SENSASI KUNYAH PERMEN ALA NGINANG

0
310

Oleh: Sri Widowati Retno Pratiwi

Anak muda jaman sekarang mungkin akan merasa risih manakala mendapati orang tua, biasanya nenek-nenek tengah asyik mengunyah sirih pinang dan mempertontonkan gigi-giginya yang penuh bercak kuning kemerahan. Tetapi jangan pandang sebelah mata dulu! Kebiasaan turun-temurun yang dikenal dengan istilah nginang ini telah ada sejak abad 6 Masehi silam dan berkembang di seluruh wilayah Indonesia, bahkan seantero dunia. Diperkirakan lebih dari 600 juta orang mengunyah sirih pinang di berbagai wilayah di dunia (Gupta, 2004:31). Lalu apa gunanya nginang?

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Inggris pada imigran dari Asia Selatan yang mengunyah sirih pinang, didapati bahwa mereka mengunyah sirih pinang karena memberikan rasa yang menyegarkan, sebagai makanan ringan, membantu menghilangkan stress dan dipercaya dapat memperkuat gigi dan gusi (Flora et al., 2012: 170). Boleh dikatakan bahwa kebiasaan nginang itu seperti kebiasaan mengunyah permen yang dilakukan untuk menyegarkan mulut dan mengusir kejenuhan di kala waktu senggang atau ketika sedang menunggu sesuatu.

Hal tersebut dibenarkan oleh tetangga penulis yang berpanggilan akrab mbah Kuneng. Nenek berusia 84 tahun dan berprofesi sebagai pedagang ini mengatakan,”Kalau misal kena batuk, lalu nginang , biasanya pernafasan akan terasa lega dan batuk segera hilang. Selain itu nginang bisa untuk menghilangkan bau badan, khususnya bau mulut.” Lebih lanjut mbah Kuneng menuturkan jika dirinya nginang dari sejak umur 8 tahun. Semula dia hanya meniru-niru kebiasaan orang tuanya. Namun lama-kelamaan mbah Kuneng semakin merasakan nikmatnya nginang dan keterusan melakukannya hingga sekarang.

Hampir setiap hari mbah Kuneng nginang ketika stand by di warungnya, menunggu para pembeli datang. Bahkan saat berpergian ke kota naik angkot pun mbah Kuneng tetap menyempatkan diri membuat racikan sirih pinang dan mengunyahnya sembari ngobrol dengan penumpang-penumpang angkot yang lain. Namun mbah Kuneng pernah cuti nginang selama beberapa hari dan dia merasa kecewa karena hal itu. Dia berujar, “Pas berangkat umroh , pemahaman saya di sana itu kegiatannya khusus hanya untuk ibadah thok dan tidak boleh melakukan kegiatan lain-lain, termasuk nginang. Sampai di Arab ternyata ada juga orang yang nginang. Kalau tidak salah orang itu orang Polandia. Andai tahu dari awal kalau boleh begitu, saya pasti sudah bawa bekal bahan-bahan nginang dalam jumlah yang cukup untuk 9 hari.”

Baca Juga  WANITA DAN SEPAK BOLA

Adapun bahan-bahan penyusun racikan sirih pinang secara umum terdiri atas daun sirih, pinang, gambir, kapur njet yang terbuat dari endapan batu kapur atau gamping , dan tembakau. Untuk perbandingan komposisinya tidak ada ukuran pasti. Semua tergantung selera masing-masing pribadi yang hendak mengunyahnya. Pun begitu dengan cara menginang. Ada dua alternatif cara nginang yang bebas dipilih. Pertama, mencampur bahan pinang, gambir, kapur njet dan tembakau jadi satu, kemudian membungkusnya dengan daun sirih dan mengunyahnya. Kedua , mencampur dan menumbuk semua bahan, termasuk daun sirih dan mengunyahnya. Mbah Kuneng memilih cara yang kedua. Menurutnya bahan-bahan untuk nginang sangat mudah diperoleh dengan harga yang begitu murah. Dengan seikat daun sirih dan sejumput bahan-bahan lainnya yang total seharga tak lebih dari 20 ribu itu, mbah Kuneng dapat merasakan sensasi kunyah permen ala nginang selama seminggu.

Dahulu kebiasaan nginang dilakukan orang dari berbagai kalangan baik tua maupun muda, laki-laki atau perempuan. Namun kini semakin lama peminat nginang semakin berkurang. Ini tak lepas dari fungsi nginang yang masih diperdebatkan. Di satu sisi orang-orang yang terlanjur hobi nginang, seperti mbah Kuneng keukeuh berkeyakinan jika nginang bermanfaat menyembuhkan batuk dan menyegarkan pernafasan. Di sisi lain beberapa penelitian menunjukkan bahwa nginang justru berbahaya bagi kesehatan, terutama kesehatan gigi.

Baca Juga  Ekspedisi Arnawa 1.0

Dalam buku berjudul “Dental Caries and Periodontitis Associated with Betel Quit Chewing: Analysis of Two Data Set” yang diterbitkan pada Journal Medical Association Thailand, Chatrchaiwiwatan mengungkapkan bila mengunyah sirih pinang memiliki pengaruh terhadap tidak dirawatnya karies gigi dan memiliki pengaruh yang buruk terhadap periodontitis, mendorong peningkatan periodontitis dan kehilangan gigi. Alasan yang mungkin bahwa sirih pinang merusak jaringan periodontal dapat dijelaskan seperti pengaruh cholinergic pada sirih pinang bersama dengan kalsium garam dalam air liur yang dapat menyebabkan keropos pada gigi. Pengunyah sirih pinang yang berpengalaman memiliki kerusakan lebih tinggi pada periodontitis daripada bukan pengunyah (Chatrchaiwiwatana, 2006:8). Bahkan lembaga International Agency for Research on Cancer (IARC) menyebutkan bahwa mengunyah pinang berpotensi menyebabkan kanker.

Penulis sendiri berpendapat sirih pinang itu hampir serupa dengan rokok karena keduanya memiliki satu bahan penyusun yang sama, yakni tembakau. Sebagaimana yang diketahui secara umum bahwa tembakau mengandung zat-zat beracun diantaranya tar, nikotin, dan CO yang menimbulkan adiktif atau kecanduan pada orang yang mengkonsumsinya.Hanya saja karena sirih pinang itu dikunyah, tidak dibakar dan dihisap, seperti rokok, maka nginang terlihat lebih santun ketimbang merokok. Efek negatif nginang menimpa sebatas internal pada diri si pelakunya semata. Sementara efek negatif merokok dengan kepulan asapnya mengakibatkan penderitaan tidak cuma pada internal si pelakunya saja, tetapi juga eksternal atau pada orang-orang yang berada dekat di lingkungan sekitar perokok.Oleh sebab itu, penulis samasekali tidak tertarik untuk mencoba nginang, maupun merokok. Meski demikian penulis suka terpesona memandang mbah Kuneng ketika sedang asyik nginang karena raut wajahnya jadi nampak sangat ekspressif dan natural.

Referensi:
Amalisa Iptika, Keterkaitan Kebiasaan dan Kepercayaan Mengunyah Sirih Pinang dengan Kesehatan Gigi, Departemen Antropologi FISIP Universitas Airlangga

Comments

SHARE
Previous articleIKPM JATENG Persembahkan “Java Ethnic Artnival”
Next articleSyafira Alyfania: Mengejar Mimpi & Menginspirasi Teman Seusianya!
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here