Masjid Santren Dalam Pusaran Perjuangan Bangsa

1
325

Laporan: Sri Widowati Retno Pratiwi

REVIENSMEDIA.COM, PURWOREJO – Masjid sebagaimana semua orang tahu, merupakan tempat peribadatan bagi pemeluk Islam, agama mayoritas di negeri ini. Tempat untuk aktivitas seperti shalat berjamaah, kajian ilmu-ilmu Al Quran, i’tikaf dan sejenisnya. Hanya sebatas itukah? Kalau kita mau mengulik-ulik sejarah masa lalu, sebenarnya banyak masjid di berbagai daerah yang turut mewarnai perjalanan hidup bangsa Indonesia hingga sampai pada titik posisi sekarang ini.

Di Purworejo ada contoh masjid bersejarah yang patut diketengahkan, yakni masjid berjuluk masjid Santren. Masjid Santren yang berlokasi di dukuh Santren, desa Bagelen, kecamatan Bagelan berdiri pada zaman kerajaan Mataram Islam di bawah tampuk kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645). Keberadaan masjid ini tak terlepas dari peran sosok ulama besar bernama Kyai Akhmad Baidlowi. Kyai Baidlowi sendiri adalah seorang ulama pendatang keturunan Sampean Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhanan Prabu Satmala Ing Giri atau Sunan Giri I dari Blambangan.

Alkisah kala itu Mataram tengah melakukan perlawanan gigih terhadap kesewenang-wenangan Kompeni Belanda di tanah Jawa. Dalam satu pertempuran, pasukan Mataram mengalami kekalahan dan terpaksa mundur. Salah satu prajuritnya, Adipati Pragolopati sempat dikejar-kejar tentara Belanda, tetapi berhasil lolos dengan menyeberang Sungai Bogowonto dan bersembunyi di tempat kediaman Kyai Akhmad Baidlowi yang sedang berdakwah, menyebarkan Islam di wilayah Bagelen. “Dulu sungai Bogowonto merupakan garis pertahanan terakhir kerajaan Mataram dengan nama Negara Agung atau daerah yang berada di luar ibu kota. Asal mula Bagelen konon dari pengucapan orang Jawa atas kata ”back line” yang bermakna garis pertahanan,” ujar juru pelihara masjid Santren, Widodo Haryoko.

Selanjutnya Adipati Pragolopati meminta bantuan Kyai Baidlowi untuk menghadapi tekanan serbuan Belanda dan sang kyai pun menyetujuinya. Ternyata langkah yang diambil Adipati Pragolopati itu tepat. Belanda berhasil ditaklukkan. Kemudian Adipati Pragolopati melapor ke kerajaan bahwa keberhasilannya itu atas jasa Kyai Akhmad Baidlowi. Istri sultan begitu terkesan akan laporan tersebut. Ia berkenan memberi hadiah pada Kyai Akhmad Baidlowi berupa bangunan masjid yang didirikan tahun 1618 oleh arsitek kenamaan, Khasan Muhammad Shuufi. Sang arsitek ini tak lain adalah Adipati Pragolopati sendiri.

Baca Juga  JEJAK CING PO LING DARI KESAWEN

Masjid hadiah tersebut berarsitektur tradisional Jawa dengan atap tajuk tumpang satu. Konstruksi kayu serta gonjo masjid Santren sama dengan yang ada di masjid menara Kudus dan masjid Kajoran Klaten. Sementara pada kayu blandar yang menghubungkan tiang-tiang masjid terdapat ukiran yang sangat menawan. Dengan tiang utama (saka guru) berjumlah empat yang berbentuk bulat setinggi sekitar 7 meter dan berdiameter 40 cm serta dilengkapi 12 saka rowo (tiang kecil di bagian pinggir)membuat masjid ini terlihat cukup kokoh. Pada salah satu saka rowo yang terletak di sebelah utara ruang pengimaman (mihrab) tertempel prasasti berhuruf dan berbahasa Arab. Isinya menyatakan, “Masjid ini dibangun di negeri yang agung, untuk leluhur yang sudah meninggal atas perintah istri Sultan Mataram, diberikan kepada ustadz Baidlowi dan sebenarnya yang membuat masjid ini Khasan Muhammad Shufi, semoga ia mendapat ridla Allah, berupa nikmat dunia dan akhirat dan ditetapkan imannya.” Selain itu, terdapat pula koleksi unik yaitu mimbar seperti tandu terbuat dari kayu jati berukuran panjang 155 cm, lebar 80 cm dan tinggi 225 cm. Mimbar yang berfungsi sebagai tempat khutbah Jum’at ini penuh dengan ukir-ukiran besar. Terkecuali bagian belakang mimbar yang bermotif hias sulur-suluran dan ukel.

Pada tahun 1968, masjid Santren mengalami pemugaran untuk pertama kalinya. Pemugaran itu meliputi penggantian lantai dan penembokan ruangan utama masjid seluas 10 m x 10 m. Semula lantai ruangan utama masjid berupa floor atau plesteran. Plesteran ini diganti dengan tegel berwarna hijau setebal 60 cm, dan berukuran 20 cm x 20 cm. Adapun penembokan dimaksudkan untuk menggantikan beban saka rowo yang mulai rapuh. Walhasil saka rowo menjadi tidak begitu tampak karena tertutup plesteran dinding tembok. Sebelumnya tembok tersebut berada di luar saka rowo kurang lebih 50 cm dari tembok hasil pemugaran.Kemudian atas dasar pertimbangan nilai historis dan artistic, masjid Santren dipugar lagi pada tahun 2000 dengan mengembalikan posisi tembok ruang utama seperti awal masjid ini berdiri. Otomatis saka rowo kelihatan dan prasastinya pun turut diperbaiki. Perbaikannya yaitu dengan cara mengecat bagian prasasti memakai cat warna putih yang kontras dengan warna coklat saka rowo sehingga tulisan prasasti menjadi jelas dibaca.

Baca Juga  TONGKONAN BUNTU PUNE (Toraja)

Adapun keistimewaan masjid ini di luar segi arsitekturnya adalah terletak pada namanya sendiri. Widodo Haryoko menuturkan, ”Nama Santren diberikan karena sejak zaman Kyai Akhmad Baidlowi, masjid ini menjadi tempat belajarnya para wali atau ulama-ulama khos, yang begitu teguh dan konsisten menjaga keislamannya. Bahkan generasi penerus langsung Kyai Baidlowi, yaitu putra keduanya yang bernama Kyai Chasan Moekibad sampai mendapat julukan Wali Apit. Penyebabnya ulama-ulama khos dari berbagai daerah itu mengikuti pengajaran Kyai Khasan Moekibad dengan cara duduk mengelilingi sang kyai atau mengapitnya. Singkat kata masjid Santren diartikan sebagai pesantrennya para wali.” Dari latar belakang itulah tercatat Masjid Santren sebagai masjid tertua di Bagelen yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat.

Foto: budayapurworejo.blogspot.com

Comments

SHARE
Previous articleCelana Dalam Si Tuyul Bau Pesing
Next articleDavid Darmawan: Bangsa Ini Butuh Ketauladanan dan Ethos Kerja !
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here