Ini Bukan Cerpen

0
188

Karya: Ilhan Erda

“Dalam seperti lautan !”
“Satu tema. Usahakan jangan melebar. Satu lagi, dia harus selesai baca dalam sekali duduk.”

Gila. Sesi pelatihan kali ini aku dibuatnya muntah, hilang ingatan dan jadi antipati lagi dengan dunia literasi. Khususnya dunia percerpenan ini. Bagaimana tidak, di kelas kursus singkat jurusan short story, atau cerita pendek ini, puluhan aturan, ribuan larangan dan berjuta idiom, kata-kata dewa yang kudu dipatuhi oleh segenap peserta, calon cerpenis agar diterima dan jadi cerpenis dengan tulisan yang handal. Pasti begitu penjelasannya saat menguatkan alibinya di depan teman-temanku yang lain.
Cerpen punya kamu ini, sangat–sangat buruk. Lebih buruk daripada tulisan jelek anak kelas 1 SD. Bagaimana tidak. Punya kamu ini Jo, makna yang tersirat tak ada, malahan perihal esek-esek, kawin, atau payudara begitu banyak kau tonjolkan. Kelihatan sekali kau ngefans,dan mengidolakan Djenar Ayu, tapi langkah bercerita mu salah.”

“Dia punya segalanya. Talenta, fisik dan darah biru seniman.”
“Sedangkan kamu? Ngaco. Boro-boro obsesi dan mimpi besar. Karyamu tak ada progres dan kemajuan yang berarti.”
Gila.

“Lama-lama ku tikam juga ini orang,” batinku.
“Mumpung lagi bawa belati di dalam tas ini.”

Prasnowo Kusudiardji. Pria 34 tahun. Baru saja kelar pendidikannya di pasca sarjana jurusan humaniora di UGM Yogyakarta. Tulisannya sudah tersebar di media lokal Jogja, juga buku-buku mengenai pendidikan dan how to tentang dunia pengajaran juga sudah tak terbilang jumlahnya.

Dan kini dia mencoba writerpreneur. Istilah yang zaman sekarang menjadi raja diraja, impian sebagian khalayak juga. Dimana pundi rupiah, materi bisa didapatkan dari sini.

Aku mengikuti kelas pendek ini darinya hanya 2 minggu saja. Berharap dari kelas singkat ini bisa membuat 2 judul cerpen.
Tapi kenyataannya? Sekarang boro-boro dua judul cerpen. Ini baru satu halaman pembukaan sudah di hujat, cacian dan sanggahan mati–matian. Tiada ampun dari Bapak. Demikian kami berenam memanggil Beliau. Dipastikan akan mati kutu, pesimis jadinya. Ini dampak yang dilakukan oleh Bapak. Beliau yang terhormat ibarat seorang cendekiawan mulia ini.

Halaman satu. Lalu kuteruskan ke awal halaman dua. Namun ku takut untuk memulainya. Bukan masalah hujatan dia, caciannya. Tapi ini sangat tendensius, atau memang aku banci? Terlalu dan bisa terpedaya oleh omongan orang lain.

Tapi bukankah benar ada pepatah yang bilang? Suksesmu adalah kepatuhan kepada sang Guru bukan?
Cerpen ini yang akan menjadi satu proyek perdanaku. Pertama pula dalam hidupku. Jika berhasil tembus ke media massa, kemudian teman-teman sekampung membacanya, jadi namaku akan popular. Banyak orang kenal. Bisa jalan-jalan, jadi kaya raya.
Jutaan impian. Angan yang semakin lama tak hanya mengapung di ubun-ubun. Lama-lama mengendap. Mengental dan mengapur di ubun-ubun ini. Bisa dan harus bisa. Aku memang mampu untuk ini.

“Hei Jo, kamu itu harus cepat aksinya. Jangan hanya melamun. Ilham itu banyak, ada di sekeliling kita. Jadi tinggal kita peka dalam menangkap dan mengeksekusinya. Mewujudkannya dalam sebuah karya, dan tulisan.”

Gila, kata-kata petuah si Galak ini jika aku kumpulkan susun dan rangkum, maka akan bisa jadi banyak halaman. Sebuah buku bungai rampai. 1001 nasihat mulia seorang Guru judulnya kali.
Gila, ini baru hari ke tiga. Sudah dibombardirnya dengan banyak petuah lagi. yang semakin membuat migren dikepalaku bertambah saja. Setengah hari sudah migren sebelah. Genap sehari jadi migren 2 kepala. Siap -siap dengan persediaan parasetamol tampaknya ini.

Di kelas ini ada 6 peserta. Siswa didiknya yakni 5 cowok dan 1 cewek. Mereka adalah aku, Rosman, Edi, Dayat, Brohim, dan Roswita.

Progres dari masing -masingnya yang aku lihat di hari sudah menjelang mau genap seminggu ini. Brohim, yang jebolan ponpes di Kediri dan mahir dalam backround tema agama, serta hadist. Roswita yang perempuan sendiri hampir mirip dengan Edi dan Dayat. Sedang manusia satu lagi, aku yang lulusan SMK sendiri. Ini dia yang jadi satu lagi bahan Sang Guru buat mencerca lagi.
“Heh Jon, kamu itu bersyukur. Walau lulusan SMK, kamu harusnya merunduk. Di sana masih banyak yang di bawah kamu. Yang tidak sekolah, hanya tamatan SD, dan kamu di lingkup kelas SMK kan masih banyak juga ide, ilham yang bisa kamu tangkap? Misal hal tentang mesin gerinda, bubut, atau guru dan kawan – kawan mu.”

Baca Juga  Misteri Prenjak, Mainan Si Kecil Lelembut

Huf. Tambah gila aku di sini. Ini adalah sebuah konflik, dan konflik ini adalah terjadi antara aku dan dia sendiri. Guruku.
Hari ke 12 ini aku sudah sampai di penghujung jeda. Ya, cerpen pertamaku ini sudah sampai ke halaman 7 dengan jumlah 1000 baris kata. Jumlah yang ideal untuk sebuah cerita pendek. Cerita yang habis dalam sekali baca. Sebuah analogi dalamnya sumur dan tak boleh melebar. Seperti itulah sebuah konsepsi paten perihal cerpen yang ideal.

Kini ku siap-siap menerima petuah Beliau yang ke 1001 kalinya lagi. Tapi sebelum kuserahkan, tentunya aku harus mempersiapkan diri lahir dan batin agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan nanti.

Semalam aku mendapat bunga tidur. Entah ini adakah pertanda baik untuk aku, atau nanti saat momentum penyerahan cerpenku ini ke Beliau. Semuanya akan berjalan mulus dan indah seperti yang ku harapkan juga. Ada sebuah kemukzizatan.

Di setengan perjalanan tidurku ini, aku bermimpi didatangi oleh Putu Wijaya. Dengan suasana santai dan retorika khasnya dia berujar sekaligus menasehatiku.

“Jo, jika ingin jadi cerpenis yang hebat. Rumusnya adalah gampang. Biarkan anjing menggonggong. Tetaplah menulis dan jangan takut jelek atau salah. Kalau perlu tebas leher si anjing itu. Sampai kepalanya kan menggelinding ke tanah. Pastilah kau akan merasa damai dan tenteram dengan hal ini.” Terakhir sebelum ku tergegap kaget dan terbangun. Juga muncul sosok si Djenar lagi. Kali ini dia ditemani oleh anaknya Bening. Tak kalah ayu dengan anaknya, Djenar juga berpakaian seksi.

“Hei Jo, ayo sebentarlah refresing. Jangan kaku menulis terus, to hide, konflik dan ending sudah tergenggam di tanganmu. Jadi cooling down. Diamkan sejenak dan marilah kita rehat dan nikmati pesta ini.”

Lagi-lagi Jenar datang ke dalam bunga tidurku untuk ke sekian kali ini.

Terbangun. Ku akui basah jadinya. Mimpiku semalam jadinya bukan sembarang mimpi.

2 poin tadi. Nasihat dari senior-senior Cerpenis Indonesia ini sungguh walau hanya dalam batas mimpi dan reka khayal saja, tapi kok ya nyambung. Aku akan segera bergegas mempraktekannya sebelum nanti siang cerpen ini aku serahkan ke Guru untuk dikoreksi dan di nilai. Ya benar, ini adalah koreksi terakhir.

Ku lihat dan cermati lagi semuanya. Dari halaman pertama, ku telisik apakah EYD nya ada yang kurang dan kelebihan, atau tak layak digunakan sebagai bahasa baku.

Lanjut ke pemetaan konflik, dan ide utama sebelum merajuk ke ending. Aku ingat pesan Guru pada hari yang ke 5 yaitu, bahwa dalam penulisan cerpen bisa kita membuat contoh dengan analogi seseorang yang naik ke atas pohon, lantas kita lempari dengan batu, dan dia lalu turun. Di jeda dan sela waktu antara ini, bisa kita sisipkan ide lain, sekaligus benang merahnya kenapa dia naik pohon dengan jadikan peristiwa itu sebagai pembukaan masalah, kita lempari dengan batu. Ini adalah starting point masalah atau konfliknya dan terakhir dia turun, ini adalah titik akhir endingnya.

“Jo, ingat twist ending yang kau usahakan pakai ya. Jangan atau buat pembacamu tahu dan sudah bisa menebak dari awal akan bermuara ke mana tulisanmu. Ingat ! Dan camkan ini.”
Ku akui, pesan guru yang terakhir ini memang sangat berguna dan penting sekali buat bekal aku dalam nanti menulis sebuah cerita pendek.

Jika masih mempertahankan ini semua dengan setting, ide, konfik dan ending yang sama. Rasanya untuk jadi yang pertama dan terbaik dari ke 5 temanku ini rasanya tak mustahil. Bisa. Yakinku.
Benar. Coba Guru, nanti kau bayangkan dan setelah tahu beberapa jam lagi aku sudah menyerahkan ini cerita. Semuanya akan berakhir. Tentunya berakhir dengan kepuasan dan tak ada gurat senyum sinis sakit, atau pun omelan, petuah, makian lagi.
Aku menyelami, mendalami dan ada langsung di dalam cerita ini. Metafora. Setting, dan semua unsur-unusr cerpen yang dibilang dan diikhtisarkan oleh Beliau. Semuanya aku lakukan.
Ku kira ini adalah pertama kalinya. Bukan hanya di Indonesia mungkin. Ya, benar sekali
Perubahan. Inovasi sastra modern saatnya dimulai, setelah ada berita kemarin revolusioner sastra yang digembor-gemborkan dan di agungkan oleh Denny JA dengan Puisais, puisi esais, dimana puisi modern yang panjangnya bukan main.

Baca Juga  SEKEPING HATI AYAH

“Wahai, murid-muridku sekalian. Ini adalah hari terakhir. Di mana kalian berenam akan menyetorkan semua karya kalian. Setelah di sini selama 15 hari, belajar dan mengetahui seluk beluk tentang dunia kepenulisan. Tentang membuat sebuah cerita dan membuat terkesima pembacanya. Tampaknya aku telah dengan sekuat tenaga, mencoba untuk meramu sebuah ramuan. Dan berharap membuat kalian kalian menemukan “cahaya” itu. Ya benar. Cahaya. Lorong harapan untuk kalian menjadi seorang penulis, dan tepatnya adalah seorang cerpenis.” Kata Guru
“Mulai dari Roswita dan yang terakhir Joni. Kalian menyerahkan semua karya kalian ini. Nanti aku akan menilai, memperingkat dan memberi saran.”

Beliau membaca semuanya dengan seksama. Kadang kernyitan alis matanya, yang menandakan sangat berat beliau menimang, dan memetakan isi cerita itu. Tersenyum sendiri, bahkan menggertakkan gigi, tandanya meremehkan, atau sinis.
Kira-kira satu cerpen membutuhkan waktu 30 menit untuk menyelesaikannya. Ada di giliran terakhir, berarti kurang lebih ada total waktu 3 jam an lebih untuk mengoreksi semuanya.
Sanjungan, hardikan, dan semuanya yang akan dibantai, seakan-akan menjadi suram, dan buram di mataku. Beliau sudah sangat kelelahan terlihat, setelah semalam perjalanan dari Jakarta.
Sekali lagi aku pasti akan jadi jawaranya dalam pelatihan di akhir dari kelas ini.

Sebentar lagi giliranku tiba. Sekarang beliau baru saja akan membaca karya terakhir. 30 menit lagi peristiwa yang akan terkenang sepanjang zaman, juga mengakhiri semua retorika, majas, akhir dari puncak karya, mahakarya yang akan ditumbangkan olehku.

Beliau mengambil air wudhu untuk shalat dzuhur ke belakang rumahnya. Sontak semua nya kami segera menyusul dan mengikutinya bergantian untuk berwudlu. Aku yang ada digiliran pertama, tiba-tiba Beliau masuk ke kamarnya yang dalam kondisi remang. Gelap. Karena tak ada ventilasi dan lubang cahaya.
Jeda. Aku ingin sekali lagi kalian, teman-teman nanti di akhir kisah ini. Ending twist ini bisa jelas dan sejelas jelasnya. Bahwa, cara meracik, apalagi profesi sebagai tutor, Begawan, seorang guru dalam menyampaikan sebuah ilmu. Apalagi secara bersamaan dalam satu kelas haruslah hati-hati dan etika timur harus dijunjung tinggi.

Walau ada satu orang murid ada yang mengalami ketertinggalan dalam menyerap suatu materi, dan ada yang menonjol. Tetap harus proporsional dan tak berfihak. Apalagi menimbulkan kecemburuan dan luka di hati murid, anak asuhnya.
Tepat. Saat beliau akan menggelar sajadah, menunaikan shalat dzuhur. Aku menyusul masuk ke kamar, dan, seperti teman–teman duga aku akan menggelar, menyusulnya untuk menjadi makmum salat dzuhur itu.

Kalian sedikit tepat. Aku memang akan shalat di sana. Tapi bukan untuk salat dzuhur.

Ya. Beliau telah mengumumkan siapa yang terbaik dan menjadi jawaranya. Nanti setelah semua nya menyusulnya masuk.
“Hei. Kalian, siapa yang mau menyusul Guru kedalam.”
“Dalam sana. Dalam keabadian. Dan twist ending yang kalian idamkan. Ha ha ha ha ha …” tawaku menggelegar.
“Apakah mau aku buat kalian, satu persatu. Rosita, Brohim, Edi, Dayat. Kalian semua. Ayo sini mendekat !”

Ku lihat tangan ku terborgol keduanya. 2 orang polisi dengan ketat menempel aku. Satu di belakangku menempeleng, satunya lagi menendangku dengan keras sekali. Tendangan dari sepatu Poornya.

Simbahan darah terlihat. 3 hujaman belati tepat di iga kanan atas Beliau telah membuat puncak konflik, twist ending sekaligus setting yang abadi buatku sekarang ada di sini.
Ya benar.

Prodeo. 32 tahun.
Merubah semua status. Pandangan, sosial. Sekaligus cara pandang teman- temanku semua ke diriku.
Gila .
Psikopat.
Julukan mereka untukku.

Sumber gambar: www.4.bp.blogspot.com

Comments

SHARE
Previous articleDANI HAMDANI : DARI LEBAK UNTUK INDONESIA
Next articleNDAS BEONG Yang Legendaris Itu Ada Di Magelang
Tiada hari tanpa inspirasi”.Jadi pemuda haruslah menginspirasi,unik dan bisa berkarya.Jangan standart dan kebanyakan saja.Ini yang jadi pijakan pemuda kelahiran Purworejo 30 Jully lalu.Menulis,jalan-jalan,diskusi adalah minatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here