MEMANG BUKAN PAHLAWAN BERPARAS TAMPAN

0
469

Laporan: Sri Widowati Retno Pratiwi

Aku bukan pahlawan berparas tampan
Sayap-sayap pupus terbakar
Salah benar semua pernah pernah kulakukan
Angkat gelas kita bersulang

Itulah sepenggal lirik lagu “Bukan Pahlawan” milik grup band beraliran musik punk rock asal Bali, Superman Is Dead (SID). Bagi saya makna lagu ini begitu mengena di hati. Tak lain karena lagu “Bukan Pahlawan” jujur mengakui dan menegaskan jika tak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pasti punya kelebihan sekaligus kekurangan masing-masing. Pernah berbuat benar tetapi juga tak luput melakukan kesalahan. Poin yang sesungguhnya adalah bagaimana supaya bisa selalu berbuat benar. Namun, jika harus tergelincir melakukan kesalahan, maka segera bertaubat dan memperbaiki kesalahan tersebut. Jadi super hero Superman memang hanya sekedar tokoh fiksi belaka. Intinya saya sepakat dengan ide bahwa Superman is dead. Dan dari sejak awal mendengar lagu “Bukan Pahlawan” SID beberapa tahun silam, otak saya terus mendata figur-figur yang kira-kira cocok dijadikan sebagai contoh atau ikon yang dapat mendiskripsikan makna lagu ini secara gamblang.

Sungguh banyak tokoh terkemuka yang masuk dalam daftar kategori ”Pahlawan tak berparas tampan” versi saya. Di antaranya, dedengkot negeri Irak selama perang teluk era 1990-an, Saddam Hussein; pemimpin revolusi Kuba, Fidel Castro; presiden kedua RI, Suharto; dan lain sebagainya. Dari nama-nama yang telah saya sebut, saya rasa mayoritas pembaca Reviens sudah tahu bagaimana sepak terjang mereka lengkap dengan segala kontroversinya masing-masing. Tentu saja karena mereka bertiga adalah para pemimpin kelas internasional. Nah, kali ini saya coba menampilkan sosok yang tidak terlalu familiar, yaitu RAA. Cokronegoro I. Maklumlah dia tokoh lokal yang tak lain merupakan bupati pertama Purworejo. Tetapi berbicara soal kontroversi, maka tak kalah heboh. Kisah RAA. Cokronegoro I dalam meraih tampuk kekuasaan di masa lalu hingga kini masih terus menimbulkan perdebatan sengit berkepanjangan terkait masalah hari jadi Purworejo. Lalu bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Untuk menjawab pertanyaan itu tentu harus menyimak terlebih dahulu riwayat kehidupan RAA. Cokronegoro I. RAA. Cokronegoro I sebenarnya merupakan nama gelar. Dia bernama asli Raden Mas (RM) Reso Diwiryo. Lahir pada hari Rebo Pahing tahun Ehe 1708 Saka bertepatan dengan tanggal 17 Mei 1779, di desa Bragolan afdeling Bagelan. Dahulu daerah Purworejo sebelum bernama Purworejo dikenal dengan nama Tanah Bagelen. Ketika memasuki usia remaja, putra sulung dari keluarga Raden Bei Singo Wijoyo ini sudah mulai mengabdi di kepatihan kraton Surakarta. Selama bekerja disitu, RM. Reso Diwiryo mendapat tugas untuk mengawasi operasional system irigasi di daerah Ampel, Boyolali. Kemudian RM. Reso Diwiryo bergeser masuk menjadi abdi dalem kraton dengan pangkat Mantri Gladhag. Tidak diketahui secara secara pasti apa sebenarnya tugas seorang Mantri Gladhag. Beberapa analisa mengungkapkan jika tugas Mantri Gladhag, antara lain sebagai pengawas para narapidana yang akan menjalaini persidangan di pengadilan. Ada pula analisa yang menyatakan tugas Mantri Gladhag adalah memimpin kantor urusan pajak kraton.
Sebagai Mantri Gladhag, RM. Reso Diwiryo dinilai bagus dalam melaksanakan tugasnya. Oleh sebab itu, jejak karirnya makin menanjak. Bermula di tahun 1812 ketika pemerintah kolonial kompeni Belanda tergusur dan diambil alih oleh Inggris di bawah kepemimpinan Gubernur Jendral Raffles. Dengan adanya perubahan kepemimpinan di Batavia (Jakarta), maka timbul perlawanan dari Surakarta yang dibantu oleh laskar India (Sipahi) kepada pemerintah colonial Inggris. Akibat perlawanan tersebut, wilayah afdeling diminta Inggris dari tangan raja Surakarta. Para Pangeran dan pembesar kraton yang mempunyai siti lenggah atau tanah bengkok di Kedu dipindah ke afdeling Bagelen. Untuk melakukan perubahan tempat tersebut tidaklah mudah. Kinerja petugas yang mengeksekusi pergantian tempat itu ternyata sangat mengecewakan para pangeran maupun pembesar kraton. Kemudian mereka usul pada raja supaya petugasnya diganti dan diadakan pengukuran ulang. A khirnya Sunan Paku Buwono VI menunjuk RM. Reso Diwiryo. Berkat ketekunan dan kecerdasanya, RM. Reso Diwiryo dengan cepat dapat menguasai peta tanah milik Kraton Surakarta dan berhasil mengukur siti lenggah-siti lenggah yang bermasalah serta melakukan pemindahan secara tepat. Para pangeran dan pembesar kraton yang mempunyai hak atas siti lenggah merasa puas terhadap cara kerja RM. Reso Diwiryo. Kemudian pada tahun 1815, pangkat RM.Reso Diwiryo dinaikan menjadi Panewu Gladhag dengan gelar Raden Ngabehi (R.Ng.) Reso Diwiryo.

Sejak saat itu nama R.Ng. Reso Diwiryo mulai terkenal di kalangan bangsawan kraton Surakarta. R.Ng. Reso Diwiryo semakin popular ketika pada suatu hari berhasil memindahkan binatang kesayangan Sunan Paku Buwono VI, yakni seekor banteng yang sangat liar dan ganas dari kandang lama ke kandang baru. Karena semula tak ada yang berani memindahkannya, hingga R.Ng Reso Diwiryo mengajukan diri untuk memindahkannya. R.Ng Reso Diwiryo juga berhasil membasmi gerombolan perampok yang mengacau keamanan wilayah Bagelen di tahun 1819. Selanjutnya tahun 1820, ketika sedang melaksanakan pembangunan sumur dalam kraton, R.Ng. Reso Diwiryo mendapat anugrah dari Sunan Paku Buwono VI berupa keris Kyai Basah. Pemberian anugrah tersebut menunjukkan bahwa R.Ng. Reso Diwiryo merupakan abdi dalem kesayangan Sunan Paku Buwono VI dan hal ini menjadi pembicaraan hangat di kalangan istana. Berita itu pun akhirnya sampai ke telinga Patih Danurejo, sehingga kemudian R.Ng. Reso Diwiryo dipanggil ke kepatihan.

Sebagai seorang abdi dalem, R.Ng. Reso Diwiryo patuh terhadap perintah untuk memperlihatkan keris pemberian Sri Sunan yang berangka mamas atau emas campuran kepada sang Patih. Ternyata Patih Danurejo sangat tertarik memiliki keris tersebut. Lalu sang Patih yang sudah dikuasai sifat iri hati ini berusaha menjatuhkan mental R.Ng. Reso Diwiryo. Patih Danurejo mengatakan jika keris itu adalah keris bagi orang yang jabatannya tinggi atau serendah-rendahnya seorang bupati. Tidak layak jika seorang panewu memiliki keris itu. Pada saat itu juga, istri Patih Danurejo datang serta merta menganti keris Kyai Basah dengan keris lain milik patih yang berangka emas murni. Tetapi R.Ng,Reso Diwiryo menolak kerisnya diganti dengan keris lain kendati keris penggantinya berwarangka emas murni. R.Ng,Reso Diwiryo beralasan bahwa sebenarnya keris dari Sri Sunan itu adalah kerisnya sendiri yang saat menggali sumur dipegang Sri Sunan dan bukan keris dari Sri Sunan yang diberikan kepadanya. Argumen ini berakibat fatal karena Patih Danurejo kemudian menyimpulkan jika R.Ng. Reso Diwiryo telah berbohong dan berarti dia bukanlah abdi dalam yang setia. R.Ng. Reso Diwiryo dianggap tak layak lagi menduduki jabatan Panewu Gladhag, sehingga saat itu juga pangkatnya diturunkan kembali menjadi Mantri Gladhag. Kecewa berat terhadap perlakuan Patih Danurejo tersebut, R.Ng, Reso Diwiryo memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan abdi dalem kraton. Jabatan Mantri Gladhag lalu diserahkan kepada anak sulungnya R.Ng Cokrosoro. R.Ng,Reso Diwiryo lantas mengurung diri, tidak mau keluar lagi dari lingkungan rumahnya di Surakarta dan menjalankan berbagai macam laku tirakat guna memohon keadilan pada Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara R.Ng,Reso Diwiryo tengah bergumul dengan nasibnya , tahun 1825 meletus perang Diponegoro atau perang Jawa. Pangeran Diponegoro yang mendapat dukungan dari sejumlah pangeran dan pembesar kraton Yogyakarta melakukan perlawanan terhadap campur tangan Belanda dalam pemerintahan kraton Yogyakarta. Perang terus merebak hingga akhirnya terpusat di tanah Bagelen.. Pada perang itu, Belanda tampak kewalahan dan nyaris tak berdaya menghadapi pasukan pangeran Diponegoro. Karnanya pemerintah Hindia Belanda menyeret-nyeret kasunanan Surakarta untuk mau melibatkan diri dalam perang tersebut. Sebenarnya semula Paku Buwono VI menolak terlibat sebab asal terjadinya perang dari kraton Yogyakarta. Namun akhirnya Paku Buwono VI mengiyakan karena terus dibujuk Belanda dengan alasan tanah Bagelen milik kraton Surakarta sudah direbut Pangeran Diponegoro, sehingga kraton Surakarta harus ikut perang tersebut demi mempertahankan wilayahnya.Kraton Surakarta kemudian memberangkatkan pasukan dengan pangeran Kusumoyudo sebagai senopati atau panglima perangnya.Pangeran Kusumoyudo sendiri adalah paman dari susuhunan Paku Buwono VI dan juga sahabat akrab R.Ng,Reso Diwiryo. Sebelum berangkat ke Tanah Bagelen, Pangeran Kusumoyudo mengusulkan pada susuhunan Paku Buwono VI supaya R.Ng,Reso Diwiryo dikutsertakan untuk mendampingi dirinya berperang. Alasannya meski sudah berhenti jadi abdi dalem Kraton Surakarta, R.Ng,Reso Diwiryo adalah sosok abdi yang setia dan dirinya asli orang Bagelen. Paku Buwono VI menyetujui usulan tersebut dan R.Ng,Reso Diwiryo diangkat sebagai senopati pengamping yang tugasnya menjadi penunjuk jalan bagi pasukan Surakarta selain mendampingi pangeran Kusumoyudo.

Sejak datangnya bala bantuan pasukan kraton Surakarta itulah, pasukan Belanda menjadi berada di atas angin dan sebaliknya pasukan pangeran Diponegoro mulai terdesak mundur. Karena sepak terjang R.Ng.Reso Diwiryo dalam perang tersebut dipandang sangat memuaskan, maka pada 1828, ia diangkat oleh Sunan Paku Buwono VI sebagai tumenggung di Brengkelan dengan gelar kanjeng raden tumenggung(KRT) Cokrojoyo. Dengan jabatan tersebut , dirinya mempunyai hak atas siti lenggah atau tanah bengkok seluas 500 bau(350 hektar) di bumi Tanggung. Dalam catatan E.S. de Clereq disebutkan bahwa bumi Tanggung adalah tanah di sebelah timur sungai Bogowonto dan kini masuk wilayah desa Sidomulyo, kecamatan Purworejo. 28 Maret 1830, Belanda mengadakan perundingan damai dengan pangeran Diponegoro di Magelang. Namun ternyata perundingan itu adalah tipu muslihat Belanda untuk menangkap pangeran Diponegoro dan membuangnya ke Makassar. Sejak saat itu pula berakhir sudah perang di Tanah Bagelen. Lalu pihak Belanda segera melakukan pembenahan administrative sesuai perjanjiannya dengan raja Surakarta pada 22 Juni 1830.Semua bupati dan tumenggung di wilayah Banyumas dan Bagelen yang dulu diangkat oleh raja Surakarta termasuk KRT Cokrojoyo atau R.Ng.Reso Diwiryo ikut diserahkan kepada pemerintah Belanda beserta wilayah Mancanegara Kilen dengan ganti rugi sebesar 264.000 gulden.

Selanjutnya pada 18 Desember 1830 pemerintah Hindia Belanda menerbitkan surat mengenai tata administrative baru di wilayah Banyumas dan Bagelen. Berdasar surat tersebut, R.Ng.Reso Diwiryo yang semula diangkat pihak kraton surakarta sebagai Tumenggung Brengkelan, ditetapkan oleh Belanda menjadi Bupati Brengkelan dengan gelar Raden Adipati Aryo (RAA) Cokronegoro I. Pada saat mau dilantik sebagai bupati, KRT Cokrojoyo mengusulkan agar nama Brengkelan diganti dengan nama Purworejo. Alasannya nama Brengkelan berasal dari kata mrengkel atau ngeyel yang artinya suka mendebat atau menentang sehingga dikhawatirkan kalau masih memakai nama itu, daerahnya sulit untuk maju. Sedangkan nama Purworejo berasal dari kata purwo yang berarti wiwitan dan rejo yang berarti kesuburan , kemakmuran serta kesejahteraan sehingga dengan menggunakan nama Purworejo, diharapkan daerahnya akan lekas maju. Pihak pemerintah Hindia Belanda dan Raja Surakarta menyetujui usulan tersebut. Sejak 18 Desember 1830 itulah lahirlah kabupaten Purworejo dengan bupati pertama RAA. Cokronegoro I. Namun RAA Cokronegoro I tidak bisa langsung menunaikan tugasnya sebagai bupati purworejo. Dia harus menunggu terlebih dulu SK pengangkatannya dari gubernur jendral Hindia Belanda. Nah di sini mulai muncul kesimpang-siuran mengenai kapan resminya RAA. Cokronegoro I menjabat bupati. Sebagian ahli menyatakan jika SK pengangkatan baru diterbitkan 22 Agustus 1831. Sementara ahli yang lain berpendapat pelantikan bupati RAA Cokronegoro I terjadi pada 27 Februhari 1832.

Yang jelas selama masa pemerintahanya sampai tahun 1857, RAA. Cokronegoro I banyak menghasilkan karya monumental yang manfaatnya terasa hingga sekarang. Beberapa diantaranya yaitu bangunan pendopo kabupaten, alun-alun Purworejo, saluran irigasi Kedung Putri, jalan raya Purworejo- Magelang dan masjid agung berikut bedug terbesar di dunia , bedug Kyai Ageng Pendowo . Sangat disayangkan ketika sekian puluh tahun berlalu, nama RAA. Cokronegoro I lantas seolah tenggelam begitu saja .Saya ingat saat masih sekolah SMP-SMA, saya paling hobi pelajaran sejarah. Tetapi sungguh tak ada seorang pun yang mengajari saya tentang sejarah berdirinya kabupaten Purworejo, siapa bupati yang menjabat untuk pertama kali, dan lain sebagainya. Saya baru tahu semua ini pada pertengahan tahun 2008 ketika saya mulai terjun berkecimpung di bidang jurnalistik. Mungkin jika saya memilih terus merantau di kawasan industri Batam sono, saya tidak akan pernah tahu siapa itu RAA. Cokronegoro I. Jadi saya termasuk orang yang beruntung karena pada akhirnya saya tahu sejarah kota kelahiran saya ini meski penuh kontroversi. Saya pun percaya masih banyak warga masyarakat Purworejo yang buta terhadap sejarah daerahnya sendiri. Ada juga yang tahu hanya sebatas slenting-slentingan asal lewat kuping doang. Celakanya slentingan yang sering terdengar justru hal-hal buruk saja. Wajar bila acara peringatan jumenengan RAA. Cokronegoro I yang telah rutin digelar tiap tahun kurang begitu menarik minat masyarakat. Baru di tahun ini antusiasme warga nampak melonjak karena peringatan jumenengan RAA. Cokronegoro I yang ke 186 dimeriahkan oleh sesi festival rampak bedug.

Persoalan mulai muncul ketika keluar Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Purworejo nomor 9 tahun 1994. Perda tersebut menetapkan hari jadi Purworejo adalah tanggal 5 Oktober mengacu pada waktu terjadinya peristiwa bersejarah yang tertera dalam prasasti Kayu Ara Hiwang. Kala itu di zaman kerajaan Mataram kuno, raja Rakai Watukura Dyah Balitung mengirim utusan untuk memasang patok di desa Kayu Ara Hiwang. Pematokan yang berlangsung pada bulan Asuji tahun Saka 823 hari ke 5(5 Oktober 901 Masehi) tersebut menandai desa Kayu Ara Hiwang dijadikan sebagai Tanah Perdikan(Shima) dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak kepada kerajaan Mataram. Prasasti Kayu Ara Hiwang sendiri ditemukan di wilayah desa Boro Wetan, kecamatan Banyuurip. Secara logika sederhana saja penetapan hari jadi Purworejo berdasar prasasti Kayu Ara Hiwang terasa sangat janggal, kabur dan tak masuk akal. Argumentasi bahwa penetapan hari jadi Purworejo harus berlandaskan kriteria indosentris(sudut pandang keindonesiaan) memaksakan keganjilan ini menjadi produk hukum Perda yang baku dan mengabaikan fakta bahwa RAA. Cokronegoro I lah yang menciptakan nama Purworejo dan menjabat sebagai bupati Purworejo untuk pertama kali. Sejak itulah kontroversi hari jadi Purworejo mengemuka dan perdebatan-perdebatannya terus berlanjut hingga kini ,seperti sudah menjadi rutinitas tiap tahun menjelang tanggal 5 Oktober.

Secara pribadi saya tidak ingin terlarut dalam debat kusir tentang hari jadi Purworejo. Tetapi jika ada yang menanyakan pendapat saya, maka jawaban saya adalah hari dimana RAA. Cokronegoro I memunculkan nama Purworejo itulah yang lebih tepat ditetapkan sebagi hari jadi Purworejo. Ini bukan berarti saya tidak mempunyai jiwa nasionalis karena terlihat pro RAA. Cokronegoro I. Saya hanya mencoba bersikap realistis dan obyektif dalam menilai sosok Cokronegoro 1. Saya juga berpegang pada firman Allah yang artinya:

“…janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”( Al Quran surah Al-Maaidah ayat 8)

Sah-sah saja kalau mau membenci RAA. Cokronegoro I karena fakta sejarah bahwa dia membantu penjajah Belanda semasa perang Jawa. Namun janganlah kebencian itu memicu ketidak-adilan yang mengabaikan fakta sejarah lainnya bahwa RAA. Cokronegoro I yang memberi nama Purworejo untuk daerah ini.Dia pula yang telah meletakkan dasar-dasar pembangunan, sehingga Purworejo layak dianggap sebagai sebuah kota kabupaten.

Jika ada yang terus ngotot membenci dan berlaku tak adil terhadap RAA. Cokronegoro I, maka saya sarankan kepadanya agar jangan setengah-setengah dalam bersikap. Harus total setotal-totalnya, tidak boleh pakai standar ganda. Apapun yang berkaitan dengan RAA. Cokronegoro I semuanya harus dibuang atau dihindari. Jadi jangan menunaikan shalat di masjid agung Darul Muttaqin! Apalagi sampai berselfi ria dengan bedug Kyai Pendowo. Tak usah lagi mengairi sawah dengan air yang bersumber dari saluran irigasi Kedung Putri! Sebaiknya juga segera angkat kaki dari sini dan jangan pernah mengaku-ngaku sebagai orang Purworejo! Lho kok gitu sih? Ya,begitulah.Lha wong semua itu merupakan hasil karya RAA. Cokronegoro I. Belum lagi sejibun karya-karyanya yang lain. Jelas sangat tidak patut jika ada orang yang terus membenci orang lain, tetapi dirinya sendiri masih nebeng,memakai hasil karya orang yang dibencinya itu.

Wuih, ekstrim ya pendapat saya? Harap maklum! Saya bukan penulis berwajah cakep. Kalau saya berwajah cakep, saya lebih memilih menjadi bintang film. Walaupun paling mentok berperan sebagai Mak Lampir. He..he..he… Apapun, saya terbuka dan menghargai setiap pendapat yang ada. Karena saya terus ingin sebisa mungkin meneladani Nabi Muhammad yang tak pernah mengabaikan buah pemikiran dari para sahabat, khususnya Umar bin Khattab. Padahal sebelum tersentuh hidayah, Umar adalah sosok paling keras menentang ajaran Islam. Tetapi begitu masuk Islam , Nabi Muhammad justru menjadikan Umar sebagai peringkat kedua sahabat terbaiknya setelah Abu Bakar Ash Sidiq. Umar bin Khattab memang terbukti seorang jenius. Dalam beberapa kesempatan ketika dia melontarkan usulan kepada Nabi Muhammad , tak lama kemudian turun wahyu ayat-ayat Al Quran yang membenarkan ucapannya.

Sikap bijak dalam menyikapi perbedaan pendapat juga ditunjukkan oleh ulama besar, Imam Syafi’i. Suatu kali Imam Syafi’i berkata kepada Yunus Ash Shadafiy alias Abu Musa. Imam Syafi’i ,“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersahabat, meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?” (Siyar A’lamin Nubala’, 10: 16). Bisakah kita mencontoh tindakan terpuji Nabi Muhammad, Imam Syafi’I dan sosok-sosok shaleh lainya yang tidak mempermasalahkan adanya keragaman, terutama perbedaan pemikiran masing-masing orang? Tentu bisa. Tinggal ada kemauan apa tidak. Apalagi kalau hanya perbedaan pendapat soal hari jadi kota Purworejo yang sebenarnya bukan hal terlalu essensial. Tak perduli seberapa tua atau muda usia kabupaten ini, yang terpenting adalah bagaimana roda pembangunan itu digerakkan, sehingga kemajuan dan kesejahteraan rakyat bisa tercapai.

Memang RAA.Cokronegoro I bukanlah pahlawan berparas tampan. Nampak pada gambar dirinya RAA.Cokronegoro I berwajah pas-pasan. Dari referensi yang saya gunakan disebutkan gaya bicara RAA.Cokronegoro I yang srowolan alias kasar. Namun terlepas dari tampilan fisik, maupun kontroversi dirinya dalam meraih tampuk kekuasaan, lika-liku hidup RAA.Cokronegoro I menunjukkan bahwa dia adalah sosok berkepribadian unggul. Berjiwa ksatria, tangkas, trampil , pekerja keras dan pantang menyerah demi mewujudkan segala cita-cita. Sikap-sikap RAA.Cokronegoro I tersebut patut diteladani oleh kita semua, khususnya generasi muda.

Akhirnya saya hanya bisa berharap semua pihak, terutama yang di Purworejo menyadari bahwa kita perlu mengulik sejarah untuk mengambil pelajaran positif dan meninggalkan hal-hal negative darinya demi kemajuan daerah kita ini. Namun kita tidak perlu baper sampai jotakan satu sama lain hanya karena perbedaan sudut pandang dalam menilai momentum sejarah berdirinya kabupaten Purworejo . Sebab jotakan itu kontra produktif dan bisa menghambat pembangunan. Semoga semua bisa berdamai dengan masa lalu demi menatap masa depan yang gemilang. Biar generasi saya dan seterusnya tak lagi merasa galau sembari berdendang:

Di sudut kota ini melangkah sepi
Dihantui polemik abadi…

*Referensi:
Atas S. Danu Subroto, 2008, RAA.Cokronegoro I Pendiri Kabupaten Purworejo, Gradasi , Yogyakarta.

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaBELAJAR DARI MBAK YEM
Berita berikutnyaSepasang Mata dalam Gerbang
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here