Memor Angkoter Sejati

0
462

Oleh: Sri Widowati Retno Pratiwi

REVIENSMEDIA.COM – Mungkin dalam pandangan sebagian orang saya ini tergolong katrok. Apa pasal? Karena di saat yang lain mayoritas menjadi pesepeda motor, saya memilih sebagai angkoter alias kalau berpergian kemana-mana naik angkutan umum. Namun saya punya alasan tersendiri untuk itu. Dulu memang pernah saya belajar mengendarai sepeda motor. Hasilnya selalu menabrak dan merusak taman rumah maha karya ibunda. Saya merasa kaki kanan saya tak cukup kuat sebagai tumpuan, sehingga kalau mau berhenti tiada jalan lain, kecuali motor harus dijatuhkan.

Pun begitu ketika saya menambil posisi cenglu(bonceng melu). Beberapa kali tertimpa hal-hal buruk, seperti kecelakaan, jatuh sampai kaki gosong dan tangan bengkak, sehingga tidak bisa menulis maupun aktivitas lainnya. Terkadang ujung pakaian bawahan saya tidak sengaja nyelonong masuk ke sela-sela jeruji roda. Pernah juga jidat nyaris tersabet selang yang terpasang menggantung , melintang di antara dua pohon di tepi kanan-kiri jalan. Sungguh jika tidak sedang kepepet situasi darurat atau ada keperluan yang urgen, saya ogah cenglu. Karena sering cenglunya tak lebih dari sejam, tetapi meriang kena masuk anginnya bisa berlangsung tiga hari. Entah kebetulan apa tidak, kalau pas mendapati suatu peristiwa kecelakaan, saya selalu menyaksikan sepeda motor yang ringsek berat dan pengendaranya yang terseret begitu jauh dengan ceceran darah dimana-mana. Akhirnya muncul kesimpulan bahwa saya tidak berjodoh sama sepeda motor dan kemudian hati berpaling kepada angkot. Pilihan saya ini mengundang banyak pertanyaan, bahkan dari sopir angkot sendiri.

Suatu hari saya naik angkot jalur 9 dari kecamatan Kaligesing menuju Purworejo kota. Ketika angkot sudah berjalan beberapa meter, tiba-tiba si sopir menegur saya. Dia bertanya,” Mbak, njenengan berangkat kok enggak naik sepeda motor , seperti teman-teman lainnya? Enggak bisa naik sepeda motor ya?” Saya menjawab,”Ya, saya tidak bisa naik sepeda motor. Lha njenengan apa sudah tidak butuh bayaran ongkos dari saya , ya? Nanti kalau saya naik sepeda motor, penghasilan njenengan berkurang ,lho..”. Sejenak dia terlongo. Dengan wajah tersipu-sipu dia lalu berkata,”Makasih ya, mbak! Njenengan sudah mau naik angkot.”Saya tersenyum-senyum geli melihat ekspresinya itu. Padahal di dalam hati , saya gemes banget sama ini sopir. Lha bibir saya kok musti ndower bin njeberrr, menerangkan panjang kali lebar kali tinggi hanya demi meyakinkannya bahwa saya adalah penumpang angkot paling setia seindonesia raya.

Seharusnya para sopir mengajukan usulan kepada Organda(Organisasi Angkutan Darat) supaya bekerja sama dengan Direktorat Perhubungan Darat Kementrian Perhubungan menyelenggarakan event “Angkot Award” rutin setiap tahun sekali. Ajang penghargaan ini untuk mengapresiasi insan-insan yang memiliki korelasi dengan angkot, mulai dari perusahaan operator , sopir-sopir, krenet, sang pemerhati atau pengamat, hingga para penumpang. Niscaya saya akan berulang kali memenangkan award tersebut dalam kategori penumpang terbaik, maupun penumpang favorit, sebagaimana pesepakbola Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo yang langganan penghargaan Ballon D’or. Syukur-syukur kalau hadiahnya itu berupa fasilitas gratis ngangkot selama setahun. Dijamin saya menjadi angkot traveller kelas hiu yang senantiasa pergi pagi-pulang pagi untuk jajah deso milang kori. Mengulik informasi sekaligus berbagi inspirasi. Atau malah enggak pulang-pulang sekalian saja berhubung saya ini kan cucu keturunan simbah H.M. Thoyib. He..he..he…

Ya, begitulah. Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini sekecil apapun pasti mengandung hikmah. Kalau tidak ada orang yang mau naik angkot, lalu bagaimana sopir bisa memperoleh penghasilan guna menafkahi keluarganya? Pun demikian dengan pesepeda motor, maupun pengendara mobil pribadi. Keberadaan mereka penting sebagai perantara meraih rezeki bagi penjual bensin. Tak ketinggalan pula para pejalan kaki yang karena ngos-ngossanya setelah lama mengayun langkah di bawah terik mentari membuat berbagai varian produk dagangan bakul dawet menjadi laris manis.

Oleh sebab itu, sesama pengguna jalan sudah seyogianya saling bertoleransi dan menghargai satu sama lain. Jangan sampai ada yang sok jagoan, merasa paling berkuasa di jalanan dan berbuat dzhalim! Semisal, pengendara moge hendaknya jangan sombong! Mentang-mentang motornya gede terus seenaknya sendiri berkonvoi menerobos lampu merah dengan suara yang meraung-raung dan membikin tuli orang sekabupaten. Pengguna jalan lainnya pun tidak perlu terpancing emosi hingga serempak main gembosin ban moge dan mengata-ngatai, ”Rasain lu, moge! Dasar mrongos gede!” Akan lebih baik jika semua memenuhi anjuran petugas NTMC Polri agar menjadi pelopor keselamatan dalam berlalu-lintas.

Andai semua menyadari Allah memberikan setiap orang jatah peran dan rezeki masing-masing secara adil nan proporsional, inshaallah konflik semacam angkot konvensional vs angkot online bisa terhindarkan. Memang ada teori seleksi alam yang menyebutkan jika suatu spesies tak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungannya, maka ia akan segera punah. Sebaliknya yang sanggup beradaptasi itulah yang akan survive atau dapat terus bertahan hidup dalam rentang waktu yang sangat panjang.Tetapi teori is teori yang kebenarannya relatif. Sedangkan kebenaran yang absolut, mutlak hanyalah ketentuan Allah semata.

Kita bisa melihat contoh kasusnya di ruang lingkup media massa. Beberapa tahun lalu mungkin banyak yang memperkirakan jika siaran radio akan diknock out dalam satu ronde oleh siaran televisi. Faktanya hingga kini di Purworejo berjibun stasiun radio yang tetap lestari , diantaranya Irama FM,POP FM, BMT FM, Suara Kenanga, Fortuna dan lain sebagainya. Pernah pula muncul prediksi jika media cetak akan serentak gulung tikar karena tergusur media online yang beritanya bisa garang tanpa ampun kayak Satpol PP. Nyatanya bendera Jawa Pos, Tempo, Kompas, Republika dan lain-lain masih berkibar megah sampai sekarang. Cak Lontong yang lucunya serius itu memotivasi kita untuk mikir,mikir dan mikir. Setiap ragam jenis media mempunyai pangsa pasarnya masing-masing demi mengakomodir kebutuhan seluruh konsumen yang juga beraneka ragam. Ada yang excited mendengar sekilas info yang berselang-seling dengan alunan musik; ada yang hobi mantengin gambar bergerak di layar kaca sampai rela bergadang agar bisa larut dalam euforia liga Champion; ada kutu buku yang harus diusir petugas jaga terlebih dahulu baru mau meninggalkan perpustakaan dengan penuh keterpaksaan; dan ada si kepo abis yang dikit-dikit tanya mbah Google.

Pun demikian halnya dengan dengan angkot konvensional dan angkot online. Keduanya memiliki segmentasi sendiri-sendiri. Angkot konvenional lebih cocok beroperasi di jalanan kota kecil , khususnya di daerah pedesaan yang relatif lengang. Sementara angkot online lebih pas lalu-lalang di jalanan kota-kota besar yang ramai dan padat. Kalau misal keduanya bertukar tempat, maka bisa runyam ceritanya. Coba saja suruh angkot online menuju ke desa saya yang nggunung bingits itu! Persilahkan untuk membawa 800 buah kelapa plus 5 karung gabah! Kemungkinan besar sesampainya di Gesikan-Sekempot, angkot berpenampilan keren tersebut akan jungkir balik masuk jurang, masuk bengkel dan masuk pemberitaan. Kan kasihan tho?

Belum lagi masalah teknis jaringan internet . Grup musik UKS asal Malaysia sampai mengutarakan uneg-uneg kepada si sinyal dengan berujar,”Kau pergi bila ku berharap dan kau datang bila kau suka. Terasa diri tercampakkan.” Harap maklumlah! Mungkin si sinyal sering lari-lari karena lagi ada razia. Dia takut kena rangket Pangeran Sambernyowo sebab ketahuan berteman akrab dengan si petir yang super berisik, jeglarrr-jeglerrr menganggu konsentrasi sang pangeran ketika tengah bertapa. Halah, cerita apaan ini? Sebenarnya soal sinya bisa disiasati memakai wifi. Sayangnya wifi yang ada wifi cap lola alias loading lama. Ya sudah. Jas buka, iket blangkon. Sama juga , sami mawon. Pesannya tanggal 1, angkot onlinenya datang tanggal 32. Kalau mendadak nongol tanduk dan langsung nyeruduk ya wajar.

Sebaliknya jika angkot konvensional terus berseliweran di jalanan ibukota Jakarta tanpa adanya upaya peremajaan armada, maka dipastikan semakin memperkeruh suasana yang sudah terlanjur keruh karena kontestasi Pilkada. Catnya yang kusam dan suaranya yang bernada klokor-klokor, ditambah lagi kondisi mocat-macet walau si komo dan si demo tidak lewat tentu sangat mengurangi kenyamanan penumpang. Memang meski bermesin tua, angkot konvensional sok perkasa. Dia sanggup membawa segala macam muatan, bahkan sampai taraf overkapasitas. Tetapi bisa dibayangkan bagaimana sensasi yang tercipta ketika tabung gas, sekarung dedak, buah durian, sayuran, jajanan pasar, penumpang berparfum si nyong-nyong dan penumpang beraroma ketek rasa jeruk basi tumplek blek jadi satu. Apalagi di dalam angkot konvensional itu tidak ada AC(Air Conditioning). Adanya hanya AS(Angin Semibrit), yakni dengan cara membuka sedikit jendela angkot bagian samping. Bagi saya yang sudah terbiasa ngangkot, semua itu saya anggap sebagai resiko atau cobaan yang harus disikapi secara tenang dan lapang dada.

Lantas timbul pertanyaan bagaimana dengan fakta adanya suatu bisnis yang terus eksis seolah tak lekang oleh apapun juga di tengah bisnis-bisnis lain yang tumbang secara bergiliran? Beberapa wirausahawan yang pernah saya wawancarai menjelaskan bahwa kuncinya itu adalah konsistensi dalam meningkatkan mutu produk dan pelayanan. Syukur-syukur jika selalu mampu memunculkan ide-ide kreatif nan inovatif di setiap saat. Ini akan menjadi nilai plus tersendiri. Seandainya belum bisa melakukan hal tersebut, ya minimal berusaha senantiasa memberi senyuman terbaik, sikap ramah dan santun kepada para konsumen, terutama konsumen yang sudah berstatus pelanggan tetap.

By the the way menurut data Dinas Perhubungan Daerah tahun 2012 terdapat setidaknya 8 perusahaan angkot yang beroperasi di dalam wilayah Kabupaten Purworejo dengan jumlah armada bervariasi. Kopada memiliki jumlah terbanyak, yakni 372 unit, disusul Primkopad B-05 sebanyak 103 unit, Primkoppol 111 unit dan Hika 58 unit. Sedangkan keempat perusahaan angkot sisanya hanya memiliki kendaraan kurang dari 10 unit. Sekarang jalanan di kota Purworejo semakin ramai oleh kehadiran taxi Sindoro-Sumbing Abadi. Meski demikian saya tetap memilih naik angkot biasa karena saya seorang angkoter sejati.

Sungguh masih banyak hal yang ingin saya ungkapkan tentang angkot. Tetapi untuk saat ini saya cukupkan sekian. Inshaallah lain waktu akan saya tuliskan cerita-cerita di dalam angkot yang lebih unik dan menarik. Selamat menikmati tulisan ini! Semoga terhibur dan terinspirasi.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here