BROTHER MUSLIMMAN DI MEDAN KONFLIK SURIAH

0
581

Oleh: Sri Widowati Retno Pratiwi

REVIENSMEDIA.COM, SURIAH – Foto-foto menyedihkan ini saya dapatkan pada pertengahan tahun 2013 silam. Sungguh saya tak pernah membayangkan akan mendapatkannya secara cuma-cuma.Padahal foto-foto tersebut memotret kondisi memilukan korban perang Suriah di kota Allepo yang nun jauh di seberang sana. Ya, begitulah. Teknologi komunikasi dan informasi, dalam hal ini media sosial facebook telah membuat sesuatu yang semula terasa mustahil menjadi mungkin. Membuat jarak antar negara-negara di seluruh penjuru dunia menjadi tiada berarti.

Awalnya saya like dan follow fan page bertajuk I m a Muslim & I m Proud. Motivasi saya ketika itu supaya bisa berkenalan dengan saudara-saudara seiman dari berbagai negara dan tentunya sekaligus untuk mendukung salah satu hobi saya, yakni mempelajari beragam bahasa asing. Terus terang saya begitu kagum pada sosok pahlawan nasional asal Sumatera Barat yang seorang alim(ahli ilmu) , Haji Agus Salim. Selain wawasan agamanya yang luas, beliau juga menguasai setidaknya 7 bahasa asing. Beliau aktifis organisasi pergerakan untuk kemerdekaan Indonesia yang kemudian menjadi politisi dan birokrat pemerintahan serta pernah berkecimpung di dunia jurnalistik. Pokoknya paket komplitlah. Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap para pahlawan nasional lainnya, menurut saya Haji Agus Salim adalah pahlawan nasional yang paling keren. Oleh sebab itu , walau saya tak sejenius beliau, saya tetap berusaha mengikuti jejaknya, terutama dalam hal penguasaan bahasa asing.

Nah kurang lebih sekitar sebulan mantengin fan page tersebut, saya mendapati beberapa akun yang konsisten memberi komentar menarik atas setiap topik yang tengah dibahas. Salah satunya adalah akun yang bernama Vehbi Geraxhliu Muslimman. Karena saya terpesona dengan komentar-komentarnya yang selalu menggetarkan hati, maka saya segera add friend akun itu dan memberanikan diri berkenalan menggunakan bahasa Inggris. Ternyata dia confirm dan balik memperkenalkan dirinya sebagai orang Jerman yang sedang bertugas di Suriah. Sungguh batin saya riang sekali bisa berteman dengan si Vehbi. Ibarat pepatah : ”Pucuk dicinta, ulam tiba.” Kebetulan saya memang suka hal-hal yang terkait negeri Jerman. Mulai dari sejarah, industri teknologi hingga Timnas sepak bola Jerman dan tentu saja bahasanya. Sontak saya bilang kepada Vehbi kalau saya ingin belajar bahasa Jerman kepadanya. Vehbi mengiyakan. Kemudian dia bercerita kalau dirinya belum lama berada di kota Allepo, Suriah. Dia juga sedang belajar keras supaya lekas menguasai bahasa Arab dialek Suriah, sehingga bisa lancar berkomunikasi dan berinteraksi dengan warga setempat. Sejak itulah saya dengan Vebhi intens berchating ria memakai bahasa campur-campur, ya bahasa Inggris ya juga bahasa Jerman. Saya pun jadi rajin menengok postingan-postingan di akun facebooknya.

Semula saya tidak terlalu peduli tentang apa sesungguhnya tugas yang tengah diemban Vehbi di Suriah. Saya hanya mengira-ira saja karena di akun facebooknya tidak ada petunjuk samasekali mengenai hal itu. Kemungkinan besar Vehbi adalah staf diplomatik yang bekerja pada kantor konsulat atau kantor kedutaan besar Jerman untuk Suriah berdasar statement-statemennya yang menunjukkan bahwa dia seorang berpendidikan tinggi dan sering berpindah tempat dari satu negeri ke negeri lainnya. Namun suatu hari hati saya dibikin trenyuh oleh kiriman foto-foto dan ceritanya mengenai penderitaan warga Suriah akibat konflik peperangan antara pasukan militer di bawah kendali pemerintahan presiden Basshar Al Assad dengan tentara kaum oposisi yang telah berlangsung dari sejak tahun 2011.Saya pun sempat berfikir jika Vebhi sebenarnya adalah seorang relawan kemanusiaan. Tetapi dugaan saya itu lagi-lagi salah. Seiring perjalanan waktu, akhirnya saya tahu bahwa Vehbi ternyata salah seorang yang aktif terlibat dalam suatu peperangan atau istilahnya itu kombatan. Dia kombatan asing yang rela datang jauh-jauh dari Jerman ke Suriah demi membantu dan menambah kekuatan milisi kaum oposisi. Agak kaget saya ketika kemudian melihat postingan foto dirinya berseragam loreng-loreng , memakai rompi anti peluru dengan pose tengah memanggul senjata berat dan berdiri di depan sebuah kendaraan tempur lapis baja. Tak lain karena raut wajah Vebhi yang terlalu lembut untuk ukuran seorang prajurit yang sedang berjuang di suatu medan peperangan. Menurut saya sih dia lebih cocok sebagai relawan kemanusiaan ketimbang relawan kombatan. Tetapi masak saya memaksa mengatur-atur hidup orang lain? Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik buat Vehbi, sementara saya tidak tahu.

Baca Juga  Sejarah Jerman Selama 2000 Tahun

Vehbi sendiri juga tidak tahu apa yang berkecamuk di hati dan fikiran saya. Soalnya dia sibuk mengungkapkan berbagai fakta kezhaliman presiden Bashar Al Assad beserta kroni-kroninya. Dengan berapi-api dia bersumpah akan terus berjuang menghancurkan kezhaliman tersebut sampai titik darah penghabisan demi kebenaran dan keadilan bagi seluruh warga negara Suriah. Sungguh saya tidak tahu harus bagaimana menyikapinya karena jujur saya sangat anti terhadap kekerasan dan tidak pernah menyetujui adanya konflik peperangan dengan alasan apapun. Tetapi saya orang yang bisa menerima perbedaan pendapat, maupun perbedaan sikap. Jadi ya monggo kerso alias silahkan! Vehbi bebas mengutarakan segala uneg-unegnya tanpa saya interupsi. Paling-paling saya cuma titip sama Vehbi untuk menyampaikan salam dan pesan saya kepada warga Suriah yang dia temui agar mereka tetap tegar, sabar dan tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah walau sesulit apapun keadaannya. Karena Allah tidak menimpakan beban kepada suatu kaum,kecuali hanya sesuai dengan kadar kesanggupan dan kemampuan yang dimiliki oleh kaum tersebut.

Sayang pertemanan saya dengan Vehbi via facebook hanya berlangsung sekitar satu setengah tahun saja karena entah kenapa kemudian akunnya non aktif hingga sekarang. Apapun tentang Vehbi Geraxhliu Muslimman, saya tetap menghormati dan menghargainya.Karena bagaimanapun dia sudah banyak memberikan inspirasi positif buat saya Kiriman foto-fotonya mengenai korban peperangan Suriah memotivasi saya untuk semakin mensyukuri segala nikmat anugerah dari Allah swt. Nikmat bahwa saya berdomisili di Indonesia yang relatif aman dan damai. Saya bisa makan kenyang, tidur nyenyak, bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari dengan senyum ceria, tidak seperti warga Suriah yang terus terganggu rasa was-was akibat desingan peluru dan mesiu tiada henti-hentinya. Kalau dengan santainya saya bertanya,”Nanti masih mau main-main enggak?”, maka dengan deg-degan warga Suriah bertanya,”Nanti masih ada nyawa enggak?”

Baca Juga  MENIKMATI PEMANDANGAN INDAH DI HENDERSON WAVES BRIDGE

Ketika akun facebook Vehbi masih aktif, saya beberapa kali melihat postingannya yang berupa ayat-ayat suci Al Quran beserta terjemahannya dalam bahasa Jerman. Lalu saya segera klik software Al Quran digital untuk melihat terjemahan versi Indonesia terkait ayat yang diposting Vehbi tersebut. Itu artinya secara tidak langsung Vehbi telah memicu saya sehingga lebih bersemangat dalam mempelajari bahasa Jerman sekaligus makna ayat-ayat suci Al Quran. Vehbi juga sudah menyenangkan saya dengan memposting foto para pesepak bola muslim yang bermain di kompetisi liga-liga top Eropa, diantaranya Mesut Ozil, Karim Benzema, Frank Riberry dan Papiss Demba Cisse ketika mereka tengah khusyu berdoa sebelum mulai bertanding, maupun selebrasi sujud syukur sehabis mencetak gol. Tetapi Vehbi punya gaya tersendiri. Dia tidak seperti saya yang sok heboh memberi ulasan ini-itu , seolah-olah saya sudah menjadi pengamat sepak bola kelas hiu. Dia hanya menuliskan caption yang cukup singkat , tetapi maknanya mengena untuk menjelaskan foto tersebut, yakni dengan kalimat,”Allah is my Lord.”

Namun yang paling mengharukan adalah ketika Vehbi memposting foto kenangannya bersama rekan-rekan seperjuangannya yang gugur dalam pertempuran yang baru saja mereka lakoni. Dengan kata-kata yang menggetarkan hati, dia menuliskan semua hal-hal baik tentang rekan-rekannya yang telah tiada itu. Walau kerjaan Vehbi tiap hari dar der dor sana-sini, saya percaya di lubuk hatinya yang terdalam sebenarnya dia memendam kepedihan yang teramat pedih akan kenyataan itu. Tetapi Vehbi sudah memiliki keyakinan yang kokoh bahwa apa yang dia lakukan beserta rekan-rekannya itu adalah jihad di jalan Allah. Maka pilihannya hanya dua. Hidup mulia setelah menghancurkan segala kezhaliman yang ada di depan matanya atau mati syahid menuju surga-Nya. Dia memang brother Muslimman, seorang saudara laki-laki muslim yang baik. Dimana pun Vehbi berada dan bagaimana pun keadaanya sekarang ,saya hanya bisa mendoakannya dari jauh. Semoga Allah senantiasa melindungi, memberikan ridho, pertolongan dan rahmat kasih sayang kepadanya.

Memang sangat miris membaca, mendengarkan atau menyaksikan berita seputar konflik peperangan di Suriah yang tak kunjung usai. Pun demikian dengan konflik peperangan di negara-negara lainnya. Saya jadi tergerak untuk menyampaikan salah satu sajak karya sang legenda sastra Purworejo, Sukoso DM. sebagai penutup tulisan ini. Sajak yang berjudul

“Tentang Senjata Aku Bertanya” :

Berlaras-laras senjata terus dikokang Purba hingga sekarang Aku bertanya, untuk apa?

Kata Paijan untuk benteng keadilan Kata Tugiman untuk payung kebenaran

(tapi toh ada mahasiswa kulit hitam Entah negro entah bukan Terkapar di trotoar jalan?

Benua-benua berbusa mulutnya, berteriak : aku punya kapak! Aku punya tombak! Aku bertanya, untuk apa?

Kata Paijo untuk suatu perubahan Kata Samijo untuk suatu pembaharuan

(tapi toh ada geriap-geriap pengungsian Entah Arab entah bukan Tertelan gelombang kecemasan)

Pendeta-pendeta ke mimbar mengangkat tangan Tapi kapak dan tombak terus diacungkan Berlaras-laras senjata terus dikokang Di laut di gunung di bintang Aku bertanya, untuk apa aku bertanya?

Comments

SHARE
Previous articleLowano: Rebrand & Reconecting itu Bernama Soul of Bagelen
Next articleKopi Ethiopia Untuk Donasi Perpustakaan di Republik Syuruput
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here