Angan Kelana

0
229

30 Desember 2016

Karya : Soe

Bahkan ketika kau berkumpul jangan berbicara soal agama karena keragamanan itu sudah dari dulu ada yang mengadakan pula Tuhan. Bukankah itu takdir garis lurus sebuah zaman. Melestarikan perbedaan dengan cinta mencintai.

Berdiam diri dalam keangan-anganlah itu kau muncul.

“Dan…,” dipaksa diam sebelum meneruskannya.

“Janganlah agama jadi alat menghakimi manusia lain. Adanya agama itu untuk kedamaian penuh bagi manusia yang ada maka jaga hatiku di hatimu supaya kita sama tahu bahwa cinta saling menjaga. Agama tidak jadi alasan sebuah perbedaan. Perbedaan bukan jadi hambatan untuk saling mencintai,” terang lelaki tua. “Bahwa kitab suci berbeda biarkanlah begitu. Menjadi manusia bila bisa mendamaikan dirinya sendiri,” terusnya.

Bagaimana melihat perbedaan dengan memandang manusia tercipta untuk cinta mencintai. Tentu tidak menjadikan alasan untuk saling membenci satu sama lain.

“Bila agamamu sudah dihina maka hukumnya wajib pedanglah berbicara bukan sekadar penjara. Namun bila dirimu yang dihina maka memaafkan jauh lebih lazim daripada membencinya sepenuhnya akan tetapi tidak melupakan kesalahannya dan bisa menasehatinya. Itulah memanusiakan manusia. Ini soal keyakinan diri yang tidak boleh diinjak-injak sembarangan saja,”

“Sesekali saja Tuhan yang mengoperasi zebra tahun ini ada polisi wanita dari tahun ke tahun waktu terus berlalu kok polisi pria garang terus,” doa Saidu khusyuk di pojok mushola depan rumah sang mertua.

Keluar dari mushola tampak mertua duduk di depan rumah.

“Bukankah mertuaku galak juga ya. Kalau anaknya (istriku) tak kukasih makanan tiap pagi berupa makan-makanan sehat,” batinku saat melihat mertua duduk ngopi di depan rumah. “Pasti baca media soal itu deh, apa ya ndak bosen bapak ini baca itu-itu saja?”

“Seorang menantu dibunuh mertua karena mengatur-ngatur hidup mertua,” pak Haud membacakan judul di korannya yang sebenarnya tak ada.

“Wah mulai ngeri ni,” batinku lalu pamitan kerja.

“Pak pamit kerja ya….”

“Ya hati-hati di jalan,”

“Eh mas ini santapan siang kelupaan,” suara dari dalam rumah seorang perempuan muda yang baru ku nikahi beberapa minggu yang lalu ia adalah Lasmini Guairoh. Temanku dulu.

“Iya sini masukkan ke tas sini,” kataku memandangi mesra tak lupa dicium tanganku olehnya. Lalu aku melangkah menghilangkan jejak kaki menuju ladang rezeki. Di pasar pagi tengah kota yang jarak lumayan jauh.

Mengendarai motor diterik matahari yang sudah panas. Padahal masih jam berangkat anak-anak sekolah. Entah waktu setahun saja seolah baru sebulan sudah berganti tahun saja. Dunia mulai panas. Cuaca sudah tak menentu kadang hujan kadang pula juga panasnya membakar. Melewati jalanan aspal tengah sawah melihat hamparan hijau yang belum lam adalah musim tanam. Terlihat anak-anak seusia 10 tahunan membawa ember. Kelihatannya sedang mencari keong untuk pakan ternak bebek. Memang musimnya.

Jalanan kota tak pernah sepi roda-roda kendaraan beradu kecepatan. Saling mendahului bahkan ada yang ceroboh. Belok tanpa beri tanda. Kecerobohan ini awal dari ketidaktaatan kepada hukum yang ada. Negeri sudah diambang-ombingkan oleh hal-hal semacam ini.

“Udah jadi tersangka saja masih bisa bangga bilang sebab tersangka korupsi,” kata kawanku tetangga kios tempat jualan. Ia membaca koran ternama pada halaman utamanya. Terpampang foto seorang pejabat memakai kaos khusus tersangka korupsi KPK.

Hari-hari kok isi dialognya hanya begitu saja. Tidak di rumah mertua ngobrolin pembelaannya. Di tempat kerja atau jalanan pun obrolannya sama gitu pula ada yang dukung mati-matian ada pula kontra super mati.

Baca Juga  Serigala dari Gaza

“Kau pihak mana dukung atau kontra?”

“Aku pihak mana? Kau masih tanya? Ah kamu ya di hatiku Cuma ada seorang wanita istriku tercintalah,”

“Hahahaha…..”

“Masalah ini disudahi ia jadi tersangka. Menurutku ya. Entah kenapa semua yang anti ia akan puas bila ia di penjara saja seperti kasus yang lain. Apa bedanya? Katanya hukum itu semua sama,”

“Bagaimana kalau tak segera di penjara?”

“Bisa jadi gelombang lautan manusia akan kembali dan menjadi tsunami politik bagi penguasa berdampak buruk juga untuk dunia ekonomi dll,”

“Urusan merekalah aku saja pusing pembeli buku makin hari makin sepi pula ini,”

“Berdoa saja kau moga makin laris daganganmu,”

“Ya”

Matahari bergerak sembunyi. Awan menutupinya mendung namanya. Aku hanya duduk membayangimu bersama bapakmu. Kalau tak bawa hasil hari ini akan diceramahinya habis-habisan ini.

Waktu tempo lalu terlebih ingatnya ngilu dengarin curhatan. Waktu itu masih dalam kesendirian mencari jati diri. Memory masa lalu mengantarkanku kembali dalam sebuah dialog ingatan itu. Hanya menjadi lamunan lama seiring menunggu pembeli datang. Sudah ditidurin motornya yang lagi proses kreditan dipinjam pacar eh nabrak pohon pinggir jalan. Motor rusak hati ancur perawan ilang trauma terus-terusan.

“Aku dah pernah making love lho sama pacarku ini,” begitu terang kawanku saat hujan serta mati lampu jadi saksi bisu.

“Apa itu?” kataku setengah keheranan polos barangkali ia hanya bercanda.

“Iya gituanlah di kos,” ujarnya lirih “Aku kesal sekali sama dia sudah hancur hidup aku. Mana orang tua tak mau bertanggungjawab sekadar soal motor yang dipakai anaknya ini tak lain adalah tunangannya,” wajahnya merah marah sambil menunjukkan cincin yang masih terpasang di jemarinya.

Hujan menjadi gerimis dan aku pulang dengan kepala pening pusing kehujanan. Malam terbentang gelap. Bulan dan bintang tak lagi muncul. Hujan mulai deras mengguyur kepedihan hati seorang manusia. Seorang berrok mini menghisap sebatang rokok menawarkan jasa nikmat sesaat. Sengaja mendatangi dan bertanya dengan rasa keingintahuanku. Lepas itu baru tahu kalau namanya adalah Jeje Jamilah Anugerah seorang PSK jalanan dekat kantor pemerintahan. Ia mangkal tiap malamnya di daerah kota pusatnya para pelancong. Mobil mewah yang pelan jalannya menjadi sasarannya. Menggoda dengan lekuk tubuhnya yang seksi serba mini.

“Sama sekali tak menikmati malam ini. Terkadang jijik dengan diri sendiri. Merasa salah sampai resah harus mendesah untuk sebuah rupiah,” kata Jamilah.

Ucapan ini keluar dari mulut kejujurannya yang terdalam. Ia hanya korban dari kehidupan yang memperkosanya. Tanpa ada lagi peduli padanya. Tersingkirkan oleh lingkungannya. Dianggap sampah yang tak berguna lagi. Waktu itulah ia mencari dunianya sendiri sebagai wanita malam.

“Diperkosa oleh pacarku sendiri pas SMA. Rasanya frustasi merasa kotor lalu terjun ke lembah hitam ini,” ujarnya. “Malam-malam selalu begini. Melayani para lelaki yang haus nafsu. Setor kepada mami dan sisa adalah gajiku,” keluhnya.

Hujan makin membasahi bumi. Ceritanya makin menyedihkan sentuh terdalam hati. Bagaimana bisa pelanggannya adalah yang mengakui wakil rakyat? Atau para tamunya dari luar kota? Atau menjadikannya selingkuhannya?

Ada pula cerita lainnya ketika perempuan kejam karena laki kejam kepadanya. Begitu suami yang galak akan meninggalkan kegalakan pada anak dan istrinya seumur-umurnya. Galak tanpa aturan itu bajingan. Galak tanpa alasan itu brengsek.

Baca Juga  Dialogis Sendu

“Kamu tiap mau apa-apa pasti ujungnya ribut melulu” kata suami pada istri wajah memerah rasa marah membuat suasana ricuh. Istri yang selalu terpojokkan tak mau kalah bersuara mengeluarkan pendapatnya.

“Kamu saja yang lalu-lalu selalu diungkit-ungkit. Selalu menyamakan aku sama tetangga itu ini,” jawab istri dengan suara meninggi sekali.

“Plakkkkkkkk……” suara tamparan tangan suami ke istri sampai merah.

Terdengar suara tangisan kecil. Terdiam bisu. Mereka saling memunggungkan badannya.

“Pasti rumah sebelah lagi pada ribut mereka.” gumamku.

“Apakah kita akan berpisah?” ujarmu menatap tajam mataku dalam-dalam.

“Kau tak mau menungguku?” tanyaku pelan diantara isakmu.

“Aku tak bisa jauh darimu,” sembari menggenggam erat jemariku.

“Sangat mencintaimu, setiap saat berbayang dirimu selalu ada di pikiranku” kata Rian menatap dalam matanya

“Aku juga cinta kamu tapi…” ujar Yuni

“Tapi apa? Agamakah?” Tanya balik Rian mendesaknya

“Iya itu….” Jawab Yuni sambil meneteskan air matanya

Aku hanya terdiam. Pandangan bola mata mendadak berubah tegang. Rasanya kasihan tapi marahku tak terbendung lagi. Menatap tajam mencari kebenaran lewat sinar matamu yang makin basah. Aku lesuh rasanya mendengarkan cerita panjangmu. Begitu pilu jalanmu. Nada bicaramu naik turun pertanda dendammu masih berkobar-kobar.

Jemari cincin tunangan itu kau pamerkan kepadaku. Tanda bahwa masih ada rasa suka cinta padanya. Ia lalu diam berbalas saling diam.

Hujan yang deras dipinggir kios yang sepi. Hanya lampu seadanya menyala. Sebab listrik sedang tiada. Setelah nyala aku pergi dengan tanda tanya baru. Kenapa itu bisa terjadi. Memang kami tak begitu dekat. Aku masih terus gelisah. Hujan makin deras aku terus terjang sampai kegelapan tiada kelihatan kios dan dirinya kutinggalkan. Ketika menyendiri berhadapan dengan kesepian hanya bayang ragamu yang datang. Jiwaku melayang-layang bagaikan wayang yang bercanda gurau.

“Kau tahu apa yang kupikirkan?” bisikku pada sebatang ranting kayu tua.

Ia hanya dia membisu tanpa kata bahkan suaranya tak lagi terdengar.

“Aku hanya memikirkanmu bagaimana masa depanmu nanti. Saat hutan mulai jadi perumahan atau sawah-sawah menjadi mall bergedung tinggi. Apa itu bukan hal yang gawat buatmu untukku?”

Kayu tetap membisu dari suara-suara sumbang. Berdiri tegak bercabang dan daunnya terus berruntuhan jatuh kerelaanya di atas tanah yang penuh kotoran berbagai macam.

“Aku harus bagaimana memandang ini semua?

Angin-angin tak beraturan menjadikan daun-daun berjatuhan. Pagi yang sepi dedaunan mendadak basah. Barangkali karena mimpi-mimpinya terlalu berlebihan memberikan ereksinya. Maka matahari yang tertutup mendung pun jadi menyejukkan. Akhir tahun bulan terakhir yang pertama kembali ke alamnya.

Tanah dibaliknya itulah manusia ada dan akan meniadakannya pula. Apakah tidak pernah merenungkan itu? Bagaimana nanti setelah tiada hanya nama yang terkenang kenangan yang berlalu begitu saja ketika saat bisa bersama menyentuh tubuhnya atau berbicara bahkan memakinya.Hujan malam hari runtuh menghujam beribu kali dari langit. Bahkan tanah pun kalah menampungnya terjadilah kelongsoran yang menimpa mereka yang tertidur dalam angan-angan.Ketika burung-burung ketinggalan berita angin sungguh itu sangat mengharukan. Ia kebingungan ke arah mana harus berterbangan diri. Pasti sedang bersudut diri mempertanyakan apa dan mau kemana ini sekarang. Cinta itu ibarat sepatu walau berbeda bentuk namun saling menlengkapi. Jika diantaranya menghilang maka pasangannya pun tak ada artinya.

“Kalau kota sudah tidur giliran para pelacur ditiduri para penduit,” begitulah kehidupan malam di sudut kanan warung remang-remang berlampukan 5 watt.

Comments

SHARE
Previous articleBongkar Muat Kenangan di Pelabuhan Sheng Hie
Next articleEngkau Itu Semu
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Suhanggono, lahir 30 Juni dan tinggal di Purworejo, menulis adalah jalan kehidupan menuju keabadian. Kesenangan menulis dan membaca membawa ke dunia yang begitu luas dari bayangannya. Entah datar atau bulat ia hiraukan. FB/IG : Soehanggono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here