Naik Dango : Syukuran Ala Masyarakat Dayak

0
504

Oleh: Budi Cesar

REVIENSMEDIA.COM, KABUPATEN LANDAK – Hal yang sangat istimewa saya rasakan bersama kawan-kawan Kopi Antara ( Komunitas Peduli Anak Nusantara ) saat kita berkunjung ke Dusun Bobor, Mandor, Kabupaten Landak.

Mengapa tidak? yang sebenarnya kita sedang mengadakan bakti sosial ke SD Negeri 18 Bobor bekerjasama dengan kawan-kawan PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Khatolik Republik Indonesia)

Eh, ternyata hari itu sabtu tanggal 29 April 2017 bertepatan dengan acara Naik Dango. Alhasil kita digilir oleh penduduk Dusun Bobor untuk mencicipi masakan dari rumah ke rumah. Mantabb!!!

Namun sebenarnya apa sih Naik Dango itu? Naik Dango dalam masyarakat Dayak Kabupaten Landak adalah bentuk rasa syukur kepada Jubata (Tuhan) setelah masa panen.

Baca Juga  Meriam "Karbit" Sultan Abdurrachman

Naik Dango atau biasa disebut gawai berlangsung selama 3 (tiga) hari dan hari terakhir namanya Belalak, atau istilahnya nyepi. Saat Belalak berlangsung masyarakat tidak boleh menyalakan cahaya sekecil apapun.

Kalau ada yang melanggar akan dikenakan hukum adat dua kali lipat dari denda yang ditetapkan. Misalkan didenda yang dikenakan adalah babi makan yang harus dibayar adalah 2 (dua) ekor babi.

Lalu apa tujuan dari masyarakat Dusun Bobor meminta kita bertandang dari rumah kerumah, adalah bahwa mereka percaya jika seseorang bertamu dan mencicip masakan yang dihidangkan akan menambah keberkahan pada penghuni rumah tersebut.

IMG-20170502-WA0020

Saat itulah para warga berbondong-bondong menggilir kita untuk bertandang kerumahnya dan mencicip masakan yang telah mereka buat.

Baca Juga  IKPM JATENG Persembahkan “Java Ethnic Artnival”

Masakan yang dihidangkan pun sangat beragam dari olahan ayam, olahan babi dan beberapa sayur yang diambil langsung dari kebun mereka.

Makanan ringan yang tersedia juga cukup beragam. Ada yang namanya kue keranjang yang terbuat dari beras ketan, ada kue cucur atau tuping, dan beberapa panganan yang terbuat dari ketan hitam yang dibungkus dengan daun pisang mirip dengan jenang namun tidak lengket.

Pokoknya kita disana dibuatnya kualahan terhadap keramah tamahan masyarakat Dayak Dusun Bobor. Walau hanya beberapa jam saja namun bercengkrama dengan mereka sangatlah berkesan.

Adil Ka Talino, Bacuramin Ka Saruga, Basengat Ka Jubata

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaSejarah Jerman Selama 2000 Tahun
Berita berikutnyaKopi Hitam Lebak Cap Kupu-kupu Yang Tak Lagi Pekat
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Pria yang memiliki motto dalam hidup lets life flow like a water Ini lahir di semarang, 20 juni 1987. Berpendidikan SH di universitas negeri semarang. Ia pernah magang advokad pada yayasan bantuan hukum adil indonesia, dan sekarang kerja di KPP Pratama Pontianak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here