PESONA NASYID MELAYU DAFA

0
612

Oleh: Sri Widowati Retno Pratiwi

“Selamat milad Adinda…. bersyukur atas nikmat usia
Selamat milad Adinda…. semoga tetap lurus di jalan-Nya”

 

REVIENSMEDIA.COM – Bayangkan wahai para wanita…! Ketika kita tengah galau tingkat dewa karena tak seorangpun ingat untuk merayakan hari kelahiran kita, lalu tiba-tiba muncul rombongan pria —pria cakep nan sholeh menyenandungkan syair tersebut di atas. Tentulah hati otomatis berflower-berflower ria or berbunga-bunga jadinya. Tak perduli bunga dahlia atau bunga kamboja, pokoknya membuncah bahagia. Lantas kaum hawa segera berkerumun dan meminta, ”More again…more again!” Ikhwan-ikhwan itu pun semangat 45 mengumandangkan ayat-ayat cinta milik penyanyi Rossa, namun dengan lirik berbeda.

Maafkan bila ku mempesona…..meluluhkan hati para akhwat semua Daripada ku terjerat zina…..mending aku nikah saja Maafkan bila ku mempesona…..melukai hati akhwat semua Daripada selingkuh pun dosa…..mending poligami saja

Sontak mayoritas anggota kerumunan baper itu langsung balik kanan, bubar jalan. Tinggal tersisa segelintir yang tetap bertahan, yakni mahluk-mahluk manis lagi setia berstempel limited edition alias manusia langka. Huuhahaha. Gerangan apakah? Entahlah. Sudah menjadi tradisi di kalangan wanita untuk buru-buru melarikan diri ketika disebut-sebut kata poligami, seolah-olah Mak Lampir dan Grandong telah mendekat. Padahal menurut Legenda Gunung Merapi, Mak Lampir dan Grandong sebenarnya bisa ditaklukkan memakai Cemeti Amal Rosuli kepunyaan Mahesa. Golongan SuFi (Suka Film), seperti saya saja menyadari bahwa poligami bukan untuk dijauhi, melainkan untuk dimengerti sebagai alternatif pernikahan yang boleh secara syari. Apalagi mereka-mereka yang real santri yang tentu lebih memahami bagaimana sesungguhnya seluk-beluk poligami dan cara bijak menyikapinya. Supaya tidak timbul syak wasangka berujung pada ujaran kebencian pemecah persatuan dan kesatuan bangsa, silahkan konfirmasi sama guru ngaji masing-masing atau ulama-ulama yang berkompeten menjelaskan topik sensitif tersebut! Nah biar tidak keburu stress dalam mempelajari dalil-dalilnya, maka perlu pula mengingat pepatah dari status seorang ustad gaul asal Lombok Timur berinisial LSB yang berbunyi: ”Sepandai-pandainya menyimpan isteri muda, akhirnya tua juga.” Wkwkwkwkwk.

Terlepas dari soal lirik poligami, grup nasyid keren ini adalah favorit saya semasa merantau di kawasan industri Batam pada 2004-2006 silam. Namanya Dafa Voice. Saya selaku fans cukup beruntung dapat menjalin komunikasi dengan salah satu personilnya, yaitu Rahmat Taryana yang merupakan vokalis utama sekaligus pencipta lagu-lagu Dafa. Ketika itu Dafa sudah menjadi grup nasyid nomor satu sekota Batam dengan berjibun-jibun fans. Tak lain karena Dafa Voice sering tampil membuka konser nasyider-nasyider ternama dari luar kota, bahkan negeri tetangga, seperti Justice Voice, Snada, Aa Gym, Opick, The Brothers (Malaysia) dan lain sebagainya.

Sebelum cerita lebih jauh mengenai Dafa Voice, saya perlu jelaskan dulu tentang kondisi kehidupan sehari-hari di kawasan industri Batam yang termasuk dalam lingkup wilayah provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Bagi saya, kehidupan di kota Batam ibarat dua sisi keping mata uang yang saling bertolak belakang . Di satu sisi menawarkan banyak harapan akan masa depan cerah. Namun di sisi lain menawarkan berjuta godaan kenikmatan dunia yang melenakan dan menjerumuskan ke jurang kehancuran. Pilihan ada tangan pribadi masing-masing orang. Kalau ingin jadi sosok baik dan berpengetahuan, maka Batam menyediakan banyak fasilitas untuk itu secara komplit dengan mutu tinggi. Sebaliknya, jika ingin jadi pecundang buruk dan jahiliyah, maka Batam pun menyediakan lebih banyak lagi fasilitas kemaksiatan dengan daya rusak yang super dahsyat. Alhamdulillah Allah begitu mengasihi saya. Hanya karena bimbingan-Nya, selama di Batam saya mantap memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang bermuatan positif dan mengabaikan segala fasilitas yang memberi dampak negatif.

Aktivitas sehari-hari saya di Batam adalah bekerja pada perusahaan produsen speaker, PT. Foster yang berlokasi di Batamindo Industrial Park (BIP) Mukakuning, kecamatan Sei Beduk. Selain itu, saya aktif mengikuti program-program kegiatan keagamaan di masjid Nurul Islam yang letaknya tak jauh dari lokasi PT.Foster, di samping tentu berpartisipasi di majelis taklim mushola milik PT.Foster sendiri. Masjid Nurul Islam merupakan masjid yang pertama ada di Mukakuning. Meski dari segi arsitektur bangunan tergolong biasa-biasa saja, namun dari segi manajemen dan program kegiatan, masjid Nurul Islam tergolong maju lagi modern. Oleh sebab itu, banyak perantau muslim yang tertarik dan menyempatkan waktu untuk berkegiatan di masjid ini seusai bekerja. saya pun sering mendengar obrolan rekan-rekan dari berbagai perusahaan yang menegaskan jika mereka lebih antusias mengikuti kegiatan keislaman di masjid Nurul Islam ketimbang di masjid-masjid lainnya. Intinya masjid Nurul Islam itu adalah pusat peradaban Islam paling populer di kawasan industri Batam.

Baca Juga  Cukup Bandara Sepinggan Saja

Sungguh saya bersyukur pernah menjadi bagian dari keluarga besar jamaah masjid Nurul Islam Mukakuning, Batam. Karena di masjid yang terkenal dengan sebutan masjid Nuris ini, saya mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman berharga. Salah satu hal dari sekian hal menarik dalam kegiatan di masjid Nuris adalah kajian keagamaan yang pembahasan materi-materinya disajikan secara komprehensif (menyeluruh). Misal, pernah ada kajian mengenai bahaya minuman keras dan narkoba serta cara penanggulangannya. Pembicara dalam kajian tersebut tidak cuma kyai atau ustad saja, tetapi juga hadir pembicara-pembicara dari kalangan kedokteran, psikologi dan kepolisian. Mereka semua mendapat jatah merata untuk menyampaikan pembahasan satu topik kajian itu berdasarkan sudut pandang keilmuan dan keahlian mereka masing-masing. Metode semacam ini membuat para jamaah peserta kajian memperoleh gambaran lengkap dan pemahaman yang utuh atas topik permasalahan yang tengah dikaji tersebut. Tak cuma melulu kajian keagamaan doang. Masjid Nuris pun sering menjadi tempat penyelenggaraan beraneka macam program pelatihan ketrampilan. Contohnya pada Mei 2005 yang mana ketika itu digelar program Basic Writer Training (BATRE) dengan menghadirkan para mentor dari Harian Pos Metro Batam dan Forum Lingkar Pena(FLP) Batam. Program itulah yang memotivasi saya untuk terjun ke dunia jurnalistik dan kepenulisan setelah pulang kembali ke kampung halaman.

Di masjid Nuris pula saya mengenal sosok-sosok inspiratif yang konsisten berjuang menegakkan syiar Islam dengan segala potensi sumber daya yang dimilikinya. Termasuk mereka-mereka yang berdakwah melalui jalur seni budaya, seperti Rahmat Taryana dkk. di Dafa Voice. Nah mengenai keberadaan Dafa Voice itu bermula dari Tim Nasyid AIT yang terbentuk pada tahun 2003 atau setahun lebih awal dari kedatangan saya ke Batam. Terbentuk atas desakan pengurus majelis taklim PT. AIT (UNISEM) yang menghendaki adanya satu kesatuan grup nasyid sebagai wakil tetap dari majelis taklim PT tersebut untuk berlaga di ajang lomba nasyid bertajuk PERMATA yang diselenggarakan oleh Remaja Masjid Nurul Islam (RMNI), Mukakuning. Pada lomba-lomba sebelumnya majelis taklim AIT diwakili secara bergiliran oleh 4 tim nasyid yang dimilikinya, yaitu The Bonders, Insani, Ikhwan Voice dan Lisanada. Melalui musyawarah mufakat akhirnya diputuskan bahwa formasi Tim Nasyid AIT terdiri dari 6 orang personil, yaitu Ika Novi Setiawan dan Eep ( Insani ), Rahmat Taryana dan Dicky (The Bonders), serta Angga dan Nurdin ( Ikhwan voice ). Tanpa dinyana tim nasyid baru dengan muka-muka lama yang mengusung genre musik accapela ini berhasil menjuarai PERMATA 2003.

Selanjutnya Tim Nasyid AIT mengikuti seminar yang mendatangkan mentor dari Snada, grup nasyid terkemuka asal ibukota Jakarta. Pada kesempatan tersebut, bang Aal, salah seorang personil Snada berinisiatif memberinya nama Dafa. Nama Dafa sendiri memiliki arti “Kebanggaan” dan juga merupakan singkatan dari “Dakwah Fastabiqul Khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan)”. Nama Dafa Voice kemudian diresmikan pada 1 Januari 2004 dengan personil yang agak berbeda dari personil Tim Nasyid AIT, yaitu Ika Novi Setiawan ,  Rahmat Taryana, Nurdin, Angga, Ricky Ramdani Akbar dan Hadi Baihaqi. Dari waktu ke waktu grup nasyid ini semakin berprestasi dan diapresiasi oleh khalayak luas. Tahun 2008 Dafa kembali memenangi ajang festival nasyid sekota Batam yang berlangsung di Mega Mall Batam Center. Bahkan di tahun yang sama, Dafa Voice mendapat kepercayaan untuk tampil menghibur para TKW di aula masjid Mujahidin negeri tetangga , Singapura.

Sang vokalis utama, Rahmat Taryana mengungkapkan,” Sejujurnya kami belum pernah ikut les vocal secara khusus. Cuma kami mendapatkan input ilmu dari berbagai media yang ada. Misalnya,  ada  grup nasyid dari luar kota yang datang ke Batam, ya kami uber buat  sharing ilmu. Kami pernah semalaman di hotel bareng Justice Voice supaya bisa tahu teknik accapella yang benar. Kami juga sering dengerin musik semacam musiknya Boys 2 Men. Yang terpenting bagaimana membedakan suara-suara  yang ada terdengar, terus dipelajari oleh personil sesuai bagiannya masing-masing, kumpul semua dan praktek bersama.” Apapun, yang jelas keputusan Dafa untuk memainkan genre music accapella adalah langkah tepat. Di kalangan nasyider, genre musik tersebut memang cukup ngetrend. Demikian pula halnya dengan keputusan menjadikan Justice Voice sebagai referensi bermusiknya . Kebanyakan pekerja rantau penikmat nasyid di Batam berasal dari Jawa yang notabene sudah akrab sama lagu-lagunya Justice Voice yang asli Yogya itu. Alhasil mereka begitu mudah menerima Dafa Voice sebagai idola di perantauan yang selalu menyanyikan satu-dua lagu, baik lagu lama maupun lagu baru kepunyaan Justice Voice setiap kali manggung. Tak pelak label “Justice Voicenya Batam” disematkan para fans kepada Dafa Voice.

Baca Juga  Mitos atau Fakta : "Kémponan" dalam masyarakat Melayu

Meski demikian, Dafa Voice tidak melupakan budaya di tempatnya berpijak. Nasyid —nasyid kreasi Dafa begitu kental nuansa irama Melayu, irama musik khas kawasan Batam dan sekitarnya, seperti nampak pada lagu andalan di album perdana yang berjudul “Milad Adinda”. Selain menggarap nasyid bercengkok Melayu, Dafa juga sering mengubah lirik lagu-lagu yang lagi hits di tengah masyarakat menjadi lirik-lirik yang mengandung nasihat dan ajakan untuk berbuat kebaikan. Menyaksikan konser Dafa Voice itu tidak akan rugi karena kita bisa menikmati sajian lagu-lagu Sheila on 7, Peter Pan, Jamrud , Rossa dan lain-lain dalam balutan sensasi rasa Islami. “Nasyid bagi kami adalah pembelajaran hati. Seperti sabda Rasul : Sampaikanlah walau satu ayat.Ini sarana kami untuk berdakwah, memberikan nasehat-nasehat, hikmah tentang Islam kepada masyarakat yang juga sebenarnya kembali pada diri kami sendiri sebagai pengajaknya atau pelantun nasyid agar dapat berbuat lebih bagi Islam dan hidup sesuai tuntunan Islam”, ujar Rahmat dengan penuh kearifan.

Boleh-boleh saja jika orang yang masih meragukan efektivitas dakwah melalui nasyid atau lagu-lagu religi Islami. Tetapi sesungguhnya telah ada bukti kongkret yang menunjukkan betapa nasyid mampu mengubah jalan hidup seseorang dan menjadi salah satu perantara bagi terbukanya pintu hidayah. Selama di Batam saya beberapa kali mendengar, maupun menyaksikan secara langsung orang-orang yang memutuskan untuk memeluk agama Islam dengan bermacam-macam alasan dan lika-liku kisahnya. Yang paling unik dari sekian kisah muallaf itu menurut saya adalah cerita masuk Islamnya penyiar radio bernama Daniel. Dalam kesaksiannya, si Daniel mengaku bahwa dirinya merasa surprise karena sebagai seorang non muslim bisa diterima kerja pada radio Hang Fm, sebuah radio Islami ternama di kota Batam. Daniel kagum atas sikap pihak manajemen Hang Fm yang obyektif memberikan penilaian terhadap kemampuan dan keahlian yang dimilikinya. Nah di radio dakwah ini, Daniel kebagian tugas menjadi host program siaran yang khusus memutarkan nasyid sesuai request dari para pendengar Hang Fm. Karena tiap hari bekerja memutarkan lagu-lagu Islami itulah kemudian Daniel jadi sering merenungkan makna syair-syair lagu yang dia putar tersebut yang ternyata membekaskan kesan mendalam di hatinya. Akhirnya Allah berkenan menganugerahi Daniel petunjuk, sehingga mantap memeluk Islam. Subhanallah! Begitulah. Jika Allah telah berkehendak, maka tidak ada sesuatu yang tidak mungkin.

Kembali pada cerita soal Dafa Voice. Memang sebagaimana grup musik lainnya, Dafa pun tak luput dari permasalahan klasik, yakni bongkar pasang personil karena berbagai alasan. Semisal Angga yang mengundurkan diri dan pindah ke Bandung demi melanjutkan studinya. Disusul Hadi Baihaqi yang memperoleh tawaran kerja di Jawa. Kondisi ini tentu mengusik soliditas dan performa musik Dafa, walau bisa dimaklumi mengingat semua personelnya adalah pekerja rantau dari daerah asal yang berbeda-beda dan memiliki dinamika kehidupan masing-masing. Sudah menjadi tanggung jawab pihak manajemen serta majelis taklim perusahaan yang menaunginya untuk mengupayakan regenerasi grup nasyid ini di masa-masa mendatang. Tak lain agar Dafa Voice bisa terus eksis memberikan hiburan sekaligus pencerahan spiritual bagi warga Batam khususnya dan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya. Semoga !

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaNASI GORENG YANG TAK DIRINDUKAN
Berita berikutnyaBertemu Jodoh
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here