Oleh: Agung Rakhmat

REVIENSMEDIA.COM, KALIMANTAN BARAT – Ruang kantor hening sejak pagi, susunan buku hanya terdiam. Matahari mulai meninggi, kuhabiskan teh yang sudah dingin sedari tadi. “Bu, kalau begini terus kita bisa pingsan” aku bersandar di sudut kantor sambil memegang spidol hitam mengetuk-ngetuk papan tulis disampingku. “ Bagaimanalah pak, susah, nisi ada yang mau ngajar kitu, pak tau sendirilah ” (Bagaimanalah pak, susah, tidak ada yang mau mengajar disini, bapak tahu sendirilah). Aku memulai menggoreskan spidol hitam yang ku pegang, menemukan masalah, mencari solusinya, berdua hanya dengan ibu kepala madrasah yang baru saja menggantikan peran kepala madrasah yang lama. Ku tarik garis ke lingkaran utama yang bertuliskan “secepatnya temukan guru baru“. Potongan cerita pada masa sulit Maret lalu.

Semua terjadi setelah aku ditempatkan di Hulu Sungai Kapuas selama dua puluh hari. Mula-mula, satu guru mengundurukan diri setekah menikah dan pindah ke desa sebelah. Satu guru masih memilih melanjutkan atau tidak pekerjaan di Madrasah dan yang paling membuat shock, kepala madrasah yang lama tiba-tiba menghilang, setelah pulang kekecamatan, tidak muncul-muncul lagi lebih dari 40 hari kerja. Tinggalah aku berdua dengan seorang guru yang benar-benar ingin sekolah bukan hanya berada tapi berkualitas. Secara tidak langsung, Ibu En, biasa aku memanggilnya harus mengemban amanah sebagai kepala madrasah. Kurang lebih tiga minggu, kami berdua bergantian mengajar dua puluh empat anak yang berada di kelas jauh. Terkadang Ibu En jatuh sakit, otomatis aku menjadi guru terbang, bolak-balik ke kelas VII dan kelas VIII. Akses yang sulit dengan biaya transportasi yang mahal ditambah fasilias seperti lsitrik yang hanya hidup mulai dari jam enam sore sampai jam sepuluh malam membuat banyak tenaga pengajar yang mengundurkan diri apalagi mencalonkan diri. Tak henti kami berdoa untuk masa depan generasi pantang menyerah di desa tertinggal ini.

Baca Juga  Suraunya Pak Mudin

Allah akan mengabulkan doa hambanya dengan tiga cara, yang pertama, Allah kabulkan langsung. Yang kedua, Allah kabulkan mungkin tidak seperti yang kita inginkan, namun Allah berikan yang lebih baik dan yang ketiga, kalau tidak dikabulkan di dunia, dikabulkan di akhirat kelak. Sungguh Allah langsung menjawab, Akhir April, sepulang mengurus guru yang mengikuti konferensi kepala sekolah dan akhirnya memtuskan untuk bertahan di Madrasah, ruang kantor terdengar riuh dari luar. “ Pak, alhamdulillah, doa kita terkabul “ Bu En tersenyum. Tiga orang guru baru sekaligus masuk, dua guru laki-laki dan satu guru perempuan. Aku senang bukan main, secara tidak langsung beban kerja kami berkurang dengan kehadiran tiga guru baru namun masalahnya apakah ketiga guru baru ini akan bertahan dengan gaji yang sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tidak lama setelah perkenalan, kepala madrasah menekankan kembali komitmen dan konsekuensi gaji yang diterima, alhamdulillah, ketiga guru ini menyanggupinya walau hanya mendapat seratus ribu perbulan.

Salah satu guru itu bernama Pak Edi, seorang bapak dengan satu anak yang masih kecil. Berangkat meninggalkan kecamatan, turun tangan mengabdi mengajar di desa yang tertinggal ini mengajak keluarga kecilnya. Sosoknya pendiam dan lebih banyak memperhatikan. Motivasi tingginya mengajar anak-anak sangat tinggi walau terkadang ia mengeluh dengan kondisi anak-anak yang memang tidak sesuai umur namun masih berada di tingkat madrasah tsanawiyah. Tak henti ia setiap hari menyelipakn motivasi ke anak-anak untuk terus belajar, berjuang walaupun berada di desa dengan akses dan fasilitas terbatas. Sepulang mengajar, Pak Edi tidak langsung beristirahat, ia mengganti pakaian dinas gurunya dengan pakaian dinas pekerjaan lainnya, menjadi seorang penarik kayu setiap pulang sekolah guna memenuhi nafkah keluarga kecilnya.

Baca Juga  Penemu Metode Hitung Metris & Suku Bunga Perbankan dari Purworejo

Suhu di Kalimantan yang siang hari bisa mencapai 40 derajat seakan tidak jadi masalah, derungan motornya terus bolak-balik menarik kayu hasil tebangan di kebun warga. Dari jendela kamar, terkadang aku melihatnya duduk bersandar dengan penuh keringat, duduk bercerita dengan anak laki-laki kecilnya, memandangnya penuh harap untuk masa depannya. Satu hari Pak Edi pernah berkata, “ Jangan pernah berhenti memberi motivasi anak kita dalam belajar, kita tidak pernah tahu masa depannya kelak, siapa tahu anak kitalah yang bisa memperjuangkan desa ini “. Betapa masih banyak orang baik yang mengabdikan dirinya untuk kebaikan dan bermanfaat bagi orang lain. Pekerjaan yang kita pilih sebenranya modal kita diakhirat, maka pilihlah pekerjaan yang dapat terus memberi manfaat bagi orang lain, Allah yang menjamin rezeki hambanya. Seperti cerita Pak Edi, seorang guru yang harus berjuang setiap hari dan mungkin banyak guru-guru yang lain seperti Pak Edi. Mungkin kita bukanlah syuhada yang bisa langsung melindungi Rasulullah di perang Uhud sampai meninggal syahid, tapi yakinlah, ketika kita memilih sebuah pilihan untuk memperjuangkan kehidupan orang lain dan berjalan pada jalan menuju Allah SWT, sungguh pertolongan Allah sangatlah dekat. Sselayak kayu yang ditarik Pak Edi dan membuat jejak di setiap jalan yang dilaluinya, teruslah bermanfaat walaupun jejak itu akan hilang di dunia, ingatlah jejak itu tertulis indah di akhirat.

Comments

SHARE
Previous articleKopi dan Jaringan Islam di Nusantara
Next articleLapak Buku Gratis Di Pontianak
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here