ALASAN DI BALIK SEBUAH MITOS

0
270

Kontribuasi: Desy Pramitasari

REVIENSMEDIA.COM, MOJOKERTO – Mitos (Bahasa Yunani: Mythos) atau mite (Bahasa Belanda: Mythe) merupakan prosa rakyat yang menceritakan kisah berlatar belakang masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan makhluk di dalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi oleh si “empunya” cerita ( www.m.otonomi.co.id). Dalam pengertian masyarakat kita, biasanya mitos lebih mengacu pada sebuah cerita tradisional, yang disebarkan untuk menyampaikan pengalaman religius atau ideal, untuk membentuk model sifat-sifat tertentu dan sebagai bahan ajaran dalam suatu komunits di dalam masyarakat.

Dalam masyarakat Indonesia, mitos masih dipercaya dan diyakini oleh sebagian masyarakat. Mereka percaya bahwa mitos adalah suatu hal yang berasal dari nenek moyang dan harus diwariskan kepada generasi selanjutnya. Selain itu, mereka juga masih menjunjung tinggi dan menjadikan hal tersebut sebagai tolak ukur untuk melakukan sesuatu. Mitos-mitos tersebut diantaranya adalah pada malam hari kita dilarang berdiri di bawah pohon agar tidak dibius setan, tertimpa cicak artinya akan mendapat kesialan, jangan bersiul pada malam hari, jangan duduk di depan pintu nanti akan sulit mendapat jodoh, jangan keramas waktu hari pernikahan nanti hujan dan masih banyak mitos lainnya.

Berbicara mengenai mitos-mitos tersebut, sebenarnya diantara kia pasti banyak yang pernah mengalaminya. Bahkan, orang tua kita sering sekali memarahi kita karena mitos-mitos tersebut. Ketika kita masih kecil dan bertanya alasan dibalik larangan tersebut maka orang tua kita akan berkata, “Masih kecil belum waktunya tahu. Pokoknya gak boleh ya gak boleh. Ora ilok.”, itulah jawaban klasik yang sering orang tua katakan kepada kita.

Maka, paham maupun tidak kita dengan aturan tersebut kita harus mematuhinya karena itu sudah ada sejak dari dulu. Tapi sebenarnya dalam lubuk hati kita menolak untuk menyetujui kepercayaan tersebut. Akhirnya, kita akan mencari jawaban logis yang mampu mendukung agar kita percaya dengan kepercayaan-kepercayaan tersebut. Mencoba mencari jawaban yang nantinya akan mampu kita wariskan kepada anak cucu kita agar jawaban kita tidak sekedar jawaban tapi juga mampu dipahami oleh anak nantinya.

Baca Juga  Kunjungan & Diskusi Budaya Jawa Sinorowedhi ke Lowano

Sebenarnya kepercayaan yang paling sering kita alami adalah kepercayaan “Jangan berdiri di depan pintu, nanti rezekinya jadi sulit.” Atau mungkin “Jangan duduk di depan pintu, nanti sulit dapat jodoh.” Kedua kepercayaan tersebut adalah kepercayaan yang sering menimpa kita, selalu berhungan dengan pintu. Saat kita mengulas lebih logis lagi dibalik larangan tersebut, kita akan menemukan alasan-alasan lain. Seperti, saat kita makan, duduk atau berdiri di depan pintu, bagi seseorang yang belum menikah kebiasaan tersebut secara tidak langsung bisa mengartikan banyak hal dari sifat orang tersebut. Salah satunya adalah menunjukkan sifat bahwa orang tersebut pemalas, karena hanya menghabiskan waktu dengan berdiam diri saja.

Selain itu, kebiasaan tersebut juga menunjukkan bahwa orang tersebut adalah pribadi yang tidak memiliki pendirian yang kuat. Hal ini terjadi karena orang tersebut tidak bisa menentukan pilihan. Mereka seharusnya dapat memilih untuk langsung keluar dari pintu atau masuk ke dalam. Karena mereka lebih suka menghabiskan waktu di ambang pintu tanpa pasti, bisa jadi mereka adalah pribadi yang mudah untuk digoyahkan. Lalu, yang terpenting adalah duduk, makan dan berdiri di depan pintu adalah perbuatan yang menyusahkan orang lain. Ketika orang lain dari dalam atau keluar rumah ingin masuk atau keluar maka mereka akan kesuliatan untuk melakukannya karena ada kita di depan pintu.

Kemudian, pada zaman dahulu seorang pria akan lebih menyukai dan menghargai sosok wanita yang misterius dan tertutup ( www.koranjitu.com ). Itulah mengapa pada zaman dahulu seorang wanita harus dipingit oleh orang tua mereka. Saat mereka dipingit, mereka akan dijaga ketat oleh orang tua mereka, dipelihara dengan baik dan diberi pendidikan yang relevan untuk kehidupan berkeluarga nantinya. Itu artinya para pria pada masa itu tidak suka dengan gadis yang suka memamerkan kecantikannya. Jadi, jika ada seorang gadis yang duduk di depan pintu itu maknanya mereka akan dipandang oleh banyak orang yang melewati rumah dan dianggap kurang baik.

Baca Juga  MEMOAR ANGKOTER SEJATI

Mitos lain yang masih dipecaya oleh masyarakat adalah larangan melakukan keramas pada hari pernikahan. Mereka percaya bahwa ketika kita melakukan keramas pada hari pernikahan maka akan turun hujan yang akan menghambat kegiatan pernikahan atau mungkin menghambat tamu untuk datang bahkan mereka rela mencari pawang hujan untuk mengubah arah turunnya hujan. Tidak logis memang, ketika keramas dan hujan bisa menjadi satu kesatuan. Mungkin karena sama-sama berhubungan dengan air.

Terlepas dari kepercayaan ersebut, ketika kita mengupas lebih dalam tentang alasan dibalik larangan melakukan keramas sebenarnya adalah untuk lebih mempermudah pengrias pengantin melakukan tugasnya. Ketika sang pengantin mengkramasi rambutnya, maka tekstur rambut akan menjadi lebih lembut dan halus. Yang artinya, rambut tersebut akan lebih sulit untuk disasak dan dibuat sanggul.

Jika sang pengantin tetap ingin keramas di hari pernikahan dan tidak menyusahkan pengrias pengantin mungkin dia bisa menggunakan kerudung sehingga tidak perlu disasak rambutnya. Lalu, jika kita berbicara tentang hujan, sebenarnya hujan dalah rahmat dari Yang Maha Kuasa bukanlah sebuah hambatan bagi kita, jika memang tidak ingin turun hujan ketika hari pernikahan kita bisa menentukan hari pernikahan pada bulan-bulan musim kemarau bukan musim penghujan.

Terlepas dari semua itu, setiap mitos yang dipercaya oleh masyarakat selalu mengajarkan kita untuk selalu menjunjung tinggi norma-norma dalam masyarakat. Terutama norma kesopan dan etika perilaku dari seseorang. Sehingga kita harus tetap menghargai setiap kepercayaan masyarakat dan leluhur kita karena kebudayaan inilah yang membuat Indonesia menjadi kaya, yang seharusmya mampu menyatukan setiap perbedaan yang ada dengan cara-cara yang lebih berkualitas tentunya.

Picture: harmonisaudara.com

Comments

SHARE
Previous articleBelajar Bersetia di Seni Peran Ala Annisa Hertami
Next articleMencoblos dengan Cinta
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here