Sejarah Jerman Selama 2000 Tahun

0
499

Oleh: Nadya Karima Melati

REVIENSEDIA.COM, JERMAN – Berbicara mengenai universitas, gue sering banget nongkrong dengan teman-temannya Timo di Mensa. Mensa alias nama tempat tongkrongan kantin kampus sekaligus kumpulan manusia-manusia ber-IQ di atas rata-rata alias yang ada di sini intelektual semua. Geng nya Timo terdiri dari ilmuwan sosial dari berbagai bidang mulai dari antropolog khusus Asia Tenggara macam Dr. Mo, ada penerjemah yang politongue sekaligus teman gue yang asik namanya Herr C.

Ada juga mas-mas doyan olahraga yang ngajar kajian filsafat Barat, ada mahasiswi kajian politik-ekonomi hubungan Jerman-Asia Selatan, sampai sejarawan macam gue (uhuk self claimed). Seperti Geng an gue di kampus juga sih, perpaduan mahasiswa dan dosen Ilmu sosial dan mereka nongkrong dengan teratur di sini.
Bergabung dengan manusia-manusia macam gini gue jadi menyadari lingkungan gue. Gue pernah jadi anak metal, penggemar jejepangan, dan ternyata ini dientitas dan lingkungan yang gue pilih. Ha! Cuma manusia bebas yang bisa pilih lingkungannya, kalau kamu enggak bebas kamu cuma pasrah pada tempat kamu terlempar! -pesan moral hari ini.

Anyway mau cerita nih, kemarin gue dan Geng an akademisi Om-om ini jalan-jalan hiking ala-ala memperingati Hari Buruh. Kami tadinya mau ikut parade Hari Buruh tapi beberapa teman yang kekiri-kirian merasa tidak ada guna lagi ikut demo hari ini, parade hari ini di Jerman cuma selebrasi karena buruh sudah hidup layak di sini. Tapi kalau kalian masih di negara yang buruhnya jam kerja gak dibatasi atau gak dikasih uang lembur, gajinya di tunda-tunda KALIAN WAJIB IKUT DEMO BURUH! Camkan itu! Kami merayakan Hari Buruh dengan piknik ke tamasya sejarah di wilayah Sungai Ahr, tepatnya di Bad Neuenahr-Ahrweiler. Lokasinya di Jerman Barat. Setidaknya ada tiga lokasi wisata yang kami jabanin. Ada reruntuhan komplek tuan tanah peninggalan masa Romawi Kuno abad ke 1-4 masehi, ada bunker yang dibangun untuk tempat sembunyi pada masa Perang Dingin, ada juga Gereja yang dibangun tahun 1200an saat Katolik lagi menyebar dan menjadi pusat segala hal di Bumi Jermanika ini. Asiknya dibahas per periodisasi atau lokasi yang gue datengi ya? Secara periodisasi aja deh biar gue keliatan sebagai anak sejarahnya.

1. Reruntuhan Romawi Sekitaran Jerman Barat

Sehari sebelumnya gue diajak jalan-jalan sama Antropolog Kutai juga temennya Timo untuk berkeliling Kota Cologne. Kota ini punya dua nama, Koln (huruf O harusnya ada dua titik di atasnya sih) kalau bahasa Inggrisnya Cologne. Kota ini jadi pusat kota yang sempat porak-poranda saat perang dunia kedua. Di kota ini gue diajak buat lihat bangunan yang tersisa dari PD II dan reruntuhan dari jaman Romawi yang ditemukan saat mereka berusaha membangun kota yang sempat hancur itu.

Nah, fokus bahasan gue pada reruntuhan itu kalau soal kota dan persebaran komposisi penduduk kalian bisa cek di instagram gue @Nadyazura beserta foto-foto selfie . Gue mengelompokkan reruntuhan ini bareng dengan reruntuhan komplek rumah tuan tanah yang ditemukan di Bad Neuenahr (Bad artinya Desa, Neuen itu baru, Ahr nama sungainya. Mamam Noh tata bahasa Jerman). Reruntuhan yang ditemukan di Cologne itu merupakan kantor adminstratif sedangkan reruntuhan di Bad Neunahr bekas komplek rumahnya tuan tanah yang kira-kira dibangun pada masa yang sama sekitar 1-4 Masehi.

Baca Juga  MENIKMATI PEMANDANGAN INDAH DI HENDERSON WAVES BRIDGE

Gue sendiri kepengen membuat ruang lingkup dalam tulisan wisata sejarah ini dengan mengelompokkan wilayah jadi Jerman Barat agar lebih mudah jelasin persebaran suku sekaligus pembauran budayanya.

WhatsApp Image 2017-05-02 at 16.55.42 (1)
Jadi wilayah Jerman khususnya bagian barat dulunya bekas penaklukkan kerajaan Romawi Kuno ini dibuktikan dengan reruntuhan-reruntuhan yang banyak ditemukan di sekitaran sungai Rhein seperti yang gue liput ini.

Beda dengan budaya Romawi di berkembang di Jerman Barat sekitaran Sungai Rhein yang udah kenal pembuatan kaca, tembikar, bangunan batu sampai pemanas lantai kalau suku dari Jerman bagian timur mereka seperti orang Asia Tenggara karena tinggal di hutan-hutan maka alat-alat mereka terbuat dari kayu dan enggak banyak peninggalan yang bisa ditemukan. Bukan berarti enggak ada loh ya, cuma karena terbuat dari kayu maka barang-barang tersebut mudah lapuk sehingga gak ada lagi bekasnya di hari ini.

2. Agama Tuhan, Jerman 1000 tahun Kemudian

Mari kita lompat seribu tahun kemudian ketika agama Kristen khususnya Katolik memegang kendali atas segala hal di bumi Eropa. Hal yang gue sukai dari pelajaran sejarah di Erpoa adalah sejarah mereka tidak selalu tentang glorifikasi tapi juga masa lalu yang suram dan kelam. Nah lengkapnya akan gue ceritakan melalui foto-foto bangunan berikut:

Gereja yang dibangun selama ratusan tahun ini dimulai pembangunanya pada tahun 1200an. Ketika itu Katolik mulai berkuasa dan mengatur segala kehidupan manusia atas nama agama, enggak jauh beda dengan Hukum Syariah yang lagi digembar-gemborkan kaum agamawan di Indonesia saat ini. Gereja pertama-tama menghancurkan kepercayaan dan agama lokal dengan mengenyahkan mitos tentang setan dan hantu, di satu sisi gereja mengajarkan berpikir secara empirik dan juga baca tulis tentnunya walupun terbatas hanya pada golongan Rohaniwan, itu juga laki-laki doang.

Gak asik rasanya kalau gak ngomongin soal Black Death sebagai bagian dari sejarah Eropa dan alasan mengapa orang Jerman suka minum bir. Setelah bermegah-megah bangun gereja sekitaran tahun 1000-1200an, di seratus tahun berikutnya kira-kira 1340an terjadi wabah besar yang mematikan penduduk Eurasia termasuk Jerman namanya wabah hitam.

Wabah ini terjadi karena tikus yang banyaaak sekali dan mereka menularkan penyakit ini di mana-mana. Populasi tikus yang merajalela dan kebersihan jadi faktor utama tersebarnya penyakit mematikan ini. Bir diciptakan dan dipilih sebgaai minuman untuk mencegah terjangkitnya wabah dan folklore seperti Si Peniup Seruling dari Hammelin menyeruak sebagai narasi anak-anak. Karena gereja pada masa itu menolak apabila mereka menjadi penyebab menyebarnya wabah ini.

Hampir sepertiga penduduk mati karena wabah ini dan wabah ini juga mengubah hubungan sosial karena wabah ini menular. Kepercayan pada Kristiani mulai memudar karena seperti kebiasaan para Agamawan yang menjauhi ilmu pengetahuan, mereka bukannya mencari sumber penyakit dengan metode ilmiah malah bikin hipotesis yang ngawur seperti perempuan pendosa penyebab wabah ini lah, atau imigran sialan berkulit kuning menjadi pembawa wabah ini.

Baca Juga  YANG UNIK DI ARAB SAUDI

Mereka gak mau menerima bahwa kebersihan dan tikus yang menjadi sumber penyebaran penyakit ini. Ya apa Indonesia mau nunggu sampai kaum Agamawan tolol memerintah macam gini bair penduduk Indonesia mati karena wabah dan perang saudara?
Eh ada yang menarik dari gereja yang jadi ikon Kota Cologne pas Perang Dunia 2. Gereja tersebut enggak hancur total karena serangan bom bukan karena Tuhan yang menjaga rumahnya, tapi karena musuh memerlukan simbol kota itu sebagai patokan navigasi pesawat tempur!

3. Jerman di antara Dua Perang

Tempat ketiga dan jadi destinasi wisata yang T.O.P.B,G.T di Bad Neuenahr, Bunker bekas perang dingin. Kenapa gue kasih foto jalanannya doang? Karena gue terlalu pelit buat beli tiket khusus fotonya dan gue terlalu taat peraturan buat nyolong foto di dalam bunker. Gue memang tamu negara yang taat aturan.

WhatsApp Image 2017-05-02 at 16.55.42
Bunker ini jadi saksi traumatis Jerman pada perang dunia khususnya dengan senjata Nuklir. Banyak kota-kota di Jerman benar-benar hancur saat PD 2 termasuk Kota Cologne dan lainnya. Ini yang membuat Jerman benar-benar trauma dengan perang, perang apapun. Beda dengan Indonesia yang mengalami perang sebatas perang melawan penjajahan atau perang saudara di Amerika Serikat. Jerman dan beberapa wilayah Eropa lain menjadi arena perang sesungguhnya dengan parit, tank, senjata, bom, pesawat tempur.
Dan kalau kamu pernah merasakan perang dan pembantaian, maka kamu sadar bahwa kamu tidak mau mengalaminya lagi. Antisipasi ini yang dilakukan oleh pemerintahan, khususnya elit Jerman.

Mereka “menilep” uang pajak negara Jerman Barat waktu itu untuk bikin bunker sepanjang 19 kilo meter sebagai tempat perlindungan apabila akan jatuh serangan nuklir seperti di Hiroshima dan Nagasaki.

Mereka benar-benar ketakutan hingga tega membohongi rakyatnya dan mengambil uang pajaknya tanpa pengawasan. Sialnya, hanya politisi dan ilmuwan alam yang boleh masuk ke bunker ini apabila serangan benar-benar terjadi. Mereka tidak diperkenankan bawa anak atau istri, ilmuwan sosial macam gue juga tidak diajak masuk bunker.

Gue salut dengan penduduk Bad Neuenahr mereka ikhlas aja dan rela bunker itu diajadikan museum, agar generasi berikutnya ingat bagaimana perang mampu membuat kita semua jadi tamak. Ketika lmuwan sosial mati-matian buat rekonsiliasi dan perundingan agar perang tidak terjadi, ilmuwan alam membuat bunker dan menjadi alat untuk melarikan dirinya para elit negara. Di satu sisi egois banget ya para elit, di sisi lain emang deh kok kalian gak bisa menghargai kemajuan yang kami ilmuwan sosial buat sih. Hih.

Tapi gue belajar banyak dengan Jerman. Mereka mati-matian enggak mau ada perang lagi dan menolak penggunaan bom atau senjata apapun. Karena perang enggak pernah enak, perang hanya meninggalkan janda dan orang mati. Mereka menerima itu semua sebagai masa lalu dan berharap tidak terulang lagi. Kita sebagai warga negara Indonesia tentunya bisa belajar banyak dari ini kan?

Blog: http: nadyazura.blogspot.co.id

Comments

SHARE
Previous articlePESONA MASJID APUNG KALIMANTAN
Next articleNaik Dango : Syukuran Ala Masyarakat Dayak
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here