Mencoblos dengan Cinta

0
414

Kontribusi: Tantri Moerdopo

(Pembawa acara di stasiun televisi berita pertama di Indonesia)

Bulan Februari selalu menjadi bulan yang spesial, selain karena jumlah harinya yang lebih sedikit dari 11 bulan lainnya, Februari selalu identik dengan bulan kasih sayang.

Mendekati 14 Februari, rasa hati pun ikut “berbunga-bunga”, apalagi ditambah dengan hiasan “berbau” valentine di pusat perbelanjaan maupun tempat –tempat hiburan lainnya. Belum lagi dengan tradisi memberi kado di bulan ini yang kemudian dikemas sedemikian rupa oleh para marketer hingga menjadi sebuah “kewajiban” yang diberikan arti kasih sayang, mulai dari coklat, boneka, bunga, kalung berbandul hati, dan lain sebagainya.

Ada banyak catatan mengenai asal muasal valentine atau hari kasih sayang ini. Menurut tradisi Athena kuno, pertengahan Februari disebut Gamelion dan diperingati sebagai hari pernikahan suci dewa Zeus dengan Hera. Sementara tradisi Roma Kuno menyebutkan bahwa 14 Februari adalah perayaan dewi kesuburan atau hari raya Lupercalia. Gereja katolik pun tidak mau ketinggalan ikut serta dalam mencatat sejarah valentine versi mereka, bahkan sebelum tahun 1969 gereja Katolik memperingati 14 februari sebagai peringatan Santo Valentinus yang digadang-gadang mengilhami munculnya kata “valentine” yang digunakan hingga hari ini.

Secara pribadi, saya tidak terlalu perduli tentang sejarah valentine ini, buat saya yang terpenting adalah makna indah yang terkandung di dalamnya. kita sebagai manusia diingatkan kembali tentang cinta, diingatkan bahwa masih ada cinta, diingatkan bahwa kita berasal dari cinta, dan diingatkan pula untuk membagi cinta yang ada. Bagi saya cinta adalah bahasa kehidupan, universal, milik seisi dunia.

Baca Juga  Jangan Lewatkan Indonesia Aquaculture Summit 2018

Bahkan karena terlalu universal, rasanya menjadi terlalu egois kalau mendefinisikan hari valentine hanyalah milik sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Bukankah seisi dunia bisa berarti cinta kepada orang tua, guru, hewan peliharaan, pekerjaan yang kita geluti, bahkan juga cinta kepada tanah air.

Hah? Tanah air?

Lah! Ya iya tanah air, memangnya ada masalah? Kok jadi sensitifsih ya kalau berbicara tentang tanah air, “baper –an” banget deh! Kata anak zaman sekarang.

Padahal sejarah Republik ini mencatat, 14 Februari 1945, peristiwa berdarah terjadi di bumi Indonesia, pasukan PETA ( Pembela Tanah Air ) di bawah kepemimpinan Supriyadi mengadakan perlawanan terhadap kekaisaran Jepang di Blitar. PETA adalah pasukan elite bentukan Jepang dengan “rasa” lokal. Para Pemuda terbaik kala itu direkrut untuk masuk sebagai tentara teritorial guna mempertahankan Pulau Jawa, Bali dan Sumatera jika pasukan sekutu datang, tercatat bahwa Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, pernah menjadi anggota PETA, begitu juga dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Sementara Supriyadi beserta Muradi dan rekan-rekannya yang terlibat dalam perlawanan adalah lulusan angkatan pertama PETA di bogor yang lantas ditugaskan di Blitar.

Baca Juga  Beda Itu Unik

Darah para prajurit muda tersebut mendidih melihat penderitaan rakyat Indonesia yang diperlakukan bagai budak dalam penjajahan Negara yang terkenal dengan bunga sakuranya itu, belum lagi banyak yang tewas karena system romusha yang diberlakukan. Kegeraman pun bertambah dengan adanya aturan bahwa tentara PETA harus memberi hormat kepada tentara Jepang walaupun pangkat mereka (tentara Jepang) lebih rendah dari tentara PETA serta berbagai perlakuan merendahkan lainnya walau tentara Jepang dan tentara PETA ditugaskan untuk “berjuang” bersama.

Untuk mengenang perjuangan pemberontakan ini, tepat di lokasi perlawanan didirikan monumen PETA yang “diwakili” oleh tujuh patung tentara PETA dalam posisi siap menyerang. Supriyadi sang pemimpin serangan pun diangkat sebagai salah satu pahlawan Nasional.

Buat saya, inilah makna valentine sesungguhnya, ketika kita bisa memberikan cinta secara universal tanpa pamrih, tanpa meminta balasan, tanpa meminta bayaran. Cinta yang diberikan tanpa memandang suku, ras dan agama. Rasa-rasanya hampir tidak ada yang menyebutkan apa agama Supriyadi dalam literatur yang saya baca mengenai sejarah PETA, ataupun tidak ada juga yang menuliskan tentang para anggota PETA lainnya disaat akan memulai serangan lalu menanyakan pada Supriyadi: “Pak, agama Bapak apa ya? Kalau tidak sama dengan kami maka kami mundur dan tidak mau menyerang Jepang “.

Baca Juga  Surat Cinta Untuk Guru

Bahasa para tentara PETA adalah satu: demi Indonesia, semangat mereka ya Cuma satu: demi Indonnesia, cinta mereka ya Cuma satu: demi Indonesia.

Sementara tujuan para pahlawan hebat ini tercapai, Jepang hengkang dari tanah air kita, Indonesia raya pun berkumandang dan bendera merah putih berkibar dengan gagahnya. Eh kok malah sekarang kita jadi dijajah oleh pikiran-pikiran sendiri. Pikiran yang dibangun dari sifat intoleransi, pikiran yang dibentuk dari hoax yang beredar, pikiran yang menjajah pribadi kita untuk mau merdeka dan bebas berpendapat karena kalau Anda “beda” dengan saya, maka saya akan langsung unfriend Anda. Titik habis tanpa koma dan tanpa penjelasan.

Ah capek!!

Padahal sebentar lagi kita akan merayakan valentine, harusnya rasanya adem anyem penuh kasih sayang, karena cinta katanya memberikan rasa aman dan nyaman.

Doa saya malam ini,

Tuhan, Jangan sampai valentine dirusak karena 15 Februari 2017, Amein.

Selamat mencoblos dengan penuh rasa cinta!

Jakarta,12 Februari 2017

Image: Orangmudakatolik.net

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here