JEJAK CING PO LING DARI KESAWEN

0
652

Laporan: Sri Widowati Retno Pratiwi

Apa yang terbetik di pikiran ketika pertama kali mendengar nama Cing Po Ling? Mungkin banyak yang terkecoh mengira Cing Po Ling merupakan sesuatu yang berasal dari negeri Cina . Namun Cing Po Ling yang satu ini ternyata asli produk budaya lokal Purworejo. Tak lain adalah seni tari tradisional bertemakan keprajuritan dari desa Kesawen, kecamatan Pituruh.

Simun, ketua kelompok seni Tunggul Wulung yang fokus mementaskan Cing Po Ling berujar “Sebenarnya Cing Po Ling tidaklah murni sebagai sebuah tarian. Ini lebih pada semacam reka ulang sepenggal kisah yang dilakoni seorang Demang Kesawen beserta para pengawalnya dahulu kala. ”

Jejak kisah Cing Po Ling berawal pada sekitar abad XVII atau tahun 1800-an. Kala itu Demang Kesawen berangkat untuk mengikuti pisowanan atau pertemuan di Kadipaten Karangduwur bersama tiga orang pengawalnya, yaitu Krincing, Dipomenggolo dan Keling. Untuk mengisi waktu selama menunggu dimulainya acara pisowanan, Demang Kesawen bersama ketiga pengawalnya tersebut melakukan latihan bela diri di alun-alun Kadipaten. Tak disangka, ada prajurit sandi memata-matai gerak-gerik mereka yang dianggap membahayakan keamanan kadipaten dan melaporkannya kepada Adipati Karangduwur. Sang Adipati pun marah lalu memperingatkan Demang Kesawen dan anak buahnya agar tidak mengulangi hal serupa lagi pada pisowanan berikutnya.

Krincing, Dipomenggolo dan Keling juga kena larangan tak boleh lagi mengawal Demang Kesawen. Jika sampai melanggar peringatan itu, sang Adipati mengancam akan memecat Demang Kesawen. Peringatan disertai ancaman tersebut tidak digubris oleh Demang Kesawen. Dia tetap bersikeras untuk kembali melakukan kegiatan latihan bela diri di alun-alun kadipaten bersama ketiga pengawal kesayangannya itu pada pisowanan selanjutnya. Begitu pula dengan Krincing, Dipomenggolo dan Keling. Sebagai pengawal setia, mereka tidak rela membiarkan Demang Kesawen pergi kemana-mana sendirian, mengingat kondisi keamanan waktu itu cukup rawan. Maka kemudian Demang Kesawen mengajak musyawarah dua orang kepercayaannya, yaitu Jagabaya dan Komprang untuk mencari cara agar keinginannya tetap terlaksana tanpa terkena sangsi pemecatan dari sang Adipati Karangduwur.

Musyawarah tersebut akhirnya memutuskan bahwa Krincing, Dipomenggolo dan Keling akan melakukan penyamaran selama mengawal Demang Kesawen. Mereka mengenakan pakaian yang dapat menutupi ciri fisik masik-masing. Krincing memakai pakaian beskap untuk menutupi pusar atau wudelnya yang bodhong. Sementara Dipomenggolo menggunakan topi untuk menutupi benjolan di dahinya. Sedangkan Keling menutupi luka di betisnya dengan memakai celana panjang.

Adapun jurus-jurus bela diri mereka disamarkan menjadi gerakan tarian yang diiringi alat musik berupa terompet, bende dan kecer sambil juga membawa bendera. Peralatan-peralatan ini pun sesungguhnya berfungsi sebagai senjata. Misalnya, kecer yang seperti cakram bisa digunakan untuk menyerang musuh dengan cara dilempar. Terompet bisa dipakai untuk melontarkan tulup atau sumpit yang mematikan dan tiang bendera dapat difungsikan sebagai tombak. Maka ketika kembali menghadiri pisowanan, Demang Kesawen nampak berangkat beserta rombongan kesenian dengan formasi 4 orang penabuh musik, 1 orang kemendir(pembawa payung) , 2 orang pemencak (pelaku gerakan pencak/bela diri) dan Empat orang prajurit lainnya sebagai pengombyong (pengiring). Sepanjang perjalanan hingga sampai ke kadipaten, mereka terus melakukan berbagai atraksi.

Ternyata penyamaran mereka berhasil. Tak satupun orang yang menyaksikan mereka dapat mengenali, mengetahui keberadaan Krincing, Dipomenggolo dan Keling di tengah-tengah rombongan, termasuk Sang Adipati. Bahkan para bangsawan, pembesar-pembesar kadipaten justru kemudian banyak yang tertarik menonton dan memuji atraksi mereka. Sang Adipati pun berkenan. Dia bahkan memerintahkan Demang Kesawen untuk melestarikan kesenian tersebut sekaligus menanyakan apa nama kesenian yang mereka mainkan. Demang Kesawen lantas mempersilahkan Jagabaya untuk menyampaikan jawabannya. Jagabaya menjawab bahwa nama kesenian ini adalah Cing Po Ling. Nama ini muncul dengan menggabungkan beberapa suku kata dari nama ketiga pengawal Demang Kesawen, yaitu “Cing” (Krincing), ”Po” (Dipomenggolo) dan “Ling” (Keling). Sejak saat itulah seni Cing Po Ling berkembang turun-temurun di desa Kesawen. Di kemudian hari muncul tafsiran lain terkait nama Cing Po Ling. Ada sesepuh desa Kesawen yang berpendapat karena seni itu sebenarnya adalah bela diri atau olah kanuragan ala prajurit di mana terdapat adegan perkelahian, maka siapapun yang melihatnya akan menjadi gentar atau takut lalu lari sekencang-kencangnya (Keching) dan sejauh mungkin (Sak Pol-pole) hingga akhirnya jatuh terguling-guling (Ngguling). Dengan kata lain nama Cing Po Ling merupakan penggabungan beberapa suku kata dari kata Keching, Sak Pol-pole dan Ngguling.

image
Kelompok seni Tunggul Wulung sendiri telah terbentuk lama di Kesawen sejak tahun 1957 dan tetap konsisten melestarikan Cing Po Ling. Simun mengungkapkan,” Saya mulai aktif di kepengurusan Tunggul Wulung mulai 1990. Kalau dihitung-hitung era saya ini sudah masuk generasi kelima. Sedangkan jumlah anggota Tunggul Wulung mencakup pengurus dan pemain (17-20 orang) Cing Po Ling totalnya 36 orang. Biasanya kami pentas pada saat perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus di kecamatan Pituruh dan perayaan hari jadi Purworejo di Kabupaten. Sering juga diundang guna memeriahkan acara kirab khataman Al Quran maupun acara hajatan pernikahan. Tetapi perlu diingat kegiatan Tunggul Wulung tidak bersifat komersil. Ini benar-benar murni bertujuan untuk nguri-uri budaya leluhur desa Kesawen. ”Sebagai ketua, Simun merasakan betul betapa masih banyak kendala dalam upaya pelestarian seni Cing Po Ling. Gerakan-gerakan Cing Po Ling yang agak monoton dan durasi pementasan Cing Po Ling yang cukup singkat hanya selama 25 sampai 30 menit saja membuat kesenian ini lambat berkembang. Belum lagi mitos-mitos yang menyelimutinya.

Pernah ada mitos bahwa pemain Cing Po Ling haruslah keturunan dari tokoh-tokoh yang terlibat penciptaan Cing Po Ling. Tentu mitos tersebut menyebabkan regenerasi pemain Cing Po Ling menjadi terhambat. Namun berkat usaha keras jajaran pengurus Tunggul Wulung, anak-anak muda Kesawen kini mulai banyak yang mengikuti latihan tari Cing Po Ling di rumah Simun. Kemudian ada mitos yang mengkambing-hitamkan Cing Po Ling sebagai penyebab terjadinya setiap peristiwa buruk. Kalau ada pemain atau pengurus yang mengalami nasib naas, seperti rezekinya menjadi seret , sering tertimpa musibah, maka yang bersangkutan akan serta merta mengundurkan diri dari keanggotaan Tunggul Wulung. Untuk mengatasi hal ini, tiap sebulan sekali pada hari Kamis Wage atau malam Jumat Kliwon igelar ritual doa permohonan agar seluruh masyarakat desa Kesawen diberi keselamatan, khususnya mereka-mereka yang menjadi anggota Tunggul Wulung. Ritual itu juga dilakukan setiap menjelang Tunggul Wulung pentas, yakni sehari sebelum pementasan.

Kendala lain yang turut mengganjal eksistensi Tunggul Wulung adalah keterbatasan dana. Selama ini operasional kegiatan Tunggul Wulung mengandalkan kas dari iuran anggota yang jumlahnya tak seberapa. Memang terkadang ada pemasukan lebih manakala Tunggul Wulung mendapat undangan pentas di berbagai acara.Tetapi namanya undangan pentas tentu tidak selalu rutin setiap bulan ada alias hanya musiman saja . Padahal selain untuk kesejahteraan anggota, dana begitu diperlukan , antara lain untuk memperbaharui perlengkapan pentas, maupun pengembangan kreasi Cing Po Ling secara umum. Oleh sebab itu, Simun sangat mengharapkan bantuan berbagai pihak demi kelangsungan hidup seni Cing Po Ling yang adiluhung ini . Meski banyak kendala, nyatanya kelompok seni spesialis Cing Po Ling Tunggul Wulung mampu berkontribusi bagi kemajuan kesenian daerah. Tahun 2006 tercatat sudah dua kali Tunggul Wulung mewakili kabupaten Purworejo di event akbar kesenian, yaitu pada ajang Kenduri Budaya TVRI Jawa Tengah dan Arak-arakan Ceng Ho , Semarang.

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaFeressiya
Berita berikutnyaSenyap di Ibukota
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here