Serigala dari Gaza

1
243

Karya: Ilhan Erda

“Najis berat itu !”
“Kau harus membasuhnya dengan tanah. Cepat ! “ perintah Abah Marwan ke Sunarto pembantunya di deretan Pasar daerah Solo.
“Apa kamu tak tahu bahwasannya air liurnya najis dan kamu wajib mensucikannya Narto?” tanya Abah Marwan.
“Iya Abah, kusegera membasuhnya”, jawab Narto.
Abah seperti ayahku sendiri, dan kini dia menyuruhku membantu toko bajunya di bilangan Klewer sini, setelah sebelumnya ada di Tanah Abang, dan aku sudah berhasil dianggap sebagai tangan kanannya. Karena kedisiplinan, dan kejujuran. Ini sendiri yang dibilang oleh Beliau.

“Narto coba kau tengok, mosok, korban bergeletakan dan di Gaza banyak, jikalau jika tidak bayi terbunuh sia-sia.” Berubah status jadi yatim karena ayah ibunya jadi syuhada atau dia mati sendiri. Coba sekali lagi kau tengok Narto, ada bayi yang mati terpanggang karena roket Israel. Kejam. Laknat Tuhan mereka sungguh! “
“Bangkaianya pun dibiarkan karena keterbatasan tim medis dan obat-obatan, dan keeseokan paginya mayatnya dimakan oleh anjing-anjing liar yang tampaknya panen pada malamnya, kekenyangan akan daging-daging korban.”

Abah jika diurut mempunyai family atau bermarga Bawadzier. Ada turunan yang tinggal di Yaman dan Palestina. Tapi toh sudah terusir dan berpindah ke Jordan. Dia cerita begitu kepadaku.
“Abah, apakah dosa hukum anjing yang memakan bayi-bayi Gaza yang sungguh kasihan sekali, tidak dirawat dan dikebumikan segera mayatnya itu ya?” Tanyaku.
“Narto, kamu tahu ada hukuman yang sebanding antarsesama makhluk Tuhan bukan? Adil dan setimbang di antara ke duanya. Bukan untuk warga manusia saja, jin hewan dan semuanya tak terkecuali. Semua makhluk yang bernyawa.”
“Ini bukan bualan dan omong kosong saja. Ini adalah janji dan kita sedang menunggu waktu itu”.

“Saban hari hati kita bergidik, antara jengkel, sedih, lara dan gemes. Kenapa Gaza semenjak 66 tahun lalu, tepatnya 1948 si Israel selalu membuat huru- hara, dan entah siapa yang benar, ada faksi Fatah, Hamas, atau dengan kubu di luar Palestina–Israel yakni misalnya negara Jordan, Suriah, Lebanon, Mesir dan lain-lainnya, dan di internal ketegangan antara Knesset, Jewish Konservativ dll juga.”
“Narto, tentunya selain ini adalah nubuat dari Tuhan, dan kita tak bisa menjangkau nalar Tuhan. Kehendak Tuhan. Tentunya kita tak jua bisa menjangkau, atau mengabstrasikan ceriteranya kan?”
“Kita hanya bisa diberi kemampuan untuk menjamah, meraba dan diskusi dengan Tuhan. Ini pun masih ada terakhir pembatas atau hijabinya pula. ”Tapi endingnya sudah ada di Kitab Suci kok”, sambung Abah.

“Ya Abah faham saya, lalu bagaimana nasib anjing yang memakan bangkai terdzalimi saudara-saudara kita di Gaza yang terkena roket Israel itu ya?”
“Kita sebagai manusia, pun toh adalah manusia dengan urutan pertama dan sempurna dibanding dengan teman kita yang menghuni semua semesta ini. Namun, kita tetap ada degradasi dan ada gap dengan Dia. Jelas, kita pun hanya bisa dikasih opsi retorika saja, dan bisa membuat sebuah konklusi tapi versi kita. Benar adalah menurut paparan kita. Entah berdasar alibi atau dogma empiris ilmu, agama, pengalaman dan lain-lainnya. Kembali merujuk dan mengerucut ke Dia yang Maha multlak semuanya. Anjing itu tidak salah kiranya”.
Ini pendapatku.

Baca Juga  Harimau Bukit Menoreh

“Anjing, serigala konon adalah iblis yang bersemayam meminjam atau di dalam raganya. Bayangkan, jika Iblis itu makan dengan sari atau esensinya adalah asap, kelembutan dan bau semisal tulang, kotoran manusia, kembang, dupa dan perangai atau perilaku yang jauh dari estetika iman dan tauhid. Anjing itu adalah perangai makan bangkai, kawin disembarang tempat atau digeneralisasi negetif lainnya kan? Namun, jika disanggah dan dikonversi dengan sebuah cerita di Kitab atau ada pelacur yang masuk surganya karena memberi minum sebuah anjing, bagaimana pendapatmu kiranya Narto?” tanya Abah.
Saya hanya mampu menyimak saja Abah. Otak saya terlalu dangkal dan berat nian kurasa.
“Beneran seperti itu?” ragu Abah.
“Ini hanya latihan menduga, menganalisa sebuah kebenaran dan nurani kita mampu untuk ini kok.”
“Oke aku lanjut ya.”
“Inilah arti dari manusia hanya diberi kemampuan sebuah opsi atau konklusi yang haq atau nyata tapi sesuai dengan kapasitas dan implikasi social sesamanya. Kadang memang benar adanya sudah dikuatkan dengan sebuah bukti entah berupa pranata, alat, dogma buatannya dan ini bisa diakui atau disetujui dan masuk dalam peradaban mereka dalam beberapa tempo, masa waktu mungkin.”

“Tapi, tunggu dulu ini tak bisa sama sekali jika dipadukan atau dikoherenkan dengan sifat ke esaannya, atau hubungan kita ke Dia. Sedikit saja takaran untuk ini dan factor “Believe ‘adalah yang utama. Kita tak bisa menyenggamainya, tapi cukup meraba, mengobrol dan konsultasi ibarat dalam sebuah mimpi. Faham ya?”
“Ya Abah. Sedikit,” balas Narto.
“Terus kenapa ya Israel bisa sekejam itu sama penduduk Palestina ya Bah?” Israel kan juga sebuah golongan manusia kan Bah? Bukan segolongan kera, anjing hutan atau dia-dia Iblis mungkin yaaa?”
“Bagaimana Abah menyikapi ini semuanya?”
“Narto, warga Israel adalah saudara kita, dan juga segenap warga Gaza dan Palestina sebagai satu darah, satu badan sebagai warga muslim. Ingat Palestinalah yang pertama kali mendukung Indonesia dan mengajukan di Dewan Keamanan PBB tahun 1945. Kita akan bicara tentang sebuah kemanusiaan. Nilai-nilai humanitas. Bukan menyangkut agama, dogma dan nubuah atau alasan mistis lainnya.”

“Adalah tetap salah membunuhi bayi usia satu tahun, janda, dan lainnya, data yang ada ialah 1500an di pihak Palestina dan tiada yang tewas satupun di pihak Israel, paling 50an. Kau tahu Narto, Gaza hanyalah sebuah lapangan dengan panjang 32 km dan lebar 10 km atau kira-kira hanya 300 km dan sekarang dikepung dengan 50 ribuan tentara Israel, 2000 an helikopter F- 16, F-22, belum tank dan artileri lainnya.”
“Sama saja, diistilahkan bunuh diri kan? Daripada mati konyol dan pun hanya dengan 1 kerikil saja anak 12 tahun secara instink akan melempar ke arah, muka tentara Israel setelah melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana rumahnya hancur lebur, ayah Ibunya mati secara mengenaskan di depan mata sendiri.”

Baca Juga  Curcol

“Anjing adalah makhluk Tuhan juga, bolehlah anjing, serigala dll. Dia secara zat penciptaan awal tiadalah ada dosa yang melekat dengannya, di mata atau dikonversi ke kita. Karena kita lah yang terkena pantangan itu. Misal pantangan tiada boleh makan daging anjing, babi, kodok dll. Pantangan ini karena ada sesuatu yang melekat entah secara dogmatis agama, etika, budaya dll. Jadi manusialah sendiri yang mau atau tidak dengan aturan formal ini semua. Jika dipatok secara nuraniah terdalam, sangatlah beda, karena mana ada nilai kemanusiaan yang melihat ketimpangan secara massif, terencana dan terstruktur seperti ini di Tanah Perjanjian itu?”
“Katanya ini adalah pertanda dari Hari Akhir dll. Cukup Narto, nalar kita tak bisa menjangkau ini. Secara humanitas aja lah. Secara yang terlihat. Ada ratusan nyawa melayang, masuk rumah sakit dibom dll. Ini adalah nyata dan kontradiksi dengan apa yang dialami oleh Israel. Dan jika ada seseorang atau komunal yang sesering ini melakukan atau secara kontinyu melegalkan ini. Berarti memang sudah secara bawah sadar terencana, ada prinsip dan kita wajib juga anstisipatif dan menjaga kalau kalau kita ada interaksi dan menghadapinya di kemudian hari.”

Kejayaan dan kebinasaan adalah tipis bedanya. Ada orang Jawa bilang ini adalah ”penglulon “ atau “pemanja” atas situasi yang sudah sedemikian buruk. Matinya akal, nurani dan hilangnya sebuah nilai kemanusiaan. Dan dengan mudahnya Sutradara Semesta ini menjungkirbalikkan semuanya dalam hitungan sekejap saja.
“Narto, ingat kau dengan Kisah Kaum Sodom di negeri sana ? Adanya pembumihangusan kaum besar, dan bahkan batu yang menghujam mati ada yang menunggu sampai beberapa hari karena satu warganya ada di Tanah Haram. Ini fakta adanya, cerita di sebuah kitab suci kan? Agama Samawi pula.”
“Tak patut mencampuradukkan atau mengurusi masalah dapur kita masing-masing. Dan di Gaza ini bukanlah masalah “dapur”, tetapi sebuah eksistensi pembuktian akankah kita adalah benar-benar sebagai manusia seutuhnya.

Atau tak beda dengan anjing –anjing yang tadi memakan bangkai mayat korban di Gaza, atau anjing yang ikut masuk ke surga dengan rombongan di Kisah Ashabul Kahfi, ada lagi anjing korban pembinasaan massal, dan anjing yang dimusnahkan karena rabies di Pulau Bali Narto? “
“Nah, kau tinggal pilih yang mana .Banyak alternative pilihan. Tidak usahlah kau bingung.”
“Haduuhhh, Bah tambah mumet aja saya.”
“Yayayaya, ya sudahlah. Yo wis.
Lupakanlah cerita tadi. Segera tutup warung dan kita akan segera untuk persiapan nanti berbuka.”
“Iyaa Bah, siappp.” Semangat si Narto.

Picture: abiyamo.com

Comments

SHARE
Previous articleKabut Surga Itu Namanya Kalibiru
Next articleAWAS BAHAGIA MENULAR !
Tiada hari tanpa inspirasi”.Jadi pemuda haruslah menginspirasi,unik dan bisa berkarya.Jangan standart dan kebanyakan saja.Ini yang jadi pijakan pemuda kelahiran Purworejo 30 Jully lalu.Menulis,jalan-jalan,diskusi adalah minatnya.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here