SUSUK : NEGERI LUMBUNG PADI

0
243

Laporan: Yuli Setyawan

REVIENSMEDIA.COM, PURWOREJO – “Pak kenapa negeri kita dinamakan Jamrud Khatulistiwa?”, tanyaku pada Bapak. “Yaaa, karena negeri kita ini warisan dari Empu Gandring”, jawab Bapak singkat. Mungkin dari jawaban Bapak itulah, kini timbul rasa penasaran yang makin berkecamuk dalam pikiranku. Apakah sebenarnya hubungan antara negeri ini dengan Empu Gandring. Siapakah sebenarnya Empu Gandring ini yang tak lebih dari seorang pandai besi? Bagaimana juga Empu Gandring ini bisa memiliki tongkat, kayu dan batu yang bisa jadi tanaman?

Berada jauh dari hiruk pikuk kota, Susuk memiliki potensi alam yang luar biasa. Letaknya yang strategis, menghubungkan antara 2 kecamatan, yaitu Purwodadi dan Grabag, menjadikan Ngombol sebagai destinasi alternatif praktis jalur mudik menuju kota Yogjakarta dan Solo maupun sebaliknya. Susuk merupakan sebuah desa cantik yang diapit puluhan ribu hektar sawah yang pernah menjadi penopang perut ratusan ribu warga Purworejo. Julukan sebagai Lumbung Padinya Purworejo pernah disandangnya.

image

Selain itu Susuk menawarkan geliat ekonomi dan wisata budaya Jawa khas Mangkunegaran. Salah satunya tarian Jidur Lanang yang kembali eksis 2 tahun terakhir ini, walaupun sempat hilang selama beberapa dekade karena proses regenerasi yang terputus. Tarian yang dipercaya sebagai perantara datangnya makhluk ghaib dengan busana mirip tentara Belanda ini juga merupakan perwujudan rasa terima kasih kepada alam dan lahan pertanian yang begitu melimpah.

Baca Juga  Chrisye: Suara Sutra Dari Pegangsaan (Memory of Chrisye)

Susuk sendiri berasal dari kata “ngesuk-esuk” atau dalam Bahasa Jawa berarti berhimpit-himpitan. Hal ini didasarkan pada anggapan sebagian besar warga kala itu, bahwa warga asli Desa Susuk memiliki banyak sawah yang menghimpit tanah orang. Tapi kenyataannya memang demikian. Sebagai contoh, mantan lurah era kemerdekaan, ayah Prof Mahar Mardjono, yang kini sudah wafat, memiliki ratusan hektar sawah yang tersebar di kecamatan Ngombol. Atau kakek saya sendiri, Simbah Kakung Sontodimedjo yang memiliki beberapa lahan sawah yang tersebar di luar wilayah desa Susuk.

Dari hal inilah, kemudian diberikan nama “Susuk” yang berarti ngesuk-esuk (berhimpit-himpitan).
Wilayah Desa Susuk semulanya merupakan pecahan dari 3 Desa yang kini telah berdiri sendiri yaitu Desa Klandaran, Desa Mendiro, dan Desa Susuk sendiri yang bernama Mangunharjo. Kapan tanggal pastinya masih menjadi perdebatan hingga kini. Dari masing-masing desa tersebut memiliki kepercayaan yang disakralkan, sebagai contoh, Desa Klandaran memiliki Pangeran Gledek yang berlokasi di Kebon Ndoro, Desa Mendiro mempunyai Banyu Mendiro. Sedangkan desa Susuk memiliki Pendowo Limo yang dipercaya sebagai tokoh yang pertama kali membuka hutan desa Susuk.

Baca Juga  Dua Sisi, dalam Antologi Cerpen

image

Di luar anggapan tersebut, Desa Susuk ternyata dihuni oleh masyarakat yang agamis. Ini dibuktikan dengan berdirinya sebuah pondok pesantren bernama Nurun Najjah. Pondok pesantren ini menampung santri dari dalam dan luar desa Susuk. Berlokasi di masjid Al Hikmah yang telah berusia ratusan tahun dan menjadi saksi bisu penyebaran agama Islam di Purworejo, khususnya kecamatan Ngombol.

Proses literasi dan pembangunan kini mulai tergali. Susuk bangkit dan bermetamorfosa menjadi desa yang terdepan dalam menggali potensi wisatanya. Lebih lagi dengan berdirinya bandara Kulon Progo menjadikan kawasan desa Susuk diperhitungkan di dalam negeri sebagai desa wisata unggulan. Salam berbudaya.

Comments

SHARE
Previous articleEntahlah
Next articlePesona Pantai Patawana Kabupaten Fakfak
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here