Karya: Muh Khoirudin

Ketika rumus jalanan mulai pudar oleh serpihan-serpihan acrok
Maka elegi waktu pun kian menepis ribuan jarak
Kemudian para pecundang-pecundang itu risau kehilangan tonggak
Sehingga berkoar dirinya adalah sang pengenalam 

Sepasang mata menatap bengis atas polah mereka
Mengisyaratkan kucai-kucai itu agar segera sirna
Tiadalah berkedip mata tajam itu bertahta
Sehingga mereka pun diam selaksa bertapa

Baca Juga  Seseorang yang Terus Dipanggil Oleh Sang Rindu

Dimana eloknya pena itu kini menghujam
Mengilusikan sendu saja sudah tak paham
Lalu bagaimana rumus itu tak padam
Jika beberapa pecundang menggulung zat asam

Berucapkan sedikit mantra petapa, ia pongah
Memadu jalan mengusik jalanan mencoret takdir amanah
Sesekali mereka diam tak berarwah
Seolah pena itu lah yang bersalah

Kecupan pecundang hebat lewat sepasang mata
Memikirkan jalanan tentang berebut mantra
Menuai goresan ranum pengukir pena
Ia hebat ketika mengubur makna

Baca Juga  PERPISAHAN YANG TAKKU INGINKAN

Purworejo, 20 Januari 2016

Comments

SHARE
Previous articleGunung Eifel, Surga Baru di Purworejo
Next articleKapan Saya Merasa “Besar”
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Pria yang akrab disapa Pinott ini lahir di Purworejo, ia memiliki hobby menulis dan berpetualang. Pendidikan terakhirnya S1 Bahasa dan Sastra Indonesia, serta memilik motto dalam hidupnya " Nikmati hidupmu, karena itu sebuah anugerah".

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here