PUISI MUHAMMAD HUSEIN HEIKAL

0
445

Akrobatik dalam Kepalaku

Amrita Sher-Gil, 1932; young girls

Dihadapan buku-buku aku menuai resah. Huruf-huruf beradu lari diotakku, membentuk putaran yang terdiri dari 20 laps. Menuntunku menujumu. Ya tuhan, masih ingat aku? Akulah abdi bagi doa dan rerampai imajinasi. Ini kisah dalam kepalaku. Mengular waktu ke waktu. Menggunting berbagai warna dari pelangi sehabis hujan.

 
Petang, temaram. Bisakah kau bayangkan? Kau duduk didepanku, melipat tubuh dalam aroma yang belum kukenal. Baiklah, bila luka ditambah duka adalah makna. Segala yang berlalu adalah debu yang tak hirau akan dirimu.
Kau bayangkan aku adalah gadis. Wajah pucat dan berjerawat. Kau jadikan kepalamu menjadi ajang tinju antara akal dan nafsu. Tenanglah, yang datang pasti akan pergi. Yang pulang pasti akan mati. Tatap mataku, akan kau temukan saga disitu.

 
Lintasan itu melingkar: membentuk ular berlidah horcrux. disiram air dalam suhu yang gelegak. Terlempar-lempar dalam ingatan, terjepit dan meronta dalam pelukan. Beberapa orang menyebut cinta adalah reruntuhan cairan, sebagai bahan melukis mimpi. Dimalam sunyi seekor kucing berkelahi dengan bayangannya sendiri.
Ah, ya! Wajah itu seperti pengungsi dari Aleppo. Gadis kecil dengan liur mengalir diatas batu. Hujan tangisan dimataku, mengalir dalam dadaku.
Aku mohon, pada tuhan. Ingatlah rintihan, bahwa aku adalah kenangan. Terbakar dalam lukisan.

Baca Juga  Sepenggal Harapan

2017

Linguistatistik

angka. deretan kelahiran. erang kematian. aku jilat bahasa dengan luka. kata-kata memuntahkan lendir didalam ingatan. tuhan membentuk alegori, mengadopsi waktu.
aku menciummu. Kematian.

2017

Mengadopsi Adaptasi

Setelah lurus, tetaplah lurus. Berhentilah menatap layar smartphone, yang berwallpaper gambar pacarmu yang terbaru.
Lurus. Jangan ingat aku.

2017

Album Fotografer Buta
Kamera –tentu saja. Menghentikan waktu. Menjadi kelu dalam igau yang berbatu-batu. Menerjalkan langkah ditiap tapak jejakmu. Bisu.
Foto
Tanpamu tak ada yang dapat dikenang.

2017

Setelah Itu, Setelah Kamu…

setelah mata terbangun, mimpi kembali tertidur. setelah itu, tiba-tiba ingatan tentangmu muncul. kamu, iya kamu. kasih. dirimu, gravitasi yang selalu membuat diriku kembali padamu. kamu tak serumit deretan alfabet yang diputarbalikkan dalam kegelapan.
setelah itu, aku pergi ke kamar mandi. mengunjungi air yang menyegarkan bayangan wajahmu, ah senyummu. kamu, iya kamu.
2017

Baca Juga  SENDIRI DALAM ANGAN

 

 

Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Menempuh studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara. Karyanya termuat Horison, The Jakarta Post, Media Indonesia, Koran Sindo, Analisa, Waspada, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Fajar, Riau Pos, Haluan, Sumut Pos, Rakyat Sultra, Amanah, Medan Bisnis, Tribun Bali, Malang Pos, Jejak, dll. Serta dalam buku Merindu Tunjuk Ajar Melayu (Riau Pos 2015), Perayaan Cinta (Puisi Inggris-Indonesia 2016), Pasie Karam (Temu Penyair Nusantara 2016), Cinta yang Terus Mengalir (Taaruf Penyair Muda Indonesia 2016), Matahari Cinta Samudra Kata (Hari Puisi Indonesia 2016), dll.

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaBerlibur Sekaligus Belajar Beternak di Kampung Domba Pandeglang
Berita berikutnyaMEMOAR ANGKOTER SEJATI
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here