Kopi Hitam Lebak Cap Kupu-kupu Yang Tak Lagi Pekat

0
586

Oleh: Yuli Setyawan

Aroma kafein merangsek masuk melalui rongga-rongga hidung, lekat menempel menuju equilibrium. Respon positifpun diterima, hingga mampu membuat kelopak mata tak mau terpejam. Bagi pecandu insomnia, komoditas ini wajib tersedia saat beraktifitas.

REVIENSMEDIA.COM, RANGKASBITUNGĀ – Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar ke-4 di dunia, setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia. Kopi pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada abad ke-17 oleh bangsa Belanda melalui jalur perdagangan di Batavia dan Banten kala itu. Jenis kopi pertama yang ditanam di Indonesia adalah Arabica, kemudian berganti lagi ke jenis Liberika dan Robusta. Kopi menjadi magnet perdagangan di Indonesia karena iklim tropis yang dimilikinya sangat mendukung pengolahan maupun penanaman di berbagai wilayah. Salah satunya adalah Banten. Provinsi Banten memiliki wilayah geografis yang sangat luas. Didominasi oleh persawahan, perkebunan, dan juga hutan yang tersebar di pesisir tenggara berbatasan dengan kabupaten Bogor.

Kabupaten Lebak salah satunya. Di era kepemimpinan Bupati Lebak pertama, Raden Karta Natanegara, kopi sudah menjadi komoditi unggulan, selain cengkeh dan kopra. Kopi ditanam hampir di setiap pelosok desa, warga menyadari dengan menanam kopi maka penghasilan keluarga mereka akan bertambah. Namun, beberapa kebijakan Bupati yang dipengaruhi oleh aturan pihak Belanda kala itu membuat warga mengalami kerugian. Dari total lahan yang ditanami kopi, 90% hasil panen harus diserahkan kepada pihak Belanda. Bukan itu saja, para petani wajib menyerahkan upeti berupa hasil bumi kepada sang bupati setiap satu kali masa panen. Buah buahan, sayuran, hasil perkebunan seperti cengkeh dan pala, padi hingga hasil tangkapan ikan wajib diserahkan kepada bupati dan para petinggi Belanda. Lokasi penyerahan upeti tersebut berada di alun-alun kecamatan Warunggunung, sebelum berpindah ke kecamatan Rangkasbitung pada tahun 1851. Hingga saat ini tradisi penyerahan upeti tersebut masih berlangsung. Kegiatan ini dilakukan oleh warga suku Baduy yang tinggal di pedalaman kampung Kanekes kecamatan Leuwidamar.

Baca Juga  Warkop Asiang Tempat Ngopi Favorit Masyarakat Pontianak

Kopi bagi warga kabupaten Lebak, Banten sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan hanya lelaki saja yang menjadi penikmat kopi, wanitapun juga demikian. Kopi sudah menjadi komoditi wajib bagi setiap kegiatan maupun acara sacral di wilayah itu. Hingga terciptalah kopi khas daerah Rangkasbitung yang tersohor, kopi Cap Kupu Kupu. Kopi tradisional yang diracik secara manual ini berasal dari kopi lokal Robusta yang ditanam di daerah Cimarga, Leuwidamar, Bojongmanik dan Lebak Gedong. Petani biasanya memanennya setiap 3 bulan sekali, dan mengirimnya kepada pengepul di daerah Rangkasbitung. Kemudian dari tangan para ahlinya, biji kopi tersebut diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan cita rasa lokal yang identik. Rasa Kopi Cap Kupu Kupu sudah melegenda hingga ke pelosok Jawa Barat. Dari tukang becak, pedagang pasar, pegawai kantor bahkan pejabat pemerintah daerahpun sangat menggemari aroma kopi Cap Kupu Kupu ini. Selain harganya yang sangat terjangkau, kopi cap Kupu Kupu ini mudah didapat. Distribusi penjualan kopi ini sudah masuk ke desa-desa dan pelosok, warung-warung kecil hingga mini market juga menyediakan kopi olahan ini.

Baca Juga  DIPANGKONG CARE BIKINNYE

Namun kini keberadaan kopi Cap Kupu Kupu ini tidak sewangi aromanya. Tergerus oleh derasnya arus produk kopi pabrikan yang sangat gencar menawarkan lewat berbagai media. Jenis-jenis kopipun bermunculan, seperti kopi putih dan kopi dari kotoran hewan. Sehingga dari awal munculnya kopi Cap Kupu-Kupu ini, hanya mampu bertahan sekitar 20 tahun saja. Namun, bagaimanapun juga kopi Cap Kupu Kupu khas kabupaten Lebak ini pernah menjadi saksi bisu dominasi komoditas khas yang mampu menjadi primadona warga lokal, lewat tangan-tangan kreatif pemuda Banten.

Comments

SHARE
Previous articleNaik Dango : Syukuran Ala Masyarakat Dayak
Next articleKematian Soekarno Tak Seindah Jasanya Memerdekakan Negeri Ini.
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here