Bertemu Jodoh

0
179
Illustrasi: kompasiana

Karya: Dian Al Qomariyah

Aku menyeka peluh yang menetes di dahi, membenarkan kacamata yang turun ke bawah. Maklum, hidung aku pesek. Menatap atas lift yang tak kunjung turun, sialnya lift ternyata rusak.

Aku melihat ke arah jam tangan yang selalu ku kenakan, tepat jam sepuluh. Mau tidak mau aku harus turun menuruni tangga. Aku berlari secepat mungkin, menelan ludah agar tenggorokan tak jadi kering.

“Telat sepuluh menit,” ucap mbak Shinta datar.

“Lift rusak,” ucapku membela.

“Tidak ada alasan, telat tetap telat.”

“Nggak kasihan sama aku apa mbak? Sampai berkeringat gini, mana sekarang puasa lagi.”

“Puasa bukan sebuah alasan Dian!”

Aku mendengus kesal, tak menjawab. Mbak Shinta mengeluarkan lembaran uang biru enam, melangkah masuk ke bus nomor 303 arah ke dermaga Ferry. Aku melangkah mengikuti dari belakang.

“Mau aku kenalin anak IPNU, IMM, atau Syekher Mania?” Tanyaku mencairkan suasana.

Mbak Shinta hanya menyengir lalu membuka smartphonenya.

“Jodohmu mbak,” bisikku. Sontak membuat mbak Shinta berpaling mencari sosok lelaki.

“Itu, belakangmu.”

Mbak Shinta menoleh kebelakang lalu kami tertawa bersama. Lelaki dibelakang mbak Shinta kurus, hitam, dan rambut gondrong.

“Ih dosa tau Yan!” Ucapnya sedikit menahan tawa.

“Ya habis mbak cemberut terus.”

***

Perjalanan ke dermaga Ferry memerlukan waktu 15 menit, dan akhirnya kami sampai. Lelaki itu ternyata berbelok arah, menuju toko swalayan.

“Bukan jodoh,” bisikku ke mbak Shinta. Dia hanya tersenyum sambil fokus kelayar smartphonenya.

Aku melangkah agak cepat disusul penumpang lainnya yang ingin menyeberang. Tapi tetap saja langkahku tertinggal jauh, mengingat energiku sudah habis saat turun lift tadi. Aku kembali menelan ludah agar tenggorokan tak jadi kering.

Baca Juga  Tikus Tak Tau Endingnya

Ferry menepi, membuat penumpang yang sudah antri masuk kedalam Ferry. Teratur dan tidak desak-desakan meski banyak juga yang mengantri. Aku dan mbak Shinta mengambil tempat paling ujung. Menikmati setiap hembusan angin laut dan panorama yang begitu mengagumkan.

“Mbak, lihat deh. Itu kenapa lautnya ada yang warna biru dan warna putih.”

“Mungkin itu ada ikannya Yan.”

“Bukanlah mbak.”

“Terus apa?” Lantas aku menunjuk kearah langit,

“Awan jawabannya mbak, yang warna putih itu karna laut tidak tertutupi awan.”

“Ah, jones memang selalu pintar.” Aku hanya tertawa mendengar ucapan mbak Shinta.

***

Butuh waktu sepuluh menit Ferry berlabuh ke seberang pulau. Mbak Shinta segera menarik tanganku, melewati penumpang lainnya. Berlari menuruni anak tangga menuju halte bus, butuh waktu limabelas menit kami menuruni anak tangga. Lagi-lagi aku menelan ludah agar tenggorokan tak jadi kering.

Mbak Shinta sibuk dengan smartphoneya. Lantas menelpon seseorang, kami tak menunggu lama. Kak Rossie datang memeluk kami.

Hari ini adalah hari spesialnya, karna ada sesi akad nikah. Kak Rossie sendiri yang menjemput kami, karna dia adalah sahabat karib mbak Shinta dari kecil.

Kami melanjutkan perjalanan dengan mobil kak Rossie.

“Kak Rossie, pelan dikit dong. Dian takut,” ucapku.

“Kakak takut telat sayang, lagian Shinta juga diam saja tuh.”

“Mbak Shinta diam karna pengen muntah.”

Muka mbak Shinta terlihat pucat, memegang erat sabuk pengaman.

Satu menit, dua menit, tiga menit berlalu. Kejadiannya sangat cepat. Mobil kami menabrak tiang pembatas jalan.

Aku membuka mata, mencoba berdiri. Mbak Shinta mengaduh sakit, jidatnya lebam. Sedangkan kak Rossie, aku tidak bisa mendeskripsikan secara detail, yang pasti kepala kak Rossie berlumur darah.

Baca Juga  Bisik Kecil Aida

Suasana menjadi ramai, banyak warga yang menolong. Salah seorang bapak paruh baya sibuk menelepon ambulan. Kejadiannya begitu cepat, nyaris aku tak menyadarinya.

***

Ruang tunggu begitu menegangkan. Aku dan mbak Shinta yang kepalanya terperban menunduk lesu di kursi belakang. Ayah dan ibu kak Rossie berdiri penuh ketakutan. Sedangkan mas Tegar, calon suami kak Rossie menunggu tepat di pintu ruang UGD.

Dokter keluar sambil menunduk, menggelengkan kepala lalu menepuk bahu mas Tegar. Melihat itu ibu kak Rossie memeluk erat suaminya. Mas Tegar hanya tertunduk. Sedangkan dan mbak Shinta saling menatap tak percaya.

Mbak Shinta langsung berlari ingin sujud di kaki ibu kak Rossie. Tapi langsung dicegahnya.

“Bukan salahmu nak,” ucap ibu memeluk erat mbak Shinta.

“Kalau bukan karena ingin menjemputku, kejadiannya tidak akan seperti ini buk,” mbak Shinta menangis terisak.

Mas Tegar melangkah lesu menghampiriku.

“Kau tau Dian? Jodoh itu bukan hanya soal ijab qobul. Tapi jodoh bisa juga bernama kematian,” ucapannya lantas meninggalkanku.

“Mas Tegar mau kemana?” Teriakku.

“Masjid.”

Aku begitu melihat ketegaran di mata mereka. Ibu yang tidak menyalahkan mbak Shinta, mas Tegar yang percaya akan takdir. Dan ayah yang selalu ada buat ibu.

***

Aku dan mbak Shinta melangkah lesu menaiki kapal Ferry. Kami sempat menoleh kebelakang melambaikan tangan ke arah ibu dan ayah. Cuaca kali ini mendung. Gerimis mengiringi perjalanan pulang kami setelah dua hari menginap dirumah almarhum kaka Rossie.

Tanganku mengadah menampung air yang turun, ternyata jodoh itu bukan sekedar aku suka kamu lalu ijab qobul. Tapi ada juga jodoh yang lain, jodoh yang tak bisa kita hindari. Jodoh yang bernama kematian.

Comments

SHARE
Previous articlePESONA NASYID MELAYU DAFA
Next articleBongkar Muat Kenangan di Pelabuhan Sheng Hie
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here