DASAMUKA MENJAWAKAN AMERIKA

0
295

Oleh: Sri Widowati Retno Pratiwi

REVIENSMEDIA.COM, SAN FRANCISCO – Lagi, satu karya putra bangsa menembus kancah internasional. Adalah novel berjudul Dasamuka karya Junaedi Setiyono, penulis kelahiran Kebumen berstatus warga Purworejo yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan resmi dilaunching pada 9 Juni 2017 di KJRI San Francisco, Amerika Serikat setelah versi asli bahasa Indonesianya diluncurkan tanggal 14 Mei lalu. Masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa patut berbangga akan hal tersebut. Tak lain karena novel fiksi berlatar belakang peristiwa sejarah ini banyak mendiskripsikan budaya lokal nusantara, yakni budaya Jawa. Dengan diterbitkannya novel Dasamuka versi Inggris oleh Dalang Publishing, penerbit yang berkedudukan di Amerika Serikat, maka jelas budaya Jawa akan segera mengemuka di negeri Paman Sam dan sekitarnya. Tanda-tandanya telah terlihat dari penyelenggaraan launching Dasamuka itu sendiri. Acara yang dihadiri oleh Lian Gouw selaku founder Dalang Publishing dan juga Ardi Hermawan, Konsul Jendral RI untuk Amerika Serikat tersebut menyajikan hidangan tradisional khas Jawa bagi para tamu yang datang. Beberapa waktu sebelumnya pun digelar acara syukuran menyambut terbitnya Dasamuka dengan nasi tumpeng sebagai menu utama.

Junaedi Setiyono yang sehari-hari mengajar bahasa Inggis di Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP) ini dalam pandangan rekan-rekan sejawatnya , seperti Pembantu Rektor IV UMP, Rofiq Nurhadi dikenal sebagai sosok novelis berkarakter unik. Dia itu contoh kacang yang tidak lupa pada kulitnya. Selaku dosen bahasa Inggris tentu Junaedi banyak mengkaji hal-hal yang terkait budaya barat atau budaya asing. Apalagi Junaedi sempat kuliah di Amerika Serikat untuk meraih gelar doktoralnya. Namun di setiap karya novelnya yang bersetting sejarah, Junaedi selalu mengedepankan atau memunculkan unsur budaya lokal masyarakat Jawa. Pria berkacamata kelahiran 16 Desember 1965 tersebut tegas berujar, ”Sebagai orang Jawa yang intelektual, saya harus dapat memberikan sumbangan bagi peradaban dunia dengan kejawaan saya melalui karya yang bisa saya lakukan.” Karena Junaedi konsisten mengangkat budaya Jawa dalam novel-novelnya, maka sangatlah wajar jika kemudian dirinya meraih banyak apresiasi dan penghargaan. Begitu muncul di jagat sastra dengan novel bertajuk Glonggong, Junaedi langsung menyabet gelar juara 4 dalam sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta(DKJ) tahun 2006 dan menjadi finalis Khatulistiwa Literary Award 2008. Setelah itu, Junaedi merilis novel Arum Dalu yang juga menjadi nominator Khatulistiwa Literary Award 2010. Sedangkan novel Dasamukanya sebelum dibukukan, meraih predikat Pemenang Unggulan sayembara menulis novel DKJ 2012.

Bila merunut riwayat masa lalu, maka mungkin tak terbayangkan bahwa kehidupan Junaidi Setiyono tiada seindah pelangi. Dia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orangtuanya bercerai ketika dirinya masih berusia 1 tahun .Kemudian dia ikut sang ibu yang hidup serba kekurangan dan berpindah-pindah, numpang dari satu rumah saudara ke rumah saudara lainnya. Meski demikian, itu tidak membuat Junaidi merasa minder atau pesimis untuk melangkah menggapai cita-cita masa depan yang cerah. Bahkan justru latar belakang pengalaman Junaidi yang tumbuh di keluarga broken home itu menjadi inspirasi yang turut mewarnai karya-karya novelnya.”Sejak 20 tahun silam saya membayangkan seandainya dalam kondisi keluarga yang morat-marit , saya punya kakak-kakak yang hidupnya berantakan pula. Kakak perempun yang terjerumus ke lembah hina pelacuran dan kakak laki-laki yang nakal luar biasa. Semua saya tuangkan pada novel pertama melalui tokoh utama bernama Glonggong. Sementara dalam novel kedua, saya ceritakan lebih spesifik tentang kakak perempuan Glonggong, yakni Danti atau Arum Dalu yang menjadi pelacur itu. Sedangkan novel ketiga, Dasamuka adalah kisah kakak laki-laki Glonggong yang berandalan”, tutur Junaedi panjang lebar.

Baca Juga  Pameran Hanafi “The Maritime Spice Road” di New York

Adapun novel Dasamuka yang bersetting waktu antara tahun 1811-1824 ini menuturkan kedatangan seorang mahasiswa Universitas Edinbrug , Skotlandia bernama Willem ke Jawa tepatnya ke wilayah kasultanan Ngayogyakarta . Ketika itu Inggris telah mengambil alih kekuasaan di tanah Jawa dari tangan Belanda. Tujuan kedatangan Willem tersebut adalah untuk melakukan penelitian tentang hukuman bronjong, yaitu cara menghukum narapidana dengan mengadunya dengan macan. Dia juga mendapat tugas dari Residen Ngayogyakarta guna mengamati cara hidup orang Jawa secara umum di masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IV. Namun kepergian Willem ke Jawa itu sesungguhnya lebih sebagai pelarian Willem dari kegagalan cintanya dengan Ailsa yang dinikahi oleh Jeremias, ayahnya sendiri. Nah selama berpetualang di wilayah kasultanan Ngayogyakarta ini, Willem tinggal di rumah pamannya, Harvey Thomson, pengusaha perkebunan yang memiliki anak perempuan bernama Daisy. Willem juga mengenal beberapa tokoh yang pro maupun kontra terhadap keraton Ngayogyakarta, terutama saat tampuk kekuasaan dipegang oleh Sultan Hamengkubuwono IV atau Sultan Jarot. Salah satunya Dasamuka, sosok laki-laki misterius yang bisa berperan baik sekaligus juga bisa berperan buruk. Di satu sisi Dasamuka adalah seorang punggawa kraton cerdas yang anti terhadap penjajahan, dan melibatkan Willem dalam perjuangan melawan kesewenang-wenangan penjajah Inggris, maupun Belanda dengan memberi bantuan terhadap gerakan bawah tanah pasukan Pangeran Diponegoro. Namun di sisi lain, Dasamuka seorang yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya.

Junaedi setiyono
Junaedi setiyono

Suatu ketika tokoh Pangeran Suryanata meminta Dasamuka mencari Rara Ireng, seorang putri India untuk dijadikan isteri yang kesekian kali. Ternyata Rara Ireng malah jatuh cinta kepada Dasamuka. Akhirnya Dasamuka menikahi Rara Ireng secara sederhana dibantu abdi kraton bernama Nyi Wersi. Namun kemudian Rara Ireng justru dijadikan pemuas nafsu Sultan Jarot atas permintaan Gusti Ratu Kencana, ibunda si sultan muda yang manja dan tak bermoral itu. Menjadi sebuah kesulitan tersendiri bagi Willem saat Dasamuka meminta bantuannya untuk melarikan Rara Ireng dari cengkraman Sultan Jarot secara diam-diam. Dasamuka yang kalap karena merasa harga dirinya telah terinjak-injak pun berniat membunuh Sultan Jarot. Tetapi Willem menolak terlibat rencana keji tersebut, sehingga Dasamuka beralih meminta bantuan kepada Den Wahyana, sang penerjemah bahasa. Mereka memasang bom rakitan di bawah kereta yang digunakan Sultan Jarot untuk pergi berpesiar ke Karang bolong. Tetapi rencana pembunuhan ini gagal. Sebelum bom meledak, Sultan Jarot mendadak sakit parah dan wafat di tenda peristirahatannya, sehingga kemudian dia dikenal dengan sebutan Sultan Seda Pesiar. Di akhir cerita, ketika Belanda berhasil mengambil alih lagi Jawa dari Inggris, Willem pun menemukan cinta kembali. Dia menikahi Daisy setelah sebelumnya sempat berurusan dengan Letnan Pieter yang hendak memperkosa Daisy. Lalu Willem bersama Daisy dan paman Havery Thomson pulang ke negerinya, Inggris karena kebijakan kraton Ngayogyakarta di bawah pengaruh kekuasaan Belanda yang melarang orang asing menyewa tanah untuk perkebunan.

Baca Juga  Seratus Lilin dan Seribu Doa dari Jepang untuk Indonesia

Bagi sastrawan dan guru besar Universitas Negeri Surabaya, Budi Darma, novel Dasamuka dianggap sukses dalam menggambarkan keruwetan kebudayaan orang Jawa menjelang perang Diponegoro atau perang Jawa(1825-1830). Melalui novel ini, para pembaca diarahkan untuk memahami perbedaan antara kebudayaan Jawa dengan kebudayaan Eropa ,baik dari sisi positif, maupun sisi negatifnya masing-masing. Sementara itu, sastrawan sekaligus sejarawan Purworejo, Sukoso DM menilai bahwa kualitas novel Dasamuka bisa disetarakan dengan novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Kedua novel tersebut sama-sama kuat dalam hal mengangkat aneka karakter tokoh-tokohnya dan khazanah flora-fauna alam pedesaan yang menjadi pernak-perniknya.

Meski tidak hadir dalam acara peluncuran novel Dasamuka versi Inggrisnya, Junaedi Setiyono telah memberi penjelasan terkait beberapa pertanyaan yang diajukan oleh pihak penerbit Dalang Publishing. Hal-hal yang menjadi pertanyaan ,antara lain alasan Junaedi yang memilih menulis novel fiksi sejarah. Junaedi menjawab,” Manusia secara keseluruhan, demi masa depan mereka, harus mempertimbangkan sejarah mereka sendiri untuk menjalani hidup mereka dengan sukses. Saya menulis fiksi sejarah karena saya ingin menyajikan keindahan bahasa dalam bentuk cerita dan pada saat bersamaan saya ingin mengajak pembaca cerita saya untuk menghargai apa yang terjadi pada nenek moyang mereka demi mempersiapkan masa depan mereka.”

Muncul pula pertanyaan mengenai 3 bagian apa saja dari cerita novel Dasamuka yang menjadi favorit Junaedi Setiyono sebagai kreatornya. Junaedi menyebut pertama, ketika Willem menyaksikan sendiri pelaksanaan hukuman bronjong, karena bagian itu menghubungkan Willem dengan Leiden dan tugas utamanya. Kedua, saat Willem mendengarkan cerita si Branjang tentang siapa sesungguhya sosok Dasamuka, baik Dasamuka yang ada dalam cerita klasik India atau cerita wayang, Ramayana, maupun Dasamuka yang merupakan pegawai bawahan dari Sultan Djarot. Dan ketiga, manakala Dasamuka berupaya membunuh Sultan Jarot atau Sultan Hamengkubuwono IV, bagian yang mengkaitkan kisah di dalam kitab suci Al Quran mengenai pembunuhan seorang anak manja dengan pembunuhan sultan muda manja.

Perlu diketahui bahwa perjalanan novel Dasamuka sehingga bisa sampai go internasional bukanlah perjalanan yang mulus dan tanpa aral melintang. Walau sudah menyandang label Pemenang Unggulan sayembara novel DKJ 2012 ternyata novel Dasamuka sempat ditolak oleh penerbit yang tadinya sigap menerbitkan kedua novel karya Junaedi Setiyono terdahulu. Alasannya karena pihak penerbit tersebut menilai novel Dasamuka adalah novel fiksi sejarah yang terlalu sulit dicerna oleh para pembaca. Tetapi berkat upaya gigih Junaedi, akhirnya ada penerbit Ombak, Yogyakarta dan Dalang Publishing, Amerika yang dengan sepenuh hati berkenan menerbitkannya.Junaedi Setiyono sendiri berharap setelah resmi launching, novel Dasamuka versi Inggris ini tidak hanya sekedar menempati rak-rak toko buku semata, melainkan juga memenuhi rak-rak perpustakaan universitas-universitas yang berada di seantero Amerika dan Kanada. Dia pun berharap agar di waktu-waktu mendatang, Dasamuka bisa diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa internasional lainya, seperti bahasa Spanyol dan bahasa Jerman. Semoga saja asa itu lekas terwujud, sehingga Dasamuka benar-benar dapat menjawakan dunia seutuhnya.

Comments

SHARE
Previous articleEngkau Itu Semu
Next articleNarkoba Menjadi Momok Bagi Generasi Muda Bangsa Indonesia
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here