Karya: Yan Budi Nugroho

Wajahmu mempesonakan aku saat ini.
Secekung lesung pipimu sukses memaksaku untuk tidur larut malam.
Kopi hitam tak senikmat biasanya seakan mengetahui pembuatnya sedang memenjarakan resah.
Tak pelak kadang menyelinap diam, dirimu tiba-tiba datang menari ria, menguji iman dalam imajinasiku. Alangkah tak sopannya dirimu datang begitu saja, pergi pun begitu pula.
Jarak pun sepertinya tak mau lagi membuat jarak.
Bayangmu masih saja melekat di otakku kini.

Kaulah aktris atau aktor atau apalah yang terus saja masuk dalam sanubari. Membuat film bak dokumenter bab rasa dan perasaan.
Pahitnya aku hanya jadi penikmat.
Sedang dirimu sutradara aktor dan produsernya, aku bisa apa? Celakanya aku menikmati proses-proses pembuatan kotak-kotak rindu dari tingkah polahmu itu.
Suaramu lembut bak tepung pembuat kue menambah hal paling ku tak suka. Menanti wajahmu hadir adalah sesuatu yang ku benci tapi juga paling kusukai.
Bagaimana bisa ku tak meradang, menunggumu itu adalah harapan.

Baca Juga  Sebait Doa Untuk Bunga

Selama jarum jam berputar, sekuat itulah aku merindui alunan nada-nada yang kusebut suara.
Sepucuk kabar darimu terkadang membuatku lupa daratan, sedetik waktu berjalan kau tak menderingkan ponselku.
Kupastikan wajah bersungut kuperlihatkan. apakah ini indikasi dari kagum? Oh Sepertinya mungkin saja.

Comments

SHARE
Previous articleSenyum Itu Masih Ada, Beliau Orang Baik
Next articleSITUS PURBAKALA TAPURARANG
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Yan Budi Nugroho, itulah kombinasi nama yang diberikan orang tuanya dan bapak Soekoso DM, seorang budayawan kota kecil Purworejo. Saat ini ia sedang menempuh perguruan tinggi jurusan pendidikan. Hobi: sepak bola, cita-citanya bisa nerbitin buku seperti novelis idolanya Habiburahman el-Zhirazy.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here