Ki Roni Sodewo: “ Jalan Diponegoro Sepantasnya Nama Jalan Depan Pendopo Purworejo! (1)

0
643

Oleh: Ilhan Erda

“Saya sebagai Ketua Trah Pangeran Diponegoro, hanya ingin saja andai ada SK Hari Jadi Kabupaten Purworejo yang baru. Seyogyanya, nama Jalan di depan Pendopo atau Jln. Dr. Setiabudi juga diubah menjadi Jln. Diponegoro. Itu saja.”

Ki Roni dalam rangka ziarah dan silaturahmi ke famili Pangeran Diponegoro di Purworejo (5/10/2017) ini juga menekankan. Silahkan andai mau merujuk ke berbagai literen, hasil kesepakatan apapun. Entah merujuk ke Arahiwang atau Jumenegan dilantiknya Adipati Cokronegoro, tak masalah bagi Beliau dan keluarga Pangeran Diponegoro se Indonesia.
Suatu kejutan datangnya Ki Roni Sodewo ke 2 kalinya ke Purworejo ini.

Selain beliau berkunjung ke saudaranya Puri Hanindja Djaja yang masih satu trah Pangeran Diponegoro.
Kunjungan sehari penuh ini memang sengaja Ki Rono Sodewo lakukan di Purworejo. Selain untuk menyambung silaturahmi para keturunan Pangeran Diponegoro yang tercerai berai juga untuk menjejak beragam situs yang ada kaitan dengan moyangnya itu.

Baca Juga  LIMBAH BAMBU YANG BERNILAI EKONOMI

Beliau adalah generasi ke 7 dari Pangeran Diponegoro, atau putra dari Pangeran Alip atau Bagus Singlon. Totalitas dari Ki Roni Sodewo untuk mengumpulkan“ balung pisah” Diponegoro tak tanggung-tanggung, beliau keluar dari Kementerian Keuangan dan pulang ke Wates guna mulai melacak keberadaan saudara-saudaranya ini.

“Di Purworejo, ada Mbakyu saya, tak lain ya Mba Hanin ini yang bernasab ialah dari RA Hangreni Mangunjaya, puteri Eyang P Diponegoro. “
Perjuangan Ki Roni Sodewo pertama masih sangat jelas, bagaimana ia mengenang bersua pertama kali dengan Alex Diponegoro di Beograd Yugoslavia , dan dari situ beliau dengan penuh semangat mulai merajut kembali puzle-puzle yang terpisah dari catatan panjang keluarga besar Diponegoro ini.

Beberapa istri dari Pangeran Diponegoro seperti dituturkan ki Roni ada RA Retno Madungbroto, RA Supadmi, RA Retnodewati, RA Citrowati, RA Maduretno, RA Retnaningsih, RA Retnakumala, RA Retnaningrum. Sang Pangeran menikah setelah istrinya meninggal dan berpindah-pindah lokasi karena berjuang melawan pendudukan Belanda.

Baca Juga  Kenikmatan Itu Bernama Mundur

image
Ki Roni Sodewo atau dari nenek moyang RA Citrowati ini juga menekankan bahwa nilai-nilai kebhinekaan adalah prasyarat mutlak yang harus dijaga dan diperjuangkan sampai mati. Sebagaimana bisa diambil dari sejarah awalnya semisal upaya Presiden Sukarno, Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Menteri Pertahanan dan Raden Mas A Johan Diponegoro. Mencoba merekonsiliasi dari Trah Pangeran Diponegoro dengan Kesultanan Jogjakarta. Kisah ini terjadi tahun 1952.

Ki Roni Sodewo sendiri sebagai Ketua Patra Padi atau Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro atas mufakat keluarga besar yang diikrarkan tanggal 11 November 2015 di Tegalrejo Jogjakarta tak akan berhenti sampai di sini guna melanjutkan perjuangan Eyangnya tersebut.

Termasuk kini mulai dari kerabat trah seperti Ki Roni Sodewo, Rahadi Saptata Abra, Puri Hanindja Djaja dll serta fihak keraton ada GBPH Yudhaningrat dan Prof Peter Carey, Wardiman Djojonegoro, seniman Landung Simatupang berkreasi dan berkarya dengan semua bidang mewujudkan spirit dan ethos dari pada Pangeran Diponegoro sendiri semisal ada Wayang Diponegoro, Haul rutin dan seminar, film dll nya.

Baca Juga  Tips ASI Eksklusif Ibu Pekerja

“Termasuk di Purworejo atau Bagelen dengan riwayat panjang dan luasnya. Sudah selayaknya nama Eyang kami ada di depan Pendopo Ageng Purworejo menggantikan nama Jalan Dr. Setiabudi. Terlepas dari kebijakan baru atau apa yang sedang diupayakan oleh Bupati Purworejo, Bapak Agus Bastian, yang kebetulan juga dekat dengan salah satu keluarga kami di Jogjakarta.”

Esensi daripada semuanya. Sejarah yang berliku dan terkadang memeras peluh panjang dan lelah tiada berkesudahan pasti ada saripati hikmah untuk kebaikan di era selanjutnya. Dan semoga sesuai dengan keinginan dari Keluarga Besar Pangeran Diponegoro ini buat Purworejo ada juga kemajuan baru, peradaban baru yang menghargai nilai kejuangan para pendahulunya secara jujur dan diniati sebagai ibadah.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here