambutan oleh Pak Camat sampai Bapak Bupati. Tapi tak kulihat batang hidung Simbah disana.

Aku sudah mafhum dengan kondisi ini. Simbah jika ada pementasan di sanggarnya yang berhubungan dengan fihak pemerintah, apalagi ikut mengulurkan sumbangan dana, boro-boro Simbah mau berbaur dan menyambut hangat mereka. Kalau di sifat awal Simbah kelihatan ramah. Entah mengapa, ujung-ujungnya kabur diam-diam nantinya. Dan juru bicara perwakilan sanggar seperti biasa digantikan oleh Paklik Pratomo.
Seusai pulang dari penyambutan,sampai rumah kulihat Simbah sedang kerikan dengan Ibu.

“Mbah, tadi Simbah jadi bahan omongan Pak Camat dan stafnya lho, la masak pemimpinnya kok kabur kaya maling saja. Padahal mau di sambut meriah dan ada pembesar, pejabat-pejabat juga.”

“Malu jadinya Mbah…” tukas Paklik Pratomo
Simbah kulihat masih belum menjawab. Menahan sakit karena kerikan Ibu. Kerat, terlihat gurat ronta tulang iga yang kering dan mendekati usia lapuknya jelas tulang menonjol. Tapi rupa Simbah tetap cerah, putih tak terlihat bahwasannya usianya  telahmelampaui 3 jaman .

Tak ada jawaban tampaknya. Dan Paklik Pratomo juga tak menuntut jawaban dari Simbah,. Paklik menaruh rasa segan dan hormat ke Simbah tampaknya.
Pernah Bapak ngomong ada rombongan anak muda dari Jawa Timur, 4 orang yang menemui Bapak dan dikiranya mau belajar  Tari di sanggar, eh ternyata mau menemui Simbah, dan Bapak mempersilakannya langsung.
Dari pembicaran terdengar dari Bapak, Simbah hanya berkata, “Tidak nak, ini hanya cukup terakhir buatku,!”

Bapak sedikit faham dengan pembicaraan itu. Tapi Bapak akan menjelaskannya pada ku besok, dan selalu besok. ”Jika umurmu sudah sampai tahap Bijaksanananti.”alasan khas Bapak  pasti.
Seperti biasa aku sedang menghitung keuangan dan administrasi sanggar, tiba-tiba Simbah memanggilku.

“Apa ada hal penting, yang aku ceroboh dan lalai,?” “Biasanya Simbah cuek dan kalau memanggilku adalah saat mau melinting rokok saja.”batinku
“Ngger, sini Simbah mau jelasin ke kamu, tentang rasa penasaran kamu selama ini ke Simbah. Dan kiranya dengan penjelasan yang terakhir ini kamu akancukup puas dan tak ada timbul keraguan lagi, karena kamu sudah dewasa dan bisa menimbangnya.”

“Kamu lihat Simbah tak pernah lakukan Salat seperti yang Bapak, Paklik, Ibu lakukan tho. Ya mereka benar dan baik Ngger. Kamu tapi tidak boleh mengadili dan merayu bahkan memaksakan seorang yang beda perilaku dan keyakinannya sendiri, apalagi sudah dalam usia dewasa, dan mempunyai tataran kebijaksanaan sendiri-sendiri. Ajaran Simbah ini berasal dari leluhur Bagelen sini, yaitu Kyai Widikusuma, dan Simbah belajar dan terus belajar menjaga lisan, hati dan perilaku. Simbah tidak tahu apa itu agama. Simbah hanya ingin dan bisa supaya Simbah dekat dan tahu bahwa Sang Hyang Kuasa ada dan selalu di jiwa Simbah. Dia selalu menjaga. Jadi Simbah ingin selaras hubungan dengan semua orang,dan alam, tentunya dengan tidak menafikan perbedaan keyakinan Ngger.”

‘Faham kamu…?”
“Jadi akhir dari hidup Simbah mungkin akan meninggalkan kamu, tapi Simbah berharap perilaku dan pemikiran Simbah tetap ada di hati Bapak, Paklik , juga kamu. Dan bisa jadi tauladan. Karena apa?.”
“Karena  Simbah berusaha meleburkan semua isi fisik dan jiwa dari diri, alias moksa. Seperti Nyi Agenglakukan. Begitu Ngger..”
“Berat ya kayaknya Ngger. Simbah ndak akan mewariskan ini ke siapa-siapa kok. Akan Simbah bawa sendiri sampai akhir hayat Simbah,..”
“Masalah dengan Pak Camat, masak pernah Simbah dibilangin, walau halus tapi hati Simbah sakit Ngger.” Apa coba kata Pak Camat, begini ni: ”Simbah sudah sepuh ya benahi diri, jangan diam aja, mbok jadi panutan yang muda. Ajak shalat, zakat gitu mbah. ”La usia sudah bau tanah nggih Mbah.”
“Trus gimana mbah?”jawaban Pak Camat?”
“Simbah sudah mendoakan semoga pak Camat selalu dilindungi Gusti dalam jalankan tugas.” Tak adajawaban atau sanggahan Simbah saat itu ke Pak Rahwanto.”

“Cercauan Simbah hanya gerutuan. Simbah juga punya salah. Lha wong kita bukan malaikat to Ngger.Sama-sama intropeksi diri saja”tambah Simbah
“Jadi agama bukannya berkhotbah. Berkoar-koar ke khayalak di keramaian umum. Tapi adalah menggerakkan lisan, hati agar selalu bertindak selaras dengan semuanya. Sejatinya hidup akan mewujud dengan itu Ngger…”sambung nya.

“Njjih Mbah. Terima kasih. Jadi masih banyak korupsi, maling duit, melacur . Apa agama yang salah apa memang jaman sudah rusak Mbah, atau oknumnya?” aku nerocos.

Hening.
Senyap. Sepi.
“Grook, hroookkk. Hesstt..”
Tertidur pulas kulihat Simbah di dipan jati.Sembari lintingan rokok hampir terlepas sudah
tinggal separo terapit di 2 jemarinya.

Sumber Photo: sejarawanmuda.files.wordpress.com

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaHal Inilah yang Bikin Anak Kota Iri Sama Anak Desa
Berita berikutnyaBENCI RINDUMU
Tiada hari tanpa inspirasi”.Jadi pemuda haruslah menginspirasi,unik dan bisa berkarya.Jangan standart dan kebanyakan saja.Ini yang jadi pijakan pemuda kelahiran Purworejo 30 Jully lalu.Menulis,jalan-jalan,diskusi adalah minatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here