BELAJAR DARI MBAK YEM

0
206

Oleh: Tantri Moerdopo

(Pembawa acara di stasiun televisi berita pertama di Indonesia)

Hari ini saya berbincang dengan mbak Yem, Wanita paruh baya yang sudah ikut dengan keluarga kami sejak saya duduk di bangku kelas menengah. Perbincangan terjadi begitu intens dari yang biasanya karena hari ini saya sakit. Dokter menyarankan satu hal: Bedrest. Tidur, istirahat!!

Berawal dari basa-basi di dapur mengomentari masakannya, akhirnya kami pun mulai membicarakan soal pekerjaan.

Sampai tiba-tiba mbak Yem mengeluarkan sebuah pernyataan yang membuat rasa hati saya tersentak , sambil mencuci piring dengan wajahnya yang polos dan senyumnya yang khas, senyum yang terus mengembang tanpa beban, tulus tanpa paksaan, ia mengomentari keluhan saya tentang tuntutan pekerjaan yang sedang tinggi: “Yah.. saya gini aja mbak, udah bahagia, mbak baik, Ibu baik, terus apa lagi yang mau saya keluhin mbak. Kerja halal, duit ada aja kan, kalau kerja mah semua orang juga kerja, capek ya nikmati aja.”

Iya ya, kapan saya terakhir menikmati capek yang melanda? Tapi capek kok dinikmati? Capek ya tidur lalu istirahat.

Saya pun mulai mengamati mbak Yem lebih detail.

Senyum khas yang mengembang terus tanpa beban itu memang terus ada. Ketika mengepel lantai, ketika mencuci baju, ketika saya minta bukain pintu jam 12 malam, ketika saya minta untuk bangunin jam 4 pagi, rasa-rasanya kok tidak pernah saya lihat mukanya asem, mengeluh, sebel, tidak suka.

Bahkan terkadang mbak Yem berbuat hal yang lebih dari biasanya, misalnya: kalau saya pulang, terus dia akan langsung bertanya: mbak, mau saya buatin teh yang biasa, atau tiba-tiba dia bisa membersihkan sepatu kesayangan saya karena dirasanya kok kotor tidak seperti biasanya.

Baca Juga  Begitu Arifnya Orang Purworejo

Ah tapi mbak Yem kan hanya pembantu rumah tangga.

Beda dong dengan saya yang presenter, atau mungkin Anda yang berkedudukan sebagai manager, atau karir hebat lainnya. Tuntutan pekerjaan, gaji, ritme kerja, gengsinya.

Hmmm.. ok.

Tapi seberapa tersenyumnya Anda dengan setiap hal yang Anda lakukan? Betulkah Anda tidak pernah mengeluh dengan ritme kerja yang padat merayap, dengan rutinitas yang membelenggu, dengan perjalanan meeting yang penuh kemacetan, dengan bangun pagi yang terlalu pagi tapi kalau siang jadi kesiangan lalu buntut-buntutnya terjebak kemacetan, dengan beban kerja yang rasanya lebih berat dari barbel di gym, ataupun selalu saja mengeluh dengan gaji yang dirasa kecil melulu.

Lalu Anda masih ingin bilang bahwa Anda lebih hebat dari mbak Yem?

Ok, saya tidak akan melibatkan Anda,

Saya ini lho, apakah saya bisa bilang bahwa saya lebih hebat dari mbak yem?

Yang bangun pagi dengan riang hati, yang kerja dengan hati gembira, yang tidak pernah mengeluh walau punya bos yang suka minta macem-macem, yang tidak pernah bermuka masam walau harus bolak-balik naik turun tangga, dan yang selalu bersyukur atas hari ini, atas pekerjaannya, atas saya bosnya yang bawel ini, atas rasa capeknya.

Ketika kemudian rasa frustasi untuk mencapai hal yang lebih tinggi lagi telah membuat saya jadi sakit fisik yang diawali dari sakit hati dan mulai menggerogoti perasaan saya menjadi tidak bahagia. Mbak yem dengan santainya menyatakan tidak butuh apapun lagi karena semuanya sudah dirasanya cukup.

Padahal rasanya saya lebih semuanya dari mbak Yem, lebih pintar, punya pekerjaan lebih baik, gaji jelas lebih besar, teman-teman yang hebat, networking yang luas, tapi kok saya tidak pernah bisa bilang: cukup.. semua sudah cukup, ini cukup!!!

Baca Juga  Kisah Sang Pengantin: Mitos di Ibukota

Yang ada selalu kurang ini, ingin yang itu, harus lebih yang ini, bermimpi akan hal yang itu.

Tapi tidak ada salahnyakan dengan punya harapan? Punya impian? Punya cita-cita?

Ya memang tidak salah, tapi kalau kemudian itu semua jadi beban, nah ini jadi salah.

Kalau semua dijalani dengan tidak bersemangat, tidak bahagia, tidak berminat, rasa hati setengah-setengah, Tapi menuntutnnya hasil maksimal, Ya dimana kemungkinannya?

Sudah hukum alam kan, siapa yang memberi dia yang menerima, siapa yang menanam dia yang menuai, malah katanya the more you give the more you get.

Ya kalau kita semakin berikan energy sebel, kesel, capek, ya hasilnya akan semakin aneh, ngeselin, nyebelin bukan?

Saya pasti akan tetap menuju pada impian saya, saya pasti akan kosisten untuk tetap berada pada jalur yang saya cintai. Tapi cinta adalah hal yang membahagiakan, cinta membuat kita tertawa, pipi bersemu merah penuh cahaya kemesraan.

Maka saya mengajak Anda yang mungkin punya rasa yang sama dengan saya, mari malam ini kita duduk dan ber-refleksi, apa yang membebani dan di mana salahnya. Karena semakin cepat kita sadar semakin efektif pula jalan menuju goal yang kita miliki.

Jangan sampai, sudah setengah mati rasanya ingin mencapai impian yang nan jauh di sana, lalu muncul komentar: “Mbak, kayaknya kurang piknik ya?”

Jakarta, 3 Maret 2017

Tantri moerdopo

Comments

SHARE
Previous articleSITUS PURBAKALA TAPURARANG
Next articleMEMANG BUKAN PAHLAWAN BERPARAS TAMPAN
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here