Aku Adalah Bapakku

0
237

Karya: Ilhan Erda

“Dasar keluarga pembohong !
Nggak Bapak, nggak anak sama saja penjahatnya!”

Cacian di atas deras mengalir ditujukan ke keluarga kami. Pun apa saja alasannya. Karena keluarga kami terlanjur dicap seperti itu adanya. Ya sudah akhirnya bapak kami sebagai yang dituakan atau Imam keluarga memilih mengungsikan diri untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan dari warga sekelurahan.
Pada awalnya aku, saat mendengar deras cacian, hujatan dan berita-berita miring ini sangatlah tak tahan, menangis sendiri di pojok kamar, mau mengadu atau bercerita dari hati ke hati, entah ke siapa. Ke kakak, atau ke Ibu, yang sudah lama tak di rumah semenjak aku kelas 5 SD lalu.

“Aku tahu aku adalah sendiri, sepi dan menjalani kesendirian, bagai anak ayam kehilangan induknya. Tapi aku sungguh yakin bahwa Ibu di Taman Surga sana sedang melihatku, sedang tersenyum dan mendoakanku. Ibu sedang memelukku terkadang mencium keningku. Tapi aku takut sedikit saja membuat Ibu sakit, kecewa dan membuatnya kembali terluka. Ya benar, Ibu senantiasa ada di sampingku. Keabadian, asal mulanya yakni di surga sana, bukan di bumi ini, karena sifat dan dzatNya yang selalu menyakitkan, maka ya bumi ini tempatnya”.

Bapak, yang ku tahu. Benar adanya, ia adalah seorang peminum. Memang seperti ini adanya. Dulu, sewaktu Ibu masih hidup dan kami hidup berempat bersama dengan Pokil adikku, kami hidup sempat beberapa bulan sekali pasti ada cekcok dan adu argument. Tapi bukankah ini adalah bumbunya rumah tangga, jadi ibarat lulusnya sebuah ujian anak sekolah, ya tadi jika lulus dan terbiasa akhirnyapun bisa menganalisa dan meredakan sebuah friksi atau perbedaan di keluarga kami.
Yang ku tahu bapak, sesekali membawa sedikit bungkusan plastik. Mirip seperti es teh, dan Beliau sehabis mandi pasti akan menyedotnya suka ria di ruang tamu ini. Sehabis mandi dan badan segar tentunya. Ya aku ingat sekali, kursi ini menjadi saksinya, kursi lincak dari anyaman bambu khas daerah Bener, utara Kota yang memang terkenal dengan anyaman ini.

“Semuanya adalah punya mata, bisa menjadi saksi.” Jangan dikira benda mati dan tak bernyawa adalah sepele saja dan tanpa isyarat. Siapa sangka benda atau perbendaharaan semuanya baik yang ada di atas dan di bumi, pada mulanya tercipta adalah ada dari ketiadaan, dan siapa kira jika adanya kita dan semua nuftah adanya ialah sama persis, berupa bermuasal dari gumpalan tanah cokelat yang tiada bernyawa, sebelum ada Hak Preogratif berupa tindakan berwujud “hembusan dari Nya?”
Bapak, pasti tak segan akan mencambukku jika aku tak mengaji. Dan dari hasil aneksasi bapak, adalah aku sudah merampungkan atau khatam Kitab Suci ini saat kelas 5 SD. Inilah hasil jerih payah Bapak yang aku apresiasi tinggi sampai saat ini. Aku sangat berterimakasih, walau dalam hati dan mengucap syukur dalam-dalam, andai dulu tak dipaksa oleh bapak untuk demikian maka, aku tak akan khatam dan bisa-bisa mengajiku akan kandas di tengah jalan. Ketegasan dan keterpaksaan ternyata penting juga, tidak manja atau merajakan semua apa yang diminta dan dimaui oleh anaknya. Batinku.

Aku adalah berhidung mbangir kalau orang Jawa bilang besar, yaitu jika dilihat dari samping adalah sepeti mancung, tapi kalau diihat gamblang dari depan adalah seperti besar menggumpal, ibarat durian montong, ya benar sekali itu analoginya.
Ibu pernah sempat pisah ranjang kalau orang Ibukota dan warga bilang. Beberapa hari, tidak tidur di rumah karena, sempat Ibu ditampar dan keluar kata-kata keras, kasar dari mulut Bapak, setelah Ibu melarang keras membeli lagi bungkusan es teh itu dan saban hari menyedotya sehabis Magrib selepas dia mandi, dan kondisi ini menjadi budaya pribadi Bapak semenjak bujang yang ku tahu.

“Ingatlah minuman itu bisa membawa kemudharatan, jika kamu terus saja melakukannya. Ingatlah, mereka Sukamto, Yatiman, Pogung dan lain-lainnya sedang di rawat di UGD rumah sakit. Kemarin mati 7 orang juga tidak bisa menyadarkanmu. Sungguh bodoh otak lelaki yang seharusnya menjadi Imam dan panutan di keluarga ini, ”teriak Ibu sangat tegas dan seperti Panglima Perang yang siap memimpin beribu pasukannya dan panji perang siap ditabuh juga. Ibu beda sekali penampilannya tempo hari saat adu argumentasi atau cekcok dengan Bapak.

“Plak, plak, dret sret….” lalu ku dengar suara itu kemudian. Ibu seperti ditampar dan diseret keluar dari rumah kecil kami.
Ibu adalah seorang bidadari. Ibu adalah seorang malaikat cinta. Setiap pelukan Ibu, setiap desahan nafasnya adalah penyambung harapan dan nyawa kami seperti terganda, mempunyai 3 nyawa lagi. Ibu adalah Tuhan ke 2 yang ada di muka bumi ini bagi segenap anaknya. Pun Ibu itu mewujud di lokalisasi, di area kebun teh, di perkantoran dengan dandanan seksi dan paha yang dipamerkan. Dia adalah tetap Ibu kami.

Baca Juga  Bisik Kecil Aida

Jika Ibu berbahagia, lantas mendoakan kami, nasib anak-anaknya untuk cita dan masa depan cerah di sepertiga malam, atau itu juga menyanjung sekaligus mengeluarkan air mata haru jika kami bisa mempersembahkan sesuatu prestasi yang membuat beliau bangga. Ternyata Tuhan juga bahagia, dan iringan doa darinya pasti akan tercurah buat anaknya.

Ya benar, Tuhan adalah Ibu, tak usah jauh-jauh kita mencarinya. Sumber kemuliaan budi dan kepanjangan. Pemberi persetujuan doa itu ada di sekitar kita sendiri, Ibu kita.

Aku sekarang sadar, bisa bermain nalar sedikit. Apa Ibu saat itu salah tempat dan sikap. Bukankah bisa sedikit dengan perasaan, dan bukannya tanpa “tedeng aling-aling” Ibu menasehati Bapak seperti itu, dan membuat lelaki seperti “sapi dicocok hidungnya” atau rawan terjadi KDRT tentunya.

Aku adalah tinggi dan banyak memikat para gadis untuk tunduk di bawah ketiakku. Memohon-mohon agar mau jadi kekasihnya.
Bapak yang ku tahu ialah sama, dia banyak yang menyukainya saat sekolah menengah. Tapi puji Tuhan, Bapak bisa mempertahankan kebaikan dan kemurnian kelaminnya, demi nasab, demi etika, demi nama baik keluarga entah apapun alasannya dan dogma agama atau hukum positif yang masuk. Kami sebagai penganut hidup kesetimbangan dan pemegang budaya Timur yang kental mempercayai ini tentunya.

Bapak, sedikit sekali memberi wejangan atau prinsip hidup ke aku. Tapi langsung kopel, sapu atau tongkat bambu melayang di tubuhku. Aku ibarat seorang TKI yang saban bulan pastinya dapat hukuman cambuk, karena selalu tak bisa lepas dari hukuman dan kesalahan. Kesalahan adalah aku, dan stigma negatif adalah aku, semua kegelapan itu adalah aku. Karena pelita yang mematikan, sumber kegaduhan itu aku. Gelap, pekat. Sumber salah.

Adakah Bapak bisa bertindak sedemikian adanya? Bapak adalah anak pertama dari 7 bersaudara, dan adiknya ke 6 semuanya adalah perempuan. Akankah jika bisa demikian, masa Eyang juga sama bertindak militer seperti ini dalam mendidik anak sulungnya untk mengajarkan cara bertanggung jawab? Demi sebuah tanggung jawab dan etos tinggi dalam hidup? Apakah dalil demikian adanya?

Bapak sembahyang, walau dalam sehari itu hanya 3 kali saja, pastilah masih bolong. Bapak juga mampu beretika, dia merunduk lewat depan orang tua, atau terpandang di kampung ini. Bapak senantiasa berbahasa halus dengan orang yang baru saja dikenalnya atau orang asing tamu yang datang ke rumah.
Bapak jika aku lihat seperti ini sama sekali terlihat gamblang, dia adalah seorang Raja yang dengan gagah memakai jubah serta mahkota kerajaannya. Seperti Bhre Wijaya yang memakai mahkota Majapahit kejayaannya, dan segenap Pepatih, Rakyan atau rakyat hormat takdim kepadanya. Bukan hormat segan karena takut tapi karena cinta dan peduli.

Ada tumbukan simpati empati di antara keduanya. Lem kasih yang sangat besar. Inilah baju sesungguhnya yang Bapak pakai, baju kemuliaan, bukan karena sejuta citra buatan, segunung perilaku atau trik politik dan berbagai intrik lainnya. Ini lah wujud asli seorang anak manusia terlahir di dunia ini, pun toh didogma dengan aturan agama, misal “Kalian sebagai anak manusia berkewajiban berkasih sayang dan menjadi pemimpin bagi segenap penduduk di semesta.”

Aku bangga dengan Bapakku ketika kondisi seperti ini. Ku lantas diajak Bapak dengan naik becak yang ia kemudikan sendiri selepas bedug Magrib menjelang, tentunya setelah Bapak melakukan ritual sucinya, menyeruput “es teh” itu, selekas mandi dan shalat Magrib.

Setiap orang menemukan cahayanya masing-masing. Dan ini tentunya kuasa adalah ada di Dia. Benar sekali mutlak di Dia. Kita tak pantas sesekali mengutuk atau menderma, dia pantas mendapatkan surga, neraka, dia orang baik atau dia kafir dan kita seperti hakim Ton-ton yang seenaknya sendiri berlisan demikian. Apakah kita menjamin bisa hidup lurus demikian adanya?”
Hati adalah solusinya. Pendekatan melalui hati, dan inilah isyarat besar yang Tuhan cipta buat bisa meredam hegemoni busuk, munculnya Rahwana-Rahwana baru di hati kita atau di segala aspek kehidupan.

Ibu adalah bagai bidadari bagiku, dan Bapak adalah pahlawan juga bagiku. Ada yang berpendapat laksana buah tak jatuh jauh dari pohonnya, dan lesat busur panah adalah mirip apa yang dimau pemanahnya.

Baca Juga  Sahabat Sempurna

Benar adanya demikian jika kita nalar. Semua turunan atau kita sebagai makhluk organisme akan mewarisi atau ada genetika ini adalah wahyu dan aturan jelas darinya, agar kita bisa beranak pinak tentunya dengan membaginya dengan pasangan kita, atau kita akan bisa mewakili watak, konsonan tubuh lainnya dengan Bapak, Ibu atau moyang dari ke duanya.

Bapak mempunyai kegemaran lain yaitu menyabung ayam. Bapak betah berjam-jam untuk datang di arena adu ayam, memandangi sepasang jago yang berdarah-darah menancap jalu dan sampai salah satunya mati tercocok jago satunya. Pun toh masing-masing jagonya sudah diberi patron atau mantera jimat ampuh .
Bapak juga senang membeli togel. Ini bahkan menurut penuturan dari warga yang merupakan teman sepermainan Bapak, sudah dilakukan semenjak SMP tepatnya. Bapak bisa banyak membelikan Eyang TV, kebun dan sapi pada saat itu, dan tak ada larangan keras dari Eyang akan hal ini.

Akupun melakukan hal yang sama dilakukan Bapak, tentunya dengan sembunyi-sembunyi dan dengan nomal, yang lebih kecil dan intensitas hanya sesekali tak terjadwal. Tepat aku naik di kelas 6, dan ini dilakukan aku terinspirasi murni dari kisah Bapak ini.
Tentunya Bapak jika akan melihat ini marah. Tapi sisi lain sikapku, aku sangat meneladani dan mencontoh apa yang induk sedarahku lakukan pada masanya, dan aku menuruninya. Aku bisa memahami pola berpikir Bapak walau itu dengan cara yang kasar, badani dan dangkal.
”Apakah aku salah?”
Aku memang belum bisa menangkap secara isyarat dan mendalam. Membedakan baik buruk dan sesandi bagi anak sekecil aku saat itu.

Bapak kini hidup bertiga dengan aku dan adikku. dan Ibu, yang dikiranya meninggal dan aku dibohongi oleh Bapak ternyata sudah kawin lagi, punya anak kecil. Dia adalah adik tiriku. Pelajaran yang kudapat, “Keluarga adalah sebuah kapal yang butuh kelengkapan, kombinasi dan kekuatan.” Dari segenap kru dan awak, guna meredam angin, menambal badan kapal yang bocor dan sebaliknya untuk sama-sama bersuka cita jika mendapatkan panenan ikan yang banyak dan berharga mahal. Tentunya dibutuhkan Komandan kapal yang bijak, bisa mengayomi dan menjadi panutan segenap warga penghuni kapal.
Tak ada penyesalan dan tidak ada kata sedih. Kita berjalan maju kedepan . Bukan melangkah mundur kembali, dan estetika yang didapat, bahwa pasti ada setiap “nilai”. “Nilai” baik jika saat kita “terjerembab” dan ada di bawah kondisi naïf, buruk atau bersuka cita dan kesedihan. Semua sama saja. Tergantung pandai kita menangkap mutiara hikmat di dalamnya.

Sebentar lagi tak terasa aku akan ujian, dan lulus serta melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Aku dapat beasiswa dari sekolah, dan Bapak sudah menyetujuinya.

Aku merasa bahagia mendapat restu dan persetujuan dari Bapak, walau aku tahu, ada konsekuensi buat itu, antara lain, aku harus pergi ke luar kota jauh dari Bapak dan Ibu. Atau aku juga tiada bisa mendapat uang saku dari Bapak, karena keterbatasan biaya. Aku sudah mengkalkulasi dan membayangkan itu semua. Aku sudah siap sedia dengan ini.

Aku masih sama, sering mengaji sendiri di kamar ini. Sesekali juga merumus dan membeli togel, atau sesekali membelikan Bapak ayam jago dengan alasan, aku mendapatkan hadiah uang dari Ibu Guru, padahal uang dari membeli dan menang togel. Lalu, jika sudah waktunya aku akan juga coba untuk menyeruput apa yang Bapak lakukan yaitu dengan seplastik “es teh” itu, tentunya.
Aku akan beda dengan apa yang dilakukan Ibu, tak ada pertengkaran dan perpisahan yang seperti dilakukan oleh Bapak dan Ibu.

Akalku menolak semua ini. Ada sangkalan dan sanggahan, tapi dibutuhkan keberanian, untuk tampil beda dan bisa menilai dari sudut yang berbeda pula. Pun hanya bisa memulai sedikit sekali. “Selangkah tapi akan bisa menuju jutaan langkah dan jarak bukan?” Dan demikian yang ku yakini, karena aku adalah anak dari Bapakku, yang tercipta dari tulang syulbi Ibuku. Aku adalah Bapakku dan Bapak adalah pahlawan bagiku, dan Ibu adalah Bidadari di hidupku.

Sejarah hidupku tercipta karena mereka berdua. Dan aku adalah kepanjangan dari mereka berdua.

Aku masih akan ada, dan melanjutkan kisah ceritera hidup ini nanti, setelah usai ujian sekolah dan berlanjut ke perguruan tinggi.

Sama seperti kisah Bapak, Beliau juga akan nikah kembali setelah aku lulus SMA.

Photo: semuaramalan@blogspot.com

Comments

SHARE
Previous article⁠⁠⁠Indonesia Beruntung Punya Hanafi !
Next articleGunung Eifel, Surga Baru di Purworejo
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here