Senyum Itu Masih Ada, Beliau Orang Baik

0
449

 Oleh: Ilhan Erda

Orbituari buat Sang Filsuf. Sang Dalang Renaisans: Prof. George Soedarsono Esthu

“Han, ayo melu ndak. Kita ke Cibadak, di petilasan bersama keluarga besar Pangeran Kidang Kencana. Han, ayo kita ke Sukabumi menemui tokoh bambu Jatnika Nanggamiharja. “Beliau hafal nasab dari Sunda-Bagelen. Atau, “ Han, ayo ke Jakarta Timur, ada acara seni budaya bareng Pengageng Keraton Surakarta.” kata beliau.

Om Esthu, demikian saya menyebutnya. Awalnya adalah sangat asing bagi saya. Sosok yang saat saya menyapa dan perkenalkan diri apa tujuan mula saya menghubunginya karena satu konotasi kata yang sama. Purworejo sebagai tempat lahir.

Lantas beliau menyodorkan riwayat hidup yang seabreg panjangnya dan link tulisan berjudul ” Pengalaman Saya Sebagai Jurnalis.”
Pencipta Wayang Renaisans, pendiri Jaringan Budaya Delta Indonesian Foundation, Direktur Jogjaview Laras Media, Director di Iena Music Symphony, Direktur Art & Science di Teater Populer, founder Craftleadership, pengajar di Bengkel Rendra Depok, Koordinator di Kompas Gramedia, Direktur Partner di Narakarsa, pemimpin redaksi di Majalah Kontak, Editor di Harian 45 milik Adam Malik, dan pemimpin Harian Merdeka Jakarta serta sebagai Konsultan Manajemen dan SDM ratusan PT dan institusi seluruh Indonesia serta juri berbagai macam kegiatan budaya.

“Han, kumpulkan lah orang-orang yang bernasab Bagelen. Diaspora Bagelen se Indonesia. Aku hanya bisa sumbang idea dan konsep rapi. Percayalah, aku berikhtiar dalam satu periode 5 tahun bebarengan buat Purworejo kota yang unggul nantinya. Oh ya, nanti aku nyekar ke Banyuurip dan Bagelen sekaligus akan mampir dan ketemu kamu dan seniman se Purworejo.” Begitu amanatmu .

Baca Juga  Bermimpilah Jadi Pengusaha, Jangan Menjadi PNS Lagi

Om Esthu yang sedari dini,tepatnya usia 5 tahun sudah lekat dan intim dengan huruf dan kata. Ayahanda nya yang seorang pemimpin pondok pesantren Tauhid Jawa terbesar saat itu dan kutu buku juga memungkinkannya beliau berinteraksi dan juga tak asing dengan Kitab-kitab Jawa, Al Quran, segala macam olah rasa serta kidung dan tradisi luhur moyang nya.
“Saya dibekali sedari kecil oleh Bapak. Tepatnya ditajam nya wawasan kinestetik, auditory dan sebagainya yang membentuk diri ini seperti ini.” Urai beliau singkat.

Wawasan yang membentang luas perihal dan problematika sosial, budaya dan etika. Dibalut dengan nilai-nilai falsafi yang berbobot. Khas dari alumni Doktoral sebuah sekolah tinggi Filsafat di Jakarta yang sama asal dan sejarah nama sekoalah filsafat itu dengan dirinya.

Menulis sajak sejak di Sekolah Pendidikan Guru Bruderan Purworejo. Beliau kemudian hijrah ke Ibukota dan petualangan, dahaga keilmuannya semakin terisi saat menjadi resensor karya Arifin C Noer, Ikrar Negara, Putu Wijaya dll nya.

Intimnya dengan tokoh Bangsa Adam Malik, serta berpindah-pindahnya dari ragam dan judul media massa se Jakarta saat itu.
Intelektualitas yang mumpuni ternyata sejalan dengan prinsip hidup dan idealis nya, nilai hidup yang beliau pegang. Kehidupan sederhana dan pemikir bebas tetapi tetap berpatron pada kaidah keilmuan dan kebermanfaatan.

Baca Juga  Kuntilanak Pengen Tenar

Menjadi pembicara dan juri di berbagai event seni budaya atau lingkungan bersama G Sumaryono CEO IBM Indoneia, Emil Salim dan ratusan tokoh bangsa lainnya.

Kemantapan ilmu dan samudera wawasan yang membentang menjadikannya mudah untuk ganti haluan dan dekat dengan tokoh bangsa siapa saja. Bersama sahabatnya Darmanto Jatman sempat menjadi pegiat rekonsiliasi konflik, dan bersama Eross Djarot mendirikan PNBK. Di mana sebelumnya membantu WS Rendra sampai penghujung tahun 1996.

Beliau yang hafal dengan detail riwayat agama-agama langit semisal Katholik, Islam dan Yahudi. Serta agama lainnya dan adat dengan sangat baik semisal Hindu, Buddha, dan Zen.

Beberapa catatan pribadi nya mensyaratkan beliau adalah terlahir dari seorang putra Ulama tradisional dan dekat dengan unsur pendidikan Katholik Jawa.” Saya juga dinisbatkan sebagai penganut Tariqat Qadiriyah di Cibadak.” tukas beliau.
Sama. Perjalanan dan narasi para sahabatnya juga senantiasa menyapa dari ujung Papua, Manado, Bali dan sepenjuru Nusantara. Sampai 2 hari ini kepulangannya.

Istikomah nya yang saban pagi hari memberi puisi kasih ke sahabat-sahabat virtualnya lewat jejaring sosial media, ucapan milad dan dibaginya ilmu-ilmu, saripati hidup yang beliau alami dan dan panjang serta kompleks.

Baca Juga  DUNIA YANG TULI

Beliau tidak nampak memberikan jarak kepada lawan bicaranya atau membutuhlan pengakuan bahwa aku adalah seorang Profesor.

Beliau sudah tunai membayar utangnya. Saat kembali ke Kampung halamannya Banyuurip- Bagelen di Purworejo. Beranjangsana ke SMP dan SMA nya dulu, memberi semangat kepada para seniman dan budayawan lokal di Gedung Kesenian Purworejo serta dapat ide dari kunjungan ini semisal dari beragam corak batik yang ia ciptakan berasal dari inspirasi Bagelen dan Banyuurip ini.

Sebelumnya, tentu saja ia sudah membanggakan kota kelahirannya ini dengan mahakarya dan gagasan brilian berkelas dunia. Pun toh lawan bicara nya terkadang tak mampu untuk mencerna dan mengejar gagasan atau pemikirannya yang visioner dan super ini.

Om Esthu, maafkan anak “kemarin sore” ini yang baru sempat 3-4 kali bertatap muka. Dan banyak penafsiran-penafsiran yang tak tepat baik di awal perkenalan atau di tengah perjumpaan kita. Lantas setelah berita duka itu datang, dikau terlebih dulu menghadap Gusti untuk mendapatkan tempat yang selayaknya.
Masih panjang. Dan teramat panjang gambaran. Inaugurasi lengkap atau seperti doa dan riwayat, kesan tentang dikau yang tiada henti mengiringi dan menceritakan bagaimana sosok Profesor Sudarsono Esthu sebagaimana mestinya. Pejuang prinsipal dan kemanusiaan yang melebihi batas sekat dirinya sendiri. Berbagi tiada henti buat sesama.
“Sabbe sankhara anicca”

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaAIR TERJUN UBADARI KAB. FAKFAK, PAPUA BARAT
Berita berikutnyaK A G U M
Tiada hari tanpa inspirasi”.Jadi pemuda haruslah menginspirasi,unik dan bisa berkarya.Jangan standart dan kebanyakan saja.Ini yang jadi pijakan pemuda kelahiran Purworejo 30 Jully lalu.Menulis,jalan-jalan,diskusi adalah minatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here