Oleh: Paox Iben

REVIENSMEDIA.COM, LOMBOK – Sebelum jatuh ke para pendekar berwatak jahat alias para tuan kolonialis yang memonopoli penanaman dan perdagangan kopi di seluruh dunia.

Awalnya kopi adalah minuman “rahasia”. Ia ada namun tiada. Banyak orang memperbincangkannya, tapi belum pernah melihat wujudnya, apalagi meminumnya. Sebab tanaman kopi benar-benar langka. Ia tumbuh hanya di dataran tinggi Afrika.
Orang harus berjalan melewati padang pasir, menembus semak belukar yang di penuhi binatang buas, menghadapi keganasan singa atau heyna, lalu masuk ke hutan belantara dan mendaki pegunungan terjal untuk memetiknya.

Mungkin karena itu orang-orang di Afrika seperti Suku Galla yang hidup di Afrika Timur sejak 1000 tahun sebelum Masehi memitoskannya sebagai obat segala obat, seperti bunga Wijayakusuma dalam tradisi Hindis atau nusantara.

IMG-20170521-WA0003

Kopi sendiri berkembang ke jazirah Arab di bawa oleh para pengikut Tarekat Syadziliyah. Konon Syeikh Hasan Syadzili (1196-1258) sendiri mendapatkan ilham tentang kopi setelah bermimpi bertemu Rosulullah. Ya, Rosulullah Muhammad SAW sendirilah yang mengajari beliau cara membuat kopi dan menerangkan manfaatnya. Tarekat Syadziliyah berkembang pesat di Afrika Utara, terutama di Tunisia dan Mesir, pada periode Perang Salib yang berjilid-jilid itu karena beliau adalah seorang pejuang yang sangat tangguh.

Baca Juga  SENSASI KUNYAH PERMEN ALA NGINANG

Para jamaah Syadziliyah biasa meminum kopi dengan ritual tertentu sebelum berdzikir untuk menjaga stamina dan mengalami “trance”, mabuk Tuhan.

Oleh para pengikut Syadziliyah, kopi dibawa serta ke Makah dan Madinah sehingga menjadi sangat populer di jazirah Arab dan Persia. Para Sufi biasa meminumnya sambil mendendangkan syair-syair ketuhanan.

Para dokter dan filosof seperti Ibn Sina menyelidikinya dan menjadijannya obat untuk berbagai penyakit. Para tentara dan pejuang menjadikannya minuman penambah semangat ketika berperang. Para seniman dan ilmuwan menjadikannya senjata untuk mengembangkan imajinasi dan mengunduh inspirasi. Semangat kopi telah membangkitkan kebudayaan di jazirah timur tengah.

Baca Juga  KOPI LUWAK DARI DESA ADAT SAGA-ENDE

Tarekat Syadziliyah ini kemudian berkembang hingga ke Yaman, Saudi, Irak, bahkan sampai ke India dan Nusantara. Biji-biji kopipun mereka bawa, sembari berdagang, mereka juga berdakwah.

Mereka masuk ke pelosok-pelosok perkampungan, melewati hutan belantara yang penuh harimau, badak, ular dan sejenisnya untuk menanam kopi di lereng-lereng pegunungan. Seiring dengan menguatnya komoditas kopi sebagai hasil bumi Nusantara.Perlahan namun pasti Islam pun mulai berkembang. Para Raja dan keluarganya tertarik untuk belajar dan memeluk agama Islam.

Banyak kerajaan yang akhirnya menjadi Kesultanan dan menjalin hubungan dagang dengan Kesultanan di jazirah India, Persia, Arab hingga Andalusia.

Comments

SHARE
Previous articleMemahami Abstraksionisme ala Baron Basuning
Next articleGuru Penarik kayu
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here