Peri Cantik Itu Kayla

0
271

Karya: Muh Khoirudin

Malam telah lelah dengan gelapnya, sinar sang surya pun mulai membias di ufuk timur. Gubuk milik nenek tua itu terlihat mengepulkan asap. Tiga potong singkong menjadi menu sarapan nenek Wahidah pagi itu. Singkong rebus ditambah sedikit garam sudah menjadi menu makan yang cukup nikmat bagi nenek Wahidah. Hidup sebatangkara tidak membuatnya mengharap belas kasihan orang lain. Dengan sisa-sisa tenaganya ia mampu mengolah secuil ladangnya untuk bertahan hidup.

Perilaku nenek Wahidah yang bagaikan Kartini kerap kali menjadi perhatian orang-orang di sekitarnya. Tidak luput dari pandangan Kayla, air matanya sering kali jatuh ketika melihat nenek Wahidah dengan tertatih pergi ke ladang dan mengayunkan cangkulnya. “Dimana anak-anaknya kini berada, begitu tegakah mereka meninggalkan ibu yang telah melahirkan dan merawatnya hingga dewasa hidup sendirian. Apakah ini balasannya. Benar, seorang ibu tidak pernah pamrih atas segala sesuatu yang telah ia berikan terhadap anaknya. Tapi tak adakah sedikit saja bagi anak untuk memikirkan keadaan ibunya yang telah renta. Bagaimana kalau ia sakit, siapa yang merawatnya.” Gumam Kayla dalam hatinya.

Hangatnya mentari mengiringi langkah Kayla menuju gubuk nenek Wahidah pagi itu. Dari kejauhan terlihat nenek Wahidah sedang menikmati singkong rebusnya dengan penuh rasa syukur. Hati Kayla begitu damai melihat apa yang terjadi dalam pandangan matanya. Tidak lama kemudian nenek Wahidah menyambut kedatangan Kayla dengan senyuman lembut.
“Pagi nenek”, sapa Kayla.
“Pagi juga Kayla. Kamu cantik sekali pagi ini”, ucap nenek.
Kayla mencium tangan nenek Wahidah, lalu nenek Wahidah mempersilahkan Kayla duduk di sampingnya.

“Kayla, kamu tidak sekolah?” tanya nenek Wahidah.
“Kan ini hari Minggu nek”, jawab Kayla.

Baca Juga  Bukan Karena Mereka, Tapi Karena Kita

Kemudian nenek memeluk Kayla dengan erat. Terlihat kebahagiaan mereka tiada batas. Senyuman dan canda selalu terukir pada wajah mereka berdua. Nenek Wahidah sudah menganggap Kayla sebagai cucunya sendiri. Seperti biasa, Kayla kerap datang ke gubuk nenek Wahidah untuk menemani nenek Wahidah. Kayla merasa nyaman dengan keadaan itu. Kondisi fisik Kayla yang berbeda dengan orang pada umumnya membuat teman-teman sebayanya tidak mau bergaul dengannya. Bahkan orang-orang tua di sekitar rumah tinggal Kayla pun terkadang mengoloknya. Ada yang memanggil Kayla anak siluman. Ada juga yang memanggilnya manusia jadi-jadian.

Telinga Kayla yang panjang sebelah membuat orang sering berkata yang tidak-tidak. Ibu Kayla yang keberadaannya tidak diketahui semakin membuat deras olokan-olakan itu hadir. Begitu juga dengan ayah Kayla yang tidak menerima kondisi fisik anaknya, sehingga ia pun menyianyiakan Kayla begitu saja. Kondisi yang sedemikian rumit tidak membuat Kayla terpuruk. Ia percaya dan yakin jika ia diciptakan oleh Tuhan di dunia ini pasti ada manfaatnya. Kayla banyak belajar dari nenek Wahidah bagaimana menjalani hidup, sehingga ia bertahan dan senantiasa bersyukur.

Masih dalam tempat duduk yang sama sembari menikmati singkong rebus, Kayla tiba-tiba terdiam. Melihat hal itu nenek Wahidah pun tidak tinggal diam.

“Cucuku Kayla, kenapa wajahmu berubah murung”, tanya nenek Wahidah.

“Nek, kalau aku mati akan masuk surga tidak? Semua orang tidak menyukaiku dan ayahku pun tak menginginkan kehadiranku. Apa Tuhan juga tidak menginginkan aku tinggal bersamanya, sehingga ia akan memasukkanku ke neraka?” ucap Kayla sembari matanya berkaca-kaca.

Baca Juga  BERKAH DI UJUNG DERITA

“Cuk. Tuhan itu maha bijaksana, tidak seperti manusia. Ia maha segala-galanya. Surga itu milik orang-orang yang baik. Kayla anak baik, pasti masuk surga. Jadi, Kayla jangan sedih ya ! Kayla masih mempunyai nenek dan Tuhan yang tidak akan pernah membencimu.” Tutur nenek Wahidah.

“Nek, di antara kita siapa yang akan terlibih dahulu bertemu dengan Tuhan?” Kayla kembali bertanya.

“Husss pertanyaanmu kok ngelantur cuk. Rizki, jodoh, dan maut itu Tuhan yang menentukan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Sudah-sudah itu singkongnya dihabiskan. Biar kamu kenyang”. Ungkap nenek.

Sinar sang surya terasa menyengat kulit Kayla pun meminta izin untuk meninggalkan gubuk nenek Wahidah. Langkah kakinya terlihat gontai, ia mulai berpikir tidak seperti biasanya. Ia merasa pusing, kakinya lama-lama melemah. Satu langkah berikutnya kaki Kayla tak dapat menopang tubuhnya. Ia pun jatuh tersungkur. Dan terperosok ke dalam jurang.

Satu minggu kemudian keadaan mulai berbeda. Nenek Wahidah mulai resah. Sudah lama rasanya Kayla tidak datang menemuinya. Ia takut terjadi apa-apa pada Kayla. Nenek Wahidah menunggu di kursi depan gubuknya berharap Kayla datang dan bercanda lagi dengannya. Tapi sampai larut malam Kayla tak kunjung hadir. Nenek Wahidah pun tertidur di kursi depan gubuknya. Malam itu antara sadar dan tidak, nenek Wahidah melihat gadis cantik. Kecantikannya tidak ada yang dapat menandingi di dunia ini. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya. Dan berkata “Terima kasih nenek, surga adalah tempat orang-orang baik. Terima kasih engkau telah membimbingku. Semoga kelak kau akan menemaniku di sana.”

Comments

SHARE
Previous articleDavid Darmawan: Bangsa Ini Butuh Ketauladanan dan Ethos Kerja !
Next articleDestinasi Romantis di Magelang
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here