MENGULIK BATIK MADE IN BULIK

0
254

Laporan: Sri Widowati Retno Pratiwi

REVIENSMEDIA.COM, PURWOREJO – Badan internasional UNESCO telah resmi mengakui bahwa batik merupakan warisan budaya dunia asli dari Indonesia. Sebagai WNI tentu kita semua bangga karenanya. Tetapi rasa bangga saja tidaklah cukup. Perlu adanya komitmen kuat dan aksi nyata terus menerus guna melestarikan kain bercorak unik ini agar tidak tergerus oleh laju perubahan zaman.

Di berbagai daerah terutama di pulau Jawa para perajin mengembangkan beraneka ragam motif batik, baik yang bernuansa klasik, maupun yang bergaya modern atau kontemporer. Demikian pula halnya dengan pembatik-pembatik yang bermukim di Purworejo. Beberapa motif batik klasik yang berkembang di kota Berirama ini di antaranya, motif kawung, kesit, sidomukti, lung kenongko, lung semongko, uke, jalak mure dan melati seconthong.

Sementara untuk batik kontemporer terdapat motif wayang, bunga-bunga nusantara dan Adipurwa. Memang geliat produksi batik di Purworejo tak segesit produksi batik di kota-kota ternama, seperti Pekalongan, Solo dan Yogya. Namun ketekunan dan kreativitas perajin-perajin batik Purworejo layak mendapat acungan jempol. Salah satu dari sekian banyak perajin batik Purworejo adalah kerabat penulis sendiri, yaitu tante atau bulik Sunarti.
Bulik yang bertempat tinggal di desa Ngaran, kecamatan Kaligesing ini menuturkan, ”Saya pertama kali membatik pada November 2014. Ketika itu saya mengikuti pelatihan batik tulis yang merupakan bagian dari program kegiatan PNPM di desa Ngaran. Total peserta kelompok pelatihan tersebut 16 orang. Setelah pelatihan berakhir, pihak PNPM memberikan bantuan modal berupa bahan dan peralatan membatik kepada masing-masing peserta agar semua bisa mengembangkan kerajinan batik secara mandiri”. Kemudian bulik Sunarti mulai memasarkan batik karyanya melalui suatu event pameran produk-produk local di akhir 2014.

Baca Juga  Bedug Made In Choudori Yang Lestari

Dari 9 helai kain batiknya yang dipamerkan dan dibanderol seharga 150 ribu rupiah ternyata laku 2 helai. Sebagai pemula tentu hasil tersebut cukup menggembirakan dan menjadikan bulik makin mantap menekuni usaha kerajinan batik.

Hingga kini bulik Sunarti terus membatik di sela-sela aktifitasnya sebagai ibu rumah tangga, maupun kesibukannya dalam kegiatan-kegiatan desa. Padahal banyak teman-teman seangkatannya semasa pelatihan yang sudah berhenti membatik. Bulik berujar, ”Masalah utamanya soal modal karena biaya untuk pembelian bahan dan peralatan membatik memang mahal. Tetapi berhubung saya menyukai kerajinan semacam ini ya saya jalani saja apapun tantangannya. Membatik itu tidak sulit, namun juga tidak mudah. Yang penting ada kemauan dan selalu mengasah diri bagaimana supaya bisa lekas trampil.”

Lebih lanjut bulik menjelaskan jika dirinya membatik menggunakan pewarna kain reumashol dengan teknik oles. Teknik tersebut terbilang mudah ketimbang teknik-teknik pembuatan batik tulis lainnya. Sedangkan durasi pengerjaannya untuk satu helai batik berkisar antara dua tiga hari sampai seminggu.

Awalnya bulik Sunarti sering membuat batik Adhi Purwa. Batik Adhi Purwa adalah batik yang motifnya menggambarkan segala macam potensi yang ada di kabupaten Purworejo, seperti durian, empon-empon, kambing ettawa, bedug, tari dolalak , clorot dan lain sebagainya. Batik hasil rancangan almarhumah Hartanti Hartomo tersebut telah ditetapkan sebagai batik khas Purworejo pada 2009. ”Pernah pegawai-pegawai dinas diwajibkan memakai seragam batik Adhi Purwa tiap hari Rabu. Waktu itu cukup banyak yang memesannya ke saya. Tapi sekarang sudah tak ada lagi kewajiban memakainya, jadi ya terus pudar. Lalu saya bikin batik kreasi sendiri yang bermotif seputar tumbuhan dan hewan. Tetap sih bikin batik Adhi Purwa karena kadang-kadang masih ada yang mau beli walau cuma satu atau dua helai saja ”, ungkap bulik panjang lebar.

Baca Juga  Kopi Ethiopia Untuk Donasi Perpustakaan di Republik Syuruput

Memang masalah pemasaran juga menjadi kendala karena bulik Sunarti masih tergolong pemain baru dalam bisnis batik ini. Bulik mengakui jika belum memiliki jaringan yang cukup luas dan signifikan untuk memasarkan batik-batik buatannya itu. Meski demikian dirinya tetap semangat berkarya. Getol menjajal semua media promosi dari getok tular, ajang pameran, hingga promo melalui akun media sosial milik putra-putranya. Tak lain karena bulik Sunarti melihat bahwa usaha kerajinan batik sebenarnya berprospek lumayan. Walau enggan menyebut angka, menurut bulik keuntungan dari usaha membatik dapat menambah dana untuk mencukupi kebutuhan dapur.

Berkaca dari pengalaman bulik Sunarti tersebut, maka jelas bahwa tanggung jawab pelestarian batik, khususnya batik khas daerah tidak bisa hanya dibebankan sepenuhnya kepada para perajin batik semata. Perlu ada sinergi antara perajin dengan para pemangku kebijakan dan juga masyarakat secara umum. Karena kerajinan batik sesungguhnya termasuk industri kreatif yang potensial untuk mendorong kemajuan perekonomian bangsa.

Comments

SHARE
Previous articlePesona Pantai Patawana Kabupaten Fakfak
Next articlePameran Tunggal & Malam Amal Ni Wayan Supadmi
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here