WISATA TRAGEDI BATU SUMONG

0
387

Laporan: Sri Widowati Retno Pratiwi

REVIENSMEDIA.COM, PURWOREJO – Dahulu sekitar tahun 1800-an hiduplah pasangan suami isteri, Ki Sumorejo dan Nyi Sumorejo. Pasangan petani dan juga tokoh  masyarakat tersebut memiliki dua orang anak. Si sulung bernama Ganang  yang  berusia 3 tahun .   Sedangkan adiknya masih berumur beberapa bulan. Sehari-hari keluarga ini banyak beraktivitas di huma atau sawah  tadah hujan  kepunyaan mereka yang cukup luas.

Suatu hari, seperti biasa mereka pergi ke huma. Ki Sumorejo berangkat lebih dahulu  membawa sapinya untuk membajak sawah. Begitu  sampai, Ki Sumorejo menambatkan sapinya  pada tonggak  yang terpancang di depan sebuah batu besar. Kemudian dia bersemedi di sekitar lokasi batu itu dan setelah beberapa saat berselang, barulah dia  mulai bekerja. Sedangkan Nyi Sumorejo menyusul, datang belakangan.  Dia mengendong anak bungsunya, sementara  tangan kirinya menuntun si Ganang dan tangan kanannya menenteng bekal makanan. Ketika tiba, Nyi Sumorejo pun menuju ke tempat     bongkahan batu besar lain yang jaraknya agak jauh dari batu dimana Ki Sumorejo menambatkan sapi. Dia membuat ayunan bayi di dekat  batu yang di bawahnya terdapat lobang goa.  Setelah meletakkan si bungsu dalam ayunan  dan menyuruh si Ganang  menjaganya   sambil bermain-main di sekitar  tempat  ayunan itu berada, Nyi Sumorejo  bergegas    ke sawah.  Lalu dia matun atau  membersikan rumpun-rumpun padi dari  rumput-rumput liar.

Hari beranjak semakin siang. Ketika sedang  asyik-asyiknya bekerja, tiba-tiba Nyi Somorejo mendengar Si Ganang berteriak  dengan  suara cadelnya , “Mbook…ono adang owoo mbook!” (maksudnya : Mbok… ada kadal panjang).  Tak lain karena Ganang  memang melihat seekor binatang yang menyerupai kadal besar yang panjang dan menakutkan.  Berhubung  suara teriakan Ganang yang  cadel, ditambah lagi posisi dirinya yang sudah agak jauh dari tempat si Ganang, Nyi Sumorejo jadi  salah paham. Dia mengira  kalau Ganang, ”Mbook…..wadange digowo mbook?” (Mbok…nasinya dibawa ya mbok) Maka tanpa menoleh dan masih terus bekerja, Nyi Sumorejo menyahut, ”Iyooo, kono dipangan wae!” (Iya sana dimakan saja). Tak lama kemudian kembali Ganang berteriak  lebih keras disertai tangisan. “Mbook… adikku diowo adang owoombook!” ( Mbok… adikku dibawa kadal panjang huuuhuuuhuu…). Ganang  terus saja menjerit  dengan tangannya yang menunjuk-nunjuk.

WISATA TRAGEDI BATU SUMONG

Jeritan si Ganang yang semakin keras dan menyayat hati membuat Nyi Sumorejo tersentak.  Dia  segera  meninggalkan pekerjaanya dan langsung menghampiri si Ganang. Betapa terkejutnya Nyi Sumorejo saat mendapati ayunan bayi dimana dia meletakan anak bungsunya sudah  rusak porak-poranda. Nyi Sumorejo menjadi histeris manakala dia  melihat ke arah yang ditunjuk-tunjuk  oleh Ganang. Ternyata bayinya  telah berada di dalam mulut seekor kadal panjang  dan  dari luar  hanya tinggal terlihat kedua kakinya saja. Serta merta Nyi Sumorejo berusaha sekuat  tenaga menyelamatkan  bayinya yang dilahap kadal panjang itu. Maka terjadilah perebutan bayi dengan  tarik – menarik yang sangat alot. Mulut  si kadal panjang begitu erat mencengkeram kepala dan tubuh bayi Nyi Sumorejo. Sebaliknya Nyi Sumorejo sebisa mungkin menarik kaki bayinya supaya keluar seluruh tubuh si bayi  dari mulut  kadal panjang. Namun apa daya, kekuatan Nyi Sumorejo tak sebanding dengan tenaga si kadal panjang. Dia jatuh terjengkang  dan  harus menerima kenyataan bayinya  hilang dibawa  si kadal panjang masuk ke lobang goa di bawah batu besar itu.

Baca Juga  Menikmati Sejuknya Gunung Pancar, Ini Harus Kalian Coba

Tinggallah  Nyi Sumorejo dan Ganang  meratap tiada henti, hingga akhirnya mengundang perhatian Ki  Sumorejo juga  warga  desa lainnya.   Berbondong-bondong  mereka  datang  dan segera  mengerumuni Nyi Sumorejo. Begitu  mendengar penuturan Nyi Sumorejo  tentang peristiwa tragis yang baru saja terjadi,  semua orang dilanda ketakutan. Apalagi setelah beberapa orang  memberikan kesaksian  bahwa hewan ternak peliharaan mereka, seperti kambing, ayam  dan sejenisnya seringkali  lenyap tak tentu rimbanya  jika hewan-hewan  tersebut  digembalakan di  dekat  batu bergoa itu.  Mereka  pun yakin si kadal panjang yang  melahap  bayi  Nyi Sumorejo itu  sesungguhnya adalah ular naga penunggu   goa batu tersebut dan  biang keladi dari setiap peristiwa kehilangan ternak yang mereka alami. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa, selain bersikap lebih berhati-hati  dan tidak mencoba-coba lagi mendekati  mulut goa.

WISATA TRAGEDI BATU SUMONG 2

Demikian pula halnya dengan Ki Sumorejo. Dia dan seluruh keluarganya dirundung kesedihan mendalam. Terlebih-lebih bagi  Nyi Sumorejo sebagai ibu yang menyaksikan  secara langsung  bayinya  direnggut paksa oleh sang naga.  Namun malam harinya Nyi Somorejo mendapat isyarat melalui mimpi. Dalam mimpinya dia datangi oleh orang  tua berjanggut panjang. Orang tua itu berpesan agar  Nyi Sumorejo mengikhlaskan  bayinya  untuk dirawat dan diasuh  dalam goa batu tempat  dirinya berebut bayi dengan sang naga. Sejak  saat itulah batu tersebut dikenal dengan nama batu “Sumong” yang artinya batu tempat untuk nyusoni karo momong (menyusui dan mengasuh) anak.

WISATA TRAGEDI BATU SUMONG 3

Adapun  lokasi  batu Sumong  berada di wilayah desa Sidoleren, kecamatan Gebang, kabupaten Purworejo. Bongkahannya  tegak menjulang dengan ukuran  tinggi sekitar 25 m,  keliling  110 m dan luas 700 m² . Pada 17 Agustus 2016 lalu batu Sumong beserta curug Sidoasri yang antar keduanya berjarak 50 meter ini resmi ditetapkan sebagai  obyek wisata oleh  jajaran Muspika Gebang. Semua tak lepas dari prakarsa Danramil Gebang, Kapten Infanteri Sunarno demi mengangkat nama  desa Sidoleren pada khususnya dan kecamatan Gebang padaumumnya. Batu Sumong sangat cocok  untuk  dimanfaatkan sebagai  sarana rekreasi pendakian. Terlebih lagi  di atas batu Sumong  telah berdiri  sebuah gazebo sederhana.  Di gazebo itu pengunjung bisa menikmati pemandangan kota  Purworejo dari ketinggian sambil berselfie ria atau sekedar duduk-duduk rileks saja.

Baca Juga  SITUS PURBAKALA TAPURARANG

WISATA TRAGEDI BATU SUMONG 5

Suparman selaku perangkat desa Sidoleren menjelaskan  bahwa daya tarik yang hendak  ditonjolkan dari  wisata batu Sumong adalah memang kisah tragis yang dialami keluarga Sumorejo sebagaimana tersebut  di atas. Lebih jauh dia menuturkan. Setelah peristiwa bayi bungsu keluarga Sumorejo yang digondol oleh kadal panjang alias ular naga, ternyata misteri  terus berlanjut. Setiap  malam selasa kliwon  selalu terdengar  bunyi gamelan unik nan  aneh  dari batu Sumong. Bunyi  gamelan  itu tentu menimbulkan  kengerian tersendiri bagi warga desa yang tinggal di sekitar lokasi batu Sumong.  Pada akhirnya Ki Sumorejo dan Nyi Sumorejo kembali mendapat petunjuk gaib. Petunjuk gaib yang mengisyaratkan supaya warga  setempat rutin menggelar acara  merti desa  tiap tahun  sekali pada bulan Sapar. Semenjak  warga Sidoleren rutin melaksanakan merti desa hingga kini suara gamelan misterius dari batu Sumong tak pernah terdengar lagi. Rangkaian acara merti desa sendiri dimulai dengan kegiatan  membersihkan seluruh kompleks makam  yang ada di desa Sidoleren. Kemudian kegiatan pengajian, tahlilan  dan  berakhir pada  kegiatan puncaknya, yaitu pertunjukan seni tayub.

WISATA TRAGEDI BATU SUMONG 4

Sayangnya goa di bawah batu Sumong  sudah  ditutup rapat-rapat dengan tanah .  Tentu ini sedikit  mengurangi  pesona batu Sumong. Namun, penutupan  goa yang berlangsung pada tahun 1946-an itu bisa dimaklum  karena alasan keamanan. Meski tak pernah terjadi insiden memilukan seperti yang menimpa bayi keluarga Sumorejo, tetapi banyak sekali  insiden hilangnya ternak peliharan warga sebelum lobang goa tersebut ditutup. Pada beberapa  bagian  goa yang tertutup  juga masih tampak bekas-bekas pembakaran api. ”Pembakaran dilakukan  maksudnya  untuk mencegah agar  ular naga tidak keluar lagi dari goa dan menimbulkan kekacauan”, imbuh Suparman.

Wisata batu Sumong  saat ini  sudah  cukup ramai pengunjungnya . Pada hari  libur ketika  cuaca sedang cerah  jumlah pengunjung  wisata batu  Sumong bisa mencapai  100 orang lebih. Tetapi memang infrastruktur  masih menjadi kendala.  Jalan  utama menuju lokasi batu Sumong adalah jalan tanah yang selain curam juga becek ketika  turun  hujan, sehingga rawan bagi keselamatan pengunjung. Oleh sebab itu, pemerintah desa Sidoleren tengah mewacanakan untuk mengalokasikan  sebagian  dana desa  guna pembangunan  wisata batu Sumong  maupun curug Sidoasri lebih baik lagi. Support dari Pemkab dan berbagai pihak lainnya tentu sangat diharapkan.  Jika pengelolaan  obyek wisata  ini bisa maksimal, sehingga   menarik kunjungan banyak wisatawan, niscaya akan meningkatkan laju perekononomian  masyarakat  di sekitarnya.

Editor: Muh Khoirudin
Foto: Hasyim, Ida

Comments

SHARE
Previous articleMitos dan Keindahan Curug Sido Asri
Next articleDANI HAMDANI : DARI LEBAK UNTUK INDONESIA
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here