Srawung Budaya Nusantara Sebagai Kanal & Delegator !

0
345

Oleh: Ilhan Erda

“Kebudayaan akan selamanya menjadi tema yang menarik untuk dibincang. Bukan saja karena mengandung aspek pengetahuan, keterampilan, nilai seni, dan unik. Tetapi juga karena gerakan moral.” ( Yusra Abdul Gani)

Menarik sekali dengan sedikit mengikuti perkembangan Kabupaten bernama Purworejo. Dengan letupan gelora dari para anak muda nya. Mereka yang ada dan sudah menghabiskan atau masih ada di fase golongan bernama” anak muda “ ini tanpa henti menyuarakan dan membuktikan emansipasi dan dedikasi tak ternilai kepada daerah yang terkenal dengan slogan Kota Pensiun nya ini. APBD yang habis separuh lebih, transparansi birokrasi, akselerasi pelayanan dan kemudahan lainnya yang diharap sebagai titik tumbu mendukung dan membuat “ bom besar “ bagi citra kota yang baik dimana dengan banyak parameter dan indikator yang menunjukkan ke arah sana.

Beberapa tahun ini sebut saja ada acara Gerebeg Lowano, Festival Bogowonto, Gerebeg Saluyu, Jumenengan dan Parade Bedug atau ratusan wujud dari inisiatif dan tindakan para warganya yang berduyun-duyun mengenalkan dan mengexplore segenap potensi desanya. Baik alam, budaya lewat beragam aktifitas dan kreasi.

Sosial media menemukan momentumnya di sini. Ingat, beberapa tahun kemarin daerah ini menjadi pusat rujukan pembelajaran penyusunan rancangan pembangunan strategis dan berkelas nasional. Kalau tak salah di era Bupati Dr H Marsaid SH. M.si dengan para kabupaten pembelajar seperti Kebumen, Kulonrpogo dll. Kini hasilnya 10 tahun ke sini. Silahkan dinilai dan di amati bagaimana progess dan hasil final nya. Mirip dengan realita saat tahun 1970 an Malaysia berguru akan system pendidikan ke Indonesia dan sekarang hasil dan produk pendidikan itu sendiri?

Kita masih ada di sebuah “persimpangan. “Dalam tataran identitas kebudayaan dan pengejawantahannya. Baik dalam wujud macam-macam diskusi kebudayaan, seminar, parade, festival dan manajemen-manajemen kelola yang masih dikategorikan dalam anak induk kebudayaan lainnya. Konsonan Srabud Nusantara atau Srawung Budaya Nusantara yang sudah familiar 2-3 tahunan lalu saya dengar dari para anak muda di Kota ini. Kebetulan juga mereka ialah para penggiat dan sudah menemukan “kamar “ nya .

Baik dunia photografi, pergerakan, seni dll nya. Mereka tahun ini menawarkan sebuah konsepsi, formulasi dan “ dealling ideal” berupa Srawung Budaya Nusantara yang di helat di Desa Sumongari , Kecamatan Kaligesing Purworejo.

Baca Juga  KELAHIRAN KEMBALI ZAMAN BAHARI

Mereka sepakat mantra nya ialah kata “ WR Supratman.” Dan filosofinya ialah daya kreasi dan daya juang dari sosok pencipta lagu nasional yang mati muda ini.

Betapa sangat miris ditilik dari titik kesadaran dari mereka sendiri, serta 4 prasyarat agar pembangunan menjadi mewujud guna maslahat rakyat di sini belum terjadi. 4 syarat itu ialah kekuatan media, pemangku kebijakan, inisiasi masyarakat dan rekan bisnis yang pro sosial.

Sudah bukan rahasia lagi. Anak muda ialah para pendobrak di masa nya. Kaum tua, pemerintah yang belum mampu bertransformasi mengikuti zamannya maka hukum alam lah yang akan menjawab.

Keliaran, out the box idea dan macam-macam kreasi , inisiasi dari para pemuda ini tentu saja unggul dan berlari sangat cepat dari pada badan atau dinas yang menaungi mereka. Yang seharusnya menjadi pamomong, partner dari mereka sendiri.

Bolehlah kita belajar ke Kabupaten di Jawa ada Jember, Banyuwangi, atau Kota Bandung. Dimana tentu saja mereka, daerah-daerah ini boleh dikatakan mengatakan “ Kami akan segera melalui persimpangan ini.” Simpang budaya dan identitas yang belum autentiks yang di punyai kami.”

Srawung Budaya Nusantara yang mengatakan” Kami ialah mentradisikan dan membudidayakan budaya diskusi serta takut akan mewabah dan meratanya pekat atau binalnya sifat kebinatangan di mana ujungnya melunturkan dan meruntuhkan budaya nusantara. Hasil akhirnya atau penyesalannya bukan saja kita ada di persimpangan jalan tetapi malah didera dalam kebimbangan, linglung untuk membuka pintu budaya. Pintu terang itu.”

Srawung Budaya Nusantara dengan mantra WR Supratman tadi telah berhasil dengan beberapa factor ideal atau poin dan prasyarat di atas tadi. Mereka berhasil dalam proporsional pemanfaatan media dan jejaring publik figur.

Ini belum seberapa. Masih ada gerakan natural dan sebenarnya biasa saja dan memang khas ala anak muda pendobrak di zamannya.
Kita ingat bukan? Seseorang ideal ilmu dan etika seperti Sukarno, Haji Agus Salim, Kartowuwiryo dan banyak lainnya. Sepantasnya mereka dengan gaji ribuan gulden, berkeluarga dan hidup seperti para kasta berpendidikan tinggi lainnya. Zona nyaman dan habits yang monoton.

Tapi paradoks kenyataannya. Para founding father ini berani untuk di penjara, di intai pemerintah sendiri dan di kejar-kejar intel serta tak sedikit dimatikan sumber mata pencahariannya bahkan penghabisan martabat atau citra diri. Keluarga besar Srabud bukan saja milik beberapa orang saja. Mereka bukan inisiator. Mereka bukan Deklarator dan mereka bukan Pahlawan. Mereka sebagai Delegator tepatnya. Untuk memantik dan menyambung agar api semangat dan jiwa kreatifitas , intuitif murni dari para anak mudanya tidak seperti ini terus. Mempunyai sejuta talenta dan SDM unggul tetapi ibarat ” anak ayam mati di lumbung padi.”

Baca Juga  Sudut Pandang Pendidikan Saat Ini

Srawung Budaya Nusantara sebagai salah satu udara segar. Sebagai oase seperti pagelaran sebelumnya di kota ini. Dengan beragam menunya yang sebentar lagi di helat yakni ada event Fun Walk, Top Canvas, Festival Film, Music dan puncaknya ada Festival Jazz dan Srawung Budaya Great Forum. Kembali mengutip pendapat Charles Tailor: “Tindakan-tindakan kultural kita bukan saja bersifat pribadi atau subjektif tapi di bentuk secara sosial.”

image

Harapannya dengan delegator dan badan cair bernama Srabud ini mereka bisa menjadi kanal untuk sub kegiatan atau variable dalam hal ini Sumongari sebagai tuan rumah besar yang sudah ada beberapa pendukungnya dan perlu optimalisasi diri saja semisal sudah ada factor kunci dan pendukung seperti sosok WR Supraman sendiri, Festival Kedana Kedini yang telah masuk kalender dan situs budaya tak benda Kementerian Pusat, homestay, Curug dan banyak asset nature, human dan lainnya.

Semoga kawan-kawan Srawung Budaya Nusantara tidak lelah. Dan para pemuda asli Sumongari sebagai esensi dari lakon yang di harap bisa menjadi estafet dan delegator selanjutnya guna suksesnya hajatan agung ini. Karena jika para pemuda ini lelah. Dan pola yang sama berulang. Membunuh para talenta. Intuitif murni dan para anak muda pendobrak pada zamannya di era milenial ini. Tentu saja ini sebagai indikasi yang serius. Sangat berbahaya dan patut dipertanyakan.

“Ada apa dengan ekosistem di daerah sini?”
“Kenapa kolam nya selalu keruh?”
Semoga tidak. Mereka sudah tepat jalan. Pun mereka berhasil atau tidak dalam hajatan awal di tanggal 19 ini. Mereka sudah layak dengan predikat etik, heroik dan pejuang bisa dikatakan demikian. Dan kebijaksanaan semoga saja menyelimuti siapa saja. Para penduduk, pembaca, pegiat seni kebudayaan, dan pemangku kebijakan terkait untuk segera meninggalkan “ jalan persimpangan ini.”

Comments

SHARE
Previous articleBudaya Pesantren (1) “Antrian Bibit Kesabaran dan Kedisiplinan”
Next articleMerajut Asa Pendidikan dari Hulu Kapuas
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here