WANITA DAN SEPAK BOLA

0
290
Foto: bola.net
Foto: bola.net

Oleh: Sri Widowati Retno Pertiwi

 

REVIENSMEDIA.COM – Bertahun-tahun lalu jika ada wanita yang menggemari sepak bola, maka dia dianggap menyalahi kodrat kewanitaannya. Meski bibir indah wanita sudah jadi ndomble sendomble-ndomblenya karena bicara panjang lebar tentang permainan si kulit bundar isi hawa tersebut, tak ada mata yang memperhatikan dan telinga yang mendengarkannya dengan seksama. Dia pun harus rela menerima stigma bahwa wanita tak pernah tahu apa itu passing, diving, free kick, bicycle kick dkk. Yang dia tahu cuma goal dan wajah —wajah rupawan pesepak bola Italia. Benarkah stigma itu? Tentu tidak benar seluruhnya. Satu pertanyaan, bila seorang pria bernama Rudi Hadi Suwarno boleh sukses di bidang salon yang identik dengan kecantikan wanita, mengapa seorang wanita tidak boleh sukses di bidang sepak bola yang identik dengan kegagahan pria? Oleh sebab itu wanita harus melakukan perlawanan terhadap segala bentuk diskriminasi yang membelenggu passion sepak bolanya.

Beberapa sineas telah menciptakan karya yang menggambarkan bagaimana lika-liku para wanita dalam memperjuangkan cintanya pada olahraga pujaan berjuta-juta umat tersebut. Film inspiratif dari negeri Iran arahan sutradara Jafar Panahi yang berjudul “Offside” layak diketengahkan. Tak lain karena film ini mengangkat fenomena nyata saat Iran berada di bawah kekuasaan rezim Ayatollah Khoemeini. Selama masa pemerintahannya , rezim yang bergaya konservatif itu banyak melakukan pembatasan atau pelarangan terhadap wanita dalam berbagai hal, termasuk soal menonton pertandingan sepak bola. Franklin Foer , penulis buku How Soccer Explain The World : The Unlikely theory of Globalization menjelaskan fenomena ketika banyak wanita di Iran melakukan aksi-aksi nekad agar bisa masuk stadion untuk menyaksikan pertandingan sepak bola secara langsung ,antara lain dengan cara mengempiskan payudara, memotong rambut menjadi cepak dan menyamar memakai pakaian pria. Bahkan, tindakan ekstrim itu juga dilakukan oleh wanita-wanita keturunan penguasa dan ulama ternama Iran. Resikonya bila tertangkap petugas keamanan stadion, mereka akan dipenjara selama beberapa hari dan menjadi aib bagi keluarganya. Film Offside yang diproduksi tahun 2006 itu mencoba memvisualisasikan secara gablag fenomena tersebut. Namun penokohan film Offside dibuat begitu lentur, sehingga masyarakat Iran yang menonton Offside bebas menerka-nerka siapa sesungguhnya tokoh yang dimaksud film ini di dalam kisah kehidupan aslinya.

Film Offside menceritakan 6 orang wanita dengan beragam karakter dan kisah masing-masing yang berusaha keras agar dapat masuk stadion Azadi ,Teheran. untuk menonton secara langsung laga antara Timnas Iran versus Timnas Bahrain. Laga ini begitu penting bagi seluruh pecinta sepak bola Iran, termasuk mereka karena sangat menentukan lolosnya Timnas Iran ke turnamen bergengsi Piala Dunia 2006 di Jerman. Sayang usaha masing-masing keenam wanita muda itu mengalami kegagalan. Salah satu penyebabnya adalah karena perlakuan diskriminatif dari penjual tiket pertandingan yang menaikan harga tiket menjadi beberapa kali lipat jika ada wanita hendak membeli tiket tersebut.Namun kegagalan itu justru mempertemukan dan mempersatukan mereka semua di suatu tempat , yakni di luar pintu tribun penonton dengan pengawasan ketat dari petugas pengamanan pertandingan. Keenam wanita muda itu adalah pertama, si cantik yang menyamar sebagai pria dengan menggunakan topi untuk menyembunyikan rambut panjangnya dan coretan tiga warna bendera Iran di pipinya. Kedua, si tomboy yang keras kepala dan banyak bicara. Ketiga, si pesepak bola wanita yang berposisi sebagai striker. Keempat, si cerdas yang keluarga terpelajar dan terpandang di ibukota Iran, Teheran. Kelima, si remaja manja yang terus-terusan menangis karena terpisah dari sang paman akibat keinginannya untuk menonton pertandingan Iran vs Bahrain secara langsung dan dia takut tidak bisa kembali pulang ke rumahnya. Keenam, si bandel yang melakukan penyamaran dengan memakai pakaian militer agar bisa masuk stadion. Keberaniannya patut diacungi jempol. Namun si bandel ini kurang cermat dalam melakukan aksinya. Dia menyamar memakai pakaian serdadu, tetapi keliru duduk di tempat yang dikhususkan untuk para perwira, sehingga menimbulkan kecurigaan petugas keamanan stadion dan dia pun segera tertangkap.

Walau keenam wanita supporter setia Timnas Iran itu telah menjadi tawanan petugas keamanan stadion, mereka tetap gigih berupaya agar lolos dari penjagaan dan dapat menerobos masuk stadion demi mendukung penuh perjuangan tim kesayangan. Ada yang beralasan kebelet dan mau tak mau harus segera ke toilet. Ketika para petugas tidak mengendurkan prosedur pengawalan ketat, maka tanpa ba bi bu wanita itu mendamprat dan mengumpat mereka sebagai pria-pria tak beretika. Mosok wanita mau buang hajat di wc kok pake diawasi segala? Ya iya sih , itu cuma sebuah akal-akalan supaya bisa meloloskan diri dari penjagaan. Tetapi itu strategi yang cukup bagus walaupun mental karena petugas keamanan jelas memiliki kekuatan yang jauh lebih besar ketimbang daya kegalakan si wanita . Sementara wanita yang lain melancarkan beribu-ribu rayuan dan permohonan diiringi derai airmata. Cara intelektual pun ditempuh, yakni dengan mendebat petugas keamanan soal aturan larangan wanita menonton pertandingan sepak bola di stadion yang ternyata berstandar ganda alias tidak konsisten.

Baca Juga  Landscape Kebudayaan & Humanisasi Sebagai Patron

Ada fakta sebelumnya ketika Timnas Iran menjamu Timnas Jepang, supporter wanita Jepang diperkenankan masuk stadion dan duduk manis di tribun utama penonton. Adalah suatu keganjilan yang teramat ganjil ketika supporter wanita tim tamu lebih diistimewakan, sementara supporter wanita tim tuan rumah justru didiskriminasi. Jelas fakta tersebut menunjukkan ketidak-adilan penguasa dalam memberlakukan suatu aturan. Sangat wajar jika keenam wanita itu memprotes keras aparat-aparat yang bertugas di lapangan selaku representasi dari rezim kolot tersebut. Tetapi apa jawaban para petugas keamanan stadion? Mereka bilang bahwa supporter wanita Jepang tidak paham bahasa Iran, sehingga mustahil untuk baper dan tersakiti oleh ucapan-ucapan kasar supporter pria Iran manakala tensi pertandingan semakin meningkat. Tak pelak wanita-wanita Iran itu menyatakan jika kesalahan dan kemalangan terbesar mereka adalah karena terlahir sebagai orang Iran. Sejujurnya para petugas keamanan stadion cukup pusing 1.000 keliling karena ulah wanita-wanita penggila bola itu. Di satu sisi mereka dituntut menjalankan tugas sesuai prosedur yang diinstruksikan oleh sang atasan. Di sisi lain mereka menyadari ketika Timnas berlaga, maka seluruh warga negara berhak sekaligus wajib memberikan dukungannya tanpa terkecuali, termasuk warga negara berjenis kelamin wanita. Tak jarang mereka terpancing siasat wanita-wanita tahanan mereka tersebut, sehingga keceplosan membocorkan jalannya pertandingan dan skor sementara. Setelah melalui serangkaian drama-drama luar biasa , akhirnya happy ending tercipta. Tim Iran berhasil menaklukkan tim Bahrain 3-2 ( 1-0 versi nyata )dan lolos ke putaran final Piala Dunia 2006. Keenam wanita yang sudah terbukti sebagai supporter setia Timnas Iran itu pun berdamai dengan para petugas keamanan stadion. Bersama-sama mereka larut dalam euforia kemenangan Timnas Iran yang juga semakin melambungkan nama —nama pesepak-bola top Iran kala itu, seperti Ali Daei, Ali Karimi, Vahid Hashemian , Mehdi Mahdavikia dan Javad Nekounam.

Namun sebagaimana pengalaman yang sudah-sudah, jika ada karya yang memerahkan telinga dan membakar jenggot penguasa pastilah segera dibreidel. Demikian pula halnya dengan film Offside yang dihukumi haram tayang di Iran. Pun sang sutradara, Jafar Panahi yang memang terkenal sangat kritis itu harus menerima vonis 6 tahun penjara juga larangan berkarya, berbicara kepada pers dan berpergian ke luar Iran selama 20 tahun. Meski demikian pesan film Offside tetap berhasil tersebar ke seantero Iran melalui jalur distribusi pemasok film bajakan. Bahkan di negara-negara barat film ini menuai banyak apresiasi. Offside tercatat pernah menjadi nominator dalam festival film New York dan Toronto 2006. Kemudian di tahun yang sama menyabet penghargaan Silver Bear di festival film Berlin. Situs online Amazone pun tak sungkan memberinya predikat“The Best Gender Studies Film” . Saya sendiri selaku golongan orang sufi(suka film) cukup beruntung karena secara kebetulan dapat menyaksikan film Offside di salah satu stasiun tv swasta nasional . Ceritanya hari itu saya tidur lebih awal selepas waktu isya dan terbangun pada jam 11 malam. Kemudian saya nyalakan tv tepat pada channel yang tengah menayangkan film tersebut. Alhasil saya bisa konsen menikmati film Offside karena keluarga saya semua sudah tertidur lelap.Dan sangat wajar jika saya memberikan tanda bintang 10 untuk film keren yang satu ini. Meski tema yang diusung cukup serius, namun sang sutradara begitu cerdas mengemasnya dalam bentuk komedi satir yang walau kritikannya tajam tetapi tetap konsisten gaya kocaknya, sehingga ringan untuk dipahami.

Sungguh kita, para wanita yang berstatus WNI harus bersyukur karena Allah telah memberikan anugerah indah berupa sosok pendahulu bernama R.A.Kartini. Beliaulah yang membuka jalan bagi kita semua , sehingga mendapat kesempatan mengakses pengetahuan dan pendidikan yang layak untuk berkiprah dan menggapai keberhasilan di berbagai bidang kehidupan, termasuk di dunia sepak bola. Kini sudah banyak wanita Indonesia yang berkiprah menggeluti sepak bola tak hanya sebagai supporter penggembira atau cheerleader semata. Tak seorang pun meragukan kualitas artist foto model, bintang iklan, sekaligus presenter cantik, Donna Agnesia yang gara-gara memandu siaran Piala Dunia 2006 kemudian bertemu dengan jodohnya, Darius Sinatrya. Lalu ada Fortunella Levyana yang mencuri perhatian pada gelaran kompetisi Indonesian Super League(ISL) 2012/2013 ketika menjalankan tugasnya sebagai fisioterapis untuk klub Pelita Bandung Raya (PBR) . Levyana sekarang sudah hijrah ke Malaysia karena pinangan klub Trengganu City yang begitu kepincut oleh professionalismenya dalam bekerja. Belum lagi nama Viola Kurniawati selaku Humas klub ibukota Persija , Nirmala Dewi sang Dirut marketing klub Sriwijaya FC dan sederet CEO ayu nan tangguh dari klub-klub lainnya. Bukan tidak mungkin ke depan Indonesia memiliki Timnas Garuda putri yang mampu meraih trophy juara dan mengharumkan nama bangsa di kancah Internasional.

Baca Juga  Tedak Siten: Prosesi Selamatan si Kecil

offside

Mesti mengucap alhamdulillah pula karena di sini tidak ada undang-undang yang membatasi wanita dalam menonton sepak bola. Jadi kaum hawa pecandu bola Indonesia tidak perlu pethakilan, bertingkah macam-macam ,seperti halnya wanita-wanita Iran di zaman pemerintahan rezim Ayatollah Khoemeini. Umpama suatu saat nanti ada pejabat negeri ini yang berencana menerapkan peraturan nyebelin itu, maka sudah menjadi tanggung jawab saya untuk mengkritiknya habis-habisan melalui media massa. Kalau kemudian saya dikriminalisasi dan terpaksa harus pensiun dini dari dunia jurnalistik karena hal tersebut ya tidak masalah. Saya bisa alih profesi menjadi seorang guru ngaji. Namun saya bukan guru ngaji yang biasa-biasa saja.

Berhubung saya punya kitab ”Football Inspirations For Success : Meraih Sukses dengan Filosofi Sepak Bola” karya Achmad Suudi , maka saya bermaksud mengembangkan program ngaji bola. Saya akan ajarkan kepada santri-santri saya tentang best starting eleven tim Ideal Muslim dengan formasi 4-3-2-1. Syahadat sebagai gelandang playmaker pemegang ban kapten alias pemain kunci. Dua bek tengah solid yang berdiri sejajar diisi oleh shalat dan puasa. Bek kiri adalah zakat, sementara bek kanan adalah haji yang merupakan benteng pertahanan sangat kokoh. Kemudian penjaga gawang yang amat sangat super sekali, yakni tobat. Pasangan gelandang sayap kreatif kanan-kiri , yaitu rajin belajar dan bekerja keras. Kemudian sabar bertandem dengan syukur yang sama-sama berperan selaku second striker. Lalu posisi ujung tombak atau striker murni yang dijabat oleh ikhlas. Tak ketinggalan tentunya sang pelatih bernama tawwakal.

Nah menjelang kick off kompetisi, reporter olahraga sibuk mewawancarai beberapa mania bola mengenai prediksi pertandingan. Salah satu yang diwawancarai adalah fans Jerman( fans yang rumahnya jejer kauman).Si fans Jerman berujar,”Melihat line upnya, inshaallah tim Ideal Muslim akan memenangkan setiap pertandingan dengan kemenangan WO( Walk Out) yang skornya 3-0.” Si reporter jadi penasaran dan bertanya lagi,” Lho ..kok bisa memenangkan setiap pertandingan dengan kemenangan WO?” Si fans Jerman yang asli orang Jawa ini menjawab,”Ya, bisalah. Lha wong lawan tim Ideal Muslim, yakni tim setan jadi ora doyan, sementara tim demit juga jadi ora ndulit. Karena ora doyan dan ora gelem ndulit sama tim Ideal Muslim, maka tim setan dan tim demit memilih mengundurkan diri dari pertandingan alias WO.” He..he..

Kita pun perlu berterima kasih kepada Eva Nurida Siregar . Keputusannya memboyong sang suami, striker ganas Christian Gonzales dari Uruguay ke tanah air adalah berkah tersendiri. Persepak-bolaan nasional menjadi tambah bergairah dan lebih berwarna oleh status naturalisasinya, terutama pada ajang Piala AFF 2010. Meski kompetisi sepak bola dalam negeri sempat mati suri akibat terkena sanksi FIFA, namun tahun ini bangkit kembali dengan semangat dan spirit baru. Apalagi Christian Gonzales sudah bikin heboh, mencetak 5 gol dalam satu pertandingan pada fase semifinal turnamen pra musim Piala Presiden beberapa waktu lalu dan mengantarkan timnya, Arema Malang menjadi kampiun turnamen tersebut. Dia begitu cucok sebagai kepala gerombolan singo-singo edan itu karena dia pun berjuluk El Locco yang berarti si gila. Namun kegilaan Gonzales bukan sembarang gila. Dia gila dalam soal usaha meraih prestasi, sehingga patut dijadikan teladan oleh siapapun, khususnya kalangan anak muda.

Ketika awal kemunculannya di jagat bola tanah air, Christian Gonzales memang belum fasih berbahasa Indonesia. Masih belepotan bicaranya atau pating pecothot kalau menurut bahasa Jawa. Beruntung karena Eva Gonzales mampu menutupi kekurangan suaminya itu. Dialah yang sibuk wara-wiri ke berbagai stasiun tv dan bertindak sebagai jubir terbaik buat Christian Gonzales. Langkahnya pun segera diikuti oleh isteri-isteri pesepak bola nasional lainnya. Dulu mungkin kita mengenal istilah WAGS hanya di kancah bola negeri Inggris saja. Maka tak salah rasanya jika dikatakan bahwa Eva Gonzales yang mempopulerkan WAGS di Indonesia. WAGS sendiri adalah singkatan dari wives and girls yang merujuk pada makna istri-istri dan gadis-gadis cantik kekasih para pesepak-bola pria yang selalu support terhadap karir pasangannya masing-masing. Sebagaimana ungkapan yang berbunyi : “Dibalik kesuksesan seorang pria, pasti ada wanita hebat di belakangnya.” Akhirnya maju terus wanita-wanita Indonesia! Maju terus sepakbola Indonesia !

*Diolah dari berbagai sumber referensi

Comments

SHARE
Previous articleSyafira Alyfania: Mengejar Mimpi & Menginspirasi Teman Seusianya!
Next articleGEBYAR PERDANA PERJUANGAN HIPMI PURWOREJO
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here